Vale Indonesia, Terapkan Pembangunan Berkelanjutan, Ciptakan Kelestarian Lingkungan

Bayu Aji Suparam, Manajer Senior Komunikasi PT Vale Indonesia Tbk.
Bayu Aji Suparam (kiri), Manajer Senior Komunikasi PT Vale Indonesia Tbk.

Di industri pertambangan, PT Vale Indonesia Tbk. merupakan produsen nikel terintegrasi yang memiliki tambang dan pengolahan (smelter)di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Perusahaan ini menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte dan memasok 5% kebutuhan nikel global. Rata-rata volume produksi Vale mencapai 75 ribu metrik ton/tahun. Dalam memproduksi nikel di Blok Sorowako itu, Vale menggunakan teknologi pirometalurgi (meleburkan bijih nikel laterit). Seluruh produk nikel matte dijual ke pembeli di Jepang, yakni Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co.Ltd. dengan kontrak khusus jangka panjang.

Misi Vale, seperti disampaikan Bayu Aji Suparam, Manajer Senior Komunikasi Vale, adalah mengolah sumber daya alam untuk menjadi sumber kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan. “Aspek keberlanjutan dilaksanakan di semua lini operasional perusahaan,” tutur Bayu. Vale juga mengimplementasikan Sustainable Development Goals (SDGs) yang mempraktikkan kegiatan penambangan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan sosial. Untuk menyokong misi pembangunan berkelanjutan, manajemen Vale tak sungkan-sungkan mengucurkan investasi untuk membiayai program hijau.

Sebagai contoh, Vale sejak 40 tahun silam mengucurkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan pembangkit listrik tenaga air. “Investasi di tahap awal untuk mendukung program green company itu memang lebih mahal, seperti membiayai pembangunan PLTA. Tetapi, biaya invesasi ini sepadan hasilnya setelah pembangunan PLTA diselesaikan dan dioperasikan untuk memasok kebutuhan listrik perusahaan dan menghemat biaya energi,” Bayu menerangkan. PLTA milik Vale ini menyokong operasional perusahaan dalam memproduksi nikel.

PLTA itu dibangun setahap demi setahap. Vale membangun tiga unit PLTA di rentang tahun 1979-2011, yakni PLTA Larona berkapasitas 165 MW yang mula beroperasi di tahun 1979. Dua dekade kemudian, Vale mulai mengoperasikan PLTA Balambano (110 MW), dan mengoperasikan PLTA Karebbe (90 MW) sejak 2011. “Ketiga PLTA ini memasok listrik sebesar 365 MW dan memenuhi 38% konsumsi energi Vale,” katanya. Keberadaan PLTA ini mengurangi emisi karbon atau CO2 sebesar 500 ribu ton per tahun. Selain memasok listrik untuk kebutuhan internal, Vale, melalui PT PLN (Persero), menyalurkan listrik sebesar 10,7 MW untuk masyarakat.

Perihal penggunaan energi terbarukan, Vale memag getol menggunakan energi ramah lingkungan. Sejak tahun 2016, misalnya, Vale menggunakan biodiesel. Konsumsi total biodiesel (B20) perusahaan ini di tahun lalu sebanyak 79,1 juta liter. Vale menularkan budaya ramah lingkungan hidup ini ke masyarakat. Contohnya, mengadakan Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB). Program ini memberikan bimbingan teknis dan mengedukasi petani untuk menanam padi yang menggunakan pupuk organik. PSRLB membimbing 196 petani yang menggarap lahan pertanian seluas 83,9 hektare. Padi yang menggunakan pupuk organik ini mendapat pengakuan sebagai padi organik lantaran memperoleh sertifikasi sebagai produk organik.

Menurut Bayu, produktivitas petani meningkat berlipat ganda setelah menggunakan pupuk organik. “Pendapatan petani naik sekitar dua kali lipat karena harga padi organik lebih tinggi dibandingkan padi non-organik. Produktivitas petani pun meningkat per hektarenya,” ungkap Bayu.

Selain PSRLB, Vale menginisiasi program tanaman herbal untuk masyarakat. “Sebanyak 46 kader lulus uji kompetensi, 38 kader mendapat sertifikasi, dan 74 produk olahan herbal sudah kami launching ke pasar,” Bayu mengungkapkan. Ini merupakan hasil nyata Vale memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kegiatan pertanian yang ramah lingkungan. “Alokasi total dana untuk melaksanakan program sosial kami berkisar US$ 3 juta-4 juta per tahun. Tergantung implementasi program,” katanya.

Program CSR berbasis lingkungan itu beriringan dengan program Vale yang mengintegrasikan pembukaan lahan tambang dengan kegiatan reklamasi (pemulihan lahan) dan rehabilitasi (penanaman kembali). Untuk kebutuhan tersebut dibangun kebun bibit modern (nursery) seluas 2,5 ha dengan kapasitas produksi sebanyak 700 ribu bibit tanaman, termasuk tanaman asli setempat dan tanaman endemik setiap tahunnya. Kegiatan nursery dilaksanakan sejak tahun 2006.

Bayu menerangkan, total lahan reklamasi seluas 4.250 ha di lahan purna tambang, 4,62 juta batang pohon ditanam, 350-450 ha lahan dibuka setiap tahun dengan mempertahankan area terbuka sekitar 1.000 ha, merehabilitasi lahan pascatambang seluas 100 ha per tahun, serta menanam pohon eboni sebanyak 22,825 batang yang dimulai sejak tahun 2014 hingga tahun lalu.

Seluruh kegiatan tersebut rutin dilaksanakan Vale dari tahun ke tahun demi meningkatkan kualitas lingkungan hidup di areal pertambangan dan daerah lainnya. Pada 2018, misalnya, Vale menggandeng Indonesia Business Council for Sustainable Development untuk menyusun dan menerbitkan Dokumen Panduan Pengelolaan Biodiversiti Berkelanjutan.

Guna menjaga kelestarian lingkungan hidup, Vale berinisiatif melakukan terobosan mengolah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan dari kegiatan operasional. Perseroan mengalokasikan dana jutaan dolar AS untuk membangun lebih dari seratus kolam pengendapan limbah cair (pond). Fasiltas terbaru adalah fasilitas pengolahan air limbah berteknologi Lamella Gravity Settler (LGS) yang pertama kali digunakan di industri pertambangan Indonesia. “Biasanya LGS digunakan perusahaan pengeolaan air minum (PDAM). Penggunaan LGS mengurangi total suspended solid di air menjadi 100 ton dari sebelumnya 1.000 ton/tahun,” kata Bayu.

Yang terbaru, pada Mei 2019 Vale mengoperasikan mesin boiler berbahan bakar listrik (electric boiler) yang bebas emisi lantaran digerakkan oleh PLTA. “Electric boiler Vael adalah yang pertama kali digunakan di Asia Tenggara. Penggunaan mesin ini menghemat biaya US$ 5 juta/tahun,” ungkapnya. Kemudian, untuk emisi udara, Vale mengoperasikan Electrostatic Precipitator yang sistem kerjanya seperti listrik untuk menarik debu, juga Bag House untuk menampung debu supaya tidak ke udara.

Vale pun mengajak pegawai berpartisipasi aktif mengurangi penggunaan plastik untuk mengimplementasikan prinsip green company. “Seluruh karyawan diberi tumbler. Tiap ada acara internal tidak diperbolehkan ada botol plastik. Ini acara untuk memperluas gerakan ramah lingkungan,” tuturnya.

Pada 2018, Vale mencetak laba bersih US$ 64,36 juta. Raihan ini lebih baik dibandingkan tahun 2017 yang membukukan kerugian US$ 15,2 juta. (*)

Nisrina Salma & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)