Iman Rachman, Tak Kenal Kata Puas

Dalam agama, menuntut ilmu itu wajib. Bahkan, sampai maut memisahkan. Apalagi, ilmu yang terkait dengan bidang pekerjaan yang digeluti. Dengan kompetensi yang terus meningkat, pekerjaan menjadi lebih mudah ditunaikan. “Jangan pernah puas. Belajar dengan banyak cara,” kata Iman Rachman, Managing Director PT Mandiri Sekuritas.

Menurut peraih gelar Master di University of Leeds Business School ini, kerjasama dengan perusahaan sekuritas lain juga penting mengingat produk sekuritas bukanlah produk baru. Lewat kerjasama, transfer produk menjadi lebih mudah. Iman pun tak pernah malu menjadi bagian terkecil dari suatu transaksi demi sebuah pembelajaran. “Mulai transaksi baru dengan porsi kecil,” katanya.

Selulus dari Inggris di tahun 1998, alumni Universitas Padjajaran Jurusan Ekonomi ini memulai karier sebagai Manager d Danareksa Sekuritas sebelum bergabung menjadi Chief Investment Banking di Mandiri Sekuritas pada 2003. Beragam terobosan sukses dilakukannya bersama tim hingga dirinya ditunjuk menjadi Managing Director di anak perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk itu.

iman mandiri sekuritas

“Kami melakukan penjaminan emisi obligasi dan IPO saham, right issue, dan placement saham, seperti koordinasi dengan BUMN sekuritas dan kementerian BUMN untuk mengerjakan IPO BUMN bersama,” ujarnya.

Selain itu, perseroan juga meningkatkan transaksi placement baik parallel dengan right issue dimana saham hasilnya di place kepada investor, atau placement saham secara private placement maupun block sale. Selanjutnya, penerbitan surat utang dan structured products.

“Misalnya, perseroan menjadi arranger untuk penerbitan surat utang atau MTN baik konvensional maupun syariah. Saya juga punya pengalaman menjadi penasihat keuangan,” katanya.

Jasa sebagai penasihat keuangan (financial advisory) tak bisa dipandang sebelah mata. Sebanyak 30% pendapatan di Direktorat Investment Banking di Mandiri Sekuritas berasal dari kegiatan ini. Pendapatan ini lebih sustain di tengah kondisi pasar modal yang fluktuatif.

Saat kondisi pasar tengah bullish, kinerja keuangan perusahaan sekuritas cenderung meningkat. Lain halnya saat kondisi pasar sedang tidak bagus, pendapatan perusahaan bisa turun. Apalagi, tingkat persaingan semakin sengit.

“Pada tahun 2011, pendapatan perusahaan paling tinggi yaitu Rp 144 miliar. Namun, selanjutnya terus tergerus akibat persaingan. Walau perusahaan mempertahankan dominasi di penjaminan obligasi dan posisi 10 besar di penjaminan equity,” ujar dia.

Untuk itulah, lanjut dia, Mandiri Sekuritas juga harus semakin gencar menggarap pasar swasta dan tidak hanya fokus di BUMN. Perseroan juga harus ekspansi dengan melakukan transaksi pasar modal di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia terutama dengan dimulainya era perdagangan bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

“Caranya, dengan terus memperkuat kemampuan tim lewat pelatihan-pelatihan agar bisa mengeksekusi transaksi selain penjaminan emisi obligasi dan saham. Kami melakukan upgrading system, kerjasama dengan pihak luar,” katanya.

Iman memiliki cita-cita luhur bersama Mandiri Sekuritas, yakni membantu UKM. Dengan begitu, perseroan bisa memberi kontribusi besar untuk pembangunan. Dengan bertumbuhnya pasar modal, akan semakin banyak produk yang bisa dimanfaatkan untuk pengusaha besar maupun UKM. “Saya akan develop terus dan belajar dari negara tetangga,” katanya. (Reportase: Tiffany Diahnisa)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)