Implementasi GCG Grup Bank Mandiri Hasilkan Kinerja Jempolan

 

Direktur Risk Management & Compliance Bank Mandiri, Ahmad Siddik Badruddin.

Grup Bank Mandiri berusaha untuk mengimplementasikan good corporate governance (GCG) dengan baik. Tak hanya Bank Mandiri saja, tapi semua anak perusahaan didorong untuk meningkatkan pelaksanaan GCG seiring dengan perkembangan bisnis yang berubah secara cepat.

Hal ini sejalan dengan peraturan OJK No. 18/POJK.03/2014 tentang Penerapan Tata Kelola Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan di Indonesia. Pertauran tersebut mengharuskan perusahaan keuangan yang memiliki anak usaha untuk menjalankan GCG secara terintegrasi. Di tahun 2017, sembilan perusahaan yang tergabung dalam Grup Mandiri mengikuti GCG assasment oleh lembaga independen, yaitu The Indonesia Institute fo Corporate Governance (IICG) yang bekerja sama dengan majalah SWA. Mereka di antaranya adalah Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Mandiri Taspen Pos (Bank Mantap), PT AXA Mandiri Financial Services, PT Mandiri AXA General Insurance, PT Mandiri Sekuritas, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT Mandiri Tunas Finance, dan PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia.

Sesuai dengan tema “Manajemen Perubahan dalam Kerangka Good Corporate Governance,” perubahan menjadi indikator perusahaan dalam menjalankan manajemen yang berlandaskan pada prinsip GCG. Bagi Bank Mandiri, perubahan bukanlah hal baru. Bank yang merupakan hasil merger empat bank pelat merah ini berhasil bangkit dari hantaman krisis moneter 1998. Perubahan yang dlakukan berlanjut hingga sekarang. Upaya ini membuktikan respons atas dinamika bisnis yang dilewatinya.

Direktur Risk Management & Compliance Bank Mandiri, Ahmad Siddik Badruddin, menjelaskan, transformasi bisnis dilakukan Bank Mandiri sejak 2005 melalui beberapa tahapan. “Tahap 1 yaitu menjadi the dominant multispecialist di tahun 2005 hingga 2009. Kedua, menjadi Indonesia’s most admirer and progressive financial institution. Lalu, tahun 2015-2018 yaitu menjalankan corporate plan untuk menjadi Indonesia’s best ASEAN’s prominet in 2020,” jelasnya.

CEO Bank Mandiri, Kartika Wiroatmodjo.

Ahmad Siddik menegaskan pentingnya Bank Mandiri memiliki guiding principles yang baku di mana karyawan harus dapat mematuhi peraturan tersebuut. “Ini akan menjadi arsitektur kebijakan Bank Mandiri, dalam bentuk segitiga. Paling atas adalah Mandiri Group Principles Guidelines, ke bawahnya adalah kebijakan disusul deng Standard Procedure/Memorandum Prosedur kemudian diterjemahkan sampai ke petunjuk teknis,” ujarnya.

Menurut CEO Bank Mandiri, Kartika Wiroatmodjo, bank BUMN ini menjalankan transformasinya dengan tiga struktur untuk memastikan prosesnya menyeluruh dan terdapat check and balance. "Terdapat unit Pengelolaan Implementasi yang bertugas menyusun dan menyelaraskan strategi untuk perubahan dalam rangka implementasi Corporate Plan (Corplan). Unit Corporate Transformation yang melakukan fungsi project management office dan control tower menerapkan inisiatif strategis.

Baginya, peran Human Capital Engagement juga berguna untuk menyiapkan SDM dan membangun budaya kerja unggul sebagai dukungan implementasi strategis Bank Mandiri. Beberapa unit lainnya yang memiliki peran penting, seperti Office of Chief Economist, Risk Management & Compliance, IT Strategy & Architecture, Corporate Secretary, dan Investor Relations. “Guna memastikan pelaksanaan rencana kerja yang telah disusun, perlu dilakukan monitoring dan review berkala. Kemudian dilakukan restart corporate plan yang dibahas dan disetujui dalam rapat direksi,” papar Kartika.

 

Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Tony Eko Boy Subari.

Hal serupa juga dijalankan oleh anak usahanya, Bank Syariah Mandiri (BSM). Tahun 2016 adalah tahun trnsformasi budaya BSM. Menurut Tony Eko Boy Subari, Dirut BSM, penguatan transformasi budaya ini merupakan bagian dari Corplan 2016-20. Transformasi ini memberikan dampak baik dan energi baru pada setiap karyawan. “Spirit PAS (Percaya diri, Antusias, dan Semangat) mampu menciptakan suasana, antusias, dan daya juang karyawan BSM,” tambahnya.

Tahun 2016 menjadi tahun konsolidasi BSM. Tony menjelaskan, sejak 2014 sebenarnya BSM menghadapi tantangan baik dari sisi internal maupun eksternal. “Sisi internal yaitu perbaikan portofolio pembiayaan, pertumbuhan pembiayaan, infrastruktur bank, kualitas & kuantitas SDM, penyempurnaan proses bisnis, dan kontrol internal untuk menciptakan zero fraud,” jelasnya. Sedangkan sisi eksternal, kondisi makroekonomi yang cenderung belum membaik juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Selain trnasformasi budaya, Corplan BSM juga menjalankan transformasi bisnis dan organisasi. Pengembangan bisnis BSM tahun 2016-20 fokus pada segmen ritel dan cash management. Targetnya, tahun 2020 BSM mampu membukukan laba bersih Rp3,1 triliun, non performing financing (NPF) 3%, pertumbuhan aset menjadi Rp200 triliun, pembiayaan Rp142 triliun, dan Dana Pihak Ketiga mencapai Rp156 triliun.

Sementara dalam transformasi organisasi, dilakukan penataan ualang pembagian fungsi antara kantor pusat, wilayah, dan cabang serta penataan ulang pembagian unit bisnis risk & operation. “Semua itu dilakukan untuk mewujudkan visi BSM sebagai Bank Syariah Terdepan dan Modern,” tegas Tony.

 

Direksi Bank Mandiri Taspen Pos (Mantap).

Sektor perbankan satu lagi dari Grup Mandiri dalah Bank Mantap. Mereka telah membuat strategi bisnis jangka panjang 2016-2021 yang diharapkan mampu meningkat dari Buku I menjadi Buku III. Indikasinya, di tahun 2017 total aset ditargetkan mencapai Rp42,8 triliun, modal inti meningkat dari Rp700 miliar di tahun 2016 menjadi Rp5,2 triliun di tahun 2021. Fokus bisnis dengan 80% portofolio  kredit pensiunaan berusaha dicapai dan 20% portofolio kredit ritel dan mikro di akhir 2021 untuk menjadi The Best Pension Business Bank in Indonesia.

Direktur Utama Bank Mantap, Josephus K. Triprakoso, menjelaskan, ada empat tahap transformasi implementasi strategi bisnis mereka. Tahap pertama (2016-2017) yaitu memasarkan kredit pensiunan dengan low cost network expansion. Tahap kedua (2018-2019), melakukan intensifikasi pasar pensiunan dan pengembangan mikro & ritel. Tahap ketiga (2020), menguasai pasar kredit pensiuanan dan fokus pada peningkatan customer loyalty serta pengembangan kredit produktif. Tahap keempat (2021) adalah menjadi bank pensiunan terbesar di Indonesia.

Pada dasarnya Bank Mantap adalah bank yang 100% menyasar nasabah mikro dan dengan adanya perubahan kepemilikan, fokus utamanya kini menyasar pensiuanan tanpa meninggalkan nasabah mikro. “Komposisi berubah, secara signifikan terjadi perubahan komposisi peruntukan kredit. Tahun 2015, kredit mikro dan ritel masih mendominasi hingga 88%, tetapi menurun menjadi 50% di tahun 2016, dan menurun lagi menjadi 30% per September 2017,” jelasnya.

Ketiga usaha perbankan dari Grup Mandiri ini berusaha survive mengikuti perkembangan zaman dengan lebih meningkatkan pelaksanaan GCG. Upaya ini dilakukan untuk bisa beradaptasi dengan dinamika bisnis yang terjadi. Berdasarkan penilaian IICG dan SWA, dua dari usaha perbankan Grup Mandiri, Bank Mandiri (induk) dan BSM meraih predikat “Sangat Terpercaya”, sedangkan Bank Mantap berpredikat “Terpercaya.”

 

Reportase: Tiffany Diahnisa, Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!