Keramahan Molindo dalam Praktik Hijau Perusahaan

Presiden Direktur PT Molindo Raya Industrial (MRI), Arief Goenadibrata (kanan).

Bergerak dalam industri kimia yang memproduksi ethanol (alkohol) terbesar di Indonesia, nama PT Molindo Raya Industrial (MRI/Molindo) tidak asing lagi. Perusahaan asal Malang ini menguasai 53% pangsa pasar domestik dan tahun lalu berhasil memasarkan 77 juta liter ethanol dari total kapasitas 80 juta liter per tahun miliknya.

Kesuksesan kinerja perusahaan dari sisi bisnis dibarengi dengan praktik green business yang diterapkan Molindo. Alhasil, juri memberikan peringkat 2 pada seleksi Indonesia Green Company (IGC) 2018. Semuanya diraih MRI dengan menerapkan visi green business dari hulu perusahaaan. Menurut Presiden Direktur PT Molindo Raya Industrial (MRI), Arief Goenadibrata, sejak awal berdiri, pendiri dan pengelola perusahaan sangat peduli akan lingkungan. “Bahkan, bisnis Molindo sendiri adalah pengolahan limbah,” ungkapnya.

Telah beroperasi 52 tahun dan komitmennya untuk menjadi ‘Green Manufacturing’ dan ‘Green Industry’ ingin diwujudkan sepenuhnya berdampingan dan ramah lingkungan. Molindo mengolah limbah cair dari  pabrik gula serupa molasses atau tetes tebu menjadi ethanol. Bahan baku tersebut dibeli dari sejumlah pabrik gula di Kabupaten Malang.

Komitmennya pada lingkungan diharapkan layak bersanding dengan sektor pariwisata Kabupaten Malang dan sekitarnya, tempat perusahaan ini berdiri. Dua konsep diterapkan, yaitu ‘Overall Process Efficiency’ dan ‘Overall Zero Discharge,’ yang terbagi dalam enam strategi utama. “Keenamnya adalah meningkatkan kapasitas produksi ethanol secara konsisten, meningkatkan efisiensi pemakaian material & energi, meningkatkan kapasitas produksi, menurunkan konsumsi material, menaikan yield proses fermentasi, dan menurunkan pemakaian air atau sirkulasinya,” jelas Arief.

Dari sisi proses produksi, Molindo melakukan banyak inisiatif untuk mencapai efisiensi dan mengurangi pencemaran lingkungan. Salah satunya, percepatan waktu fermentasi dalam proses produksi. Awalnya, waktu fermentasi membutuhkan 30-34 jam, sekarang dalam track menuju 23-25 jam saja. “Molindo menggunakan antifoam yang optimal agar tidak terjadi busa selama proses fermentasi sehingga gas karbondioksida hasil fermentasi bida dikeluarkan dengan lancar,” jelasnya.

Secara konsisten yield fermentasi dapat ditingkatkan dari 75% menuju 80-85%., bahkan terus berlanjut ke Arah 87-90%. Melalui konsep overall zero discharge, perusahaaan berusaha tidak menimbulkan sesuatu, baik itu cairan, padat, maupun gas, yang keluar dari kegiatan industri yang berpotensi mencemari lingkungan dan alam sekitar. Kenyataannya, Molindo tidak lagi menciptakan limbah terbuang karna limbah langsung dibakar untuk menjadi abu yang kemudian dipakai menjadi pupuk.

Dalam hal pengelolaan limbah menjadi pupuk, Molindo sangat serius dengan membuat green house seluas 3 hektar sebagai lahan pengeringan limbah secara natural yang nantinya dicampur dengan bahan-bahan lain untuk dijadikan pupuk organik. “Kami kerja sama dengan Petrokimia yang menyalurkan pupuk kami ke petani tebu. Seperti itu siklusnya,” katanya. Tak hanya itu, limbah yang dapat digunakan sebagai pakan ternak sedang di uji coba di beberapa desa binaan di Salatiga, Jawa Tengah.

Limbah finase juga digunakan Molindo untuk menghasilkan energi alternatif pada unit Finase Boiler. Boiler yang menggunakan bahan bakar limbah tersebut sebagai pengganti batu bara, sehingga pemakaian batubara dapat diturunkan. “caranya, limbah finase diuapkan dan dibakar untuk menghasilkan listrik, dan uap airnya dapat disirkulasi balik ke proses produksi. Lalu abu sisa pembakaran diolah menjadi pupuk kalium siliki,” jelasnya.

Upaya ini menjadikan tidak adanya limbah finase yang dibuang ke sungai. Molindo berusaha untuk meniadakan konsumsi batubara. Dengan adanya finase boiler, berhasil menurunkan konsumsi batubara sebesar 70% dari konsumsi saat ini, dari 41,468 MT per tahun menjadi 12,440 MT per tahun. Selain itu, Molindo juga bekerja sama dengan beberapa universitas untuk meneliti dan membuat bagaimana caranya limbah-limbah yang masih dihasilkan lebih bermanfaat.

“Mengelola lingkungan ini sesuatu yang menantang. Kami harus teliti dan berkomitmen. Kami melakukan investasi ratusan miliar hanya untuk mengelola limbah,” katanya. Hasil yang didapatkan begitu nyata, sejak 2008 konsumsi bahan baku utama molasses di Malindo semakin turun. Tren menurunnya rasio molasses terhadap produk ethanol ini juga mewakili efisiensi yang semakin meningkat sehingga untuk setiap ton molasses dihasilkan ethanol yang lebih banyak.

Hal ini sejalan dengan tren pemakaian air serta listrik yang juga kian menurun dari tahun ke tahun. Implementasi green company Molindo ini dikendalikan langsung oleh Presdirnya. “Kami terus melakukan monitoring efisiensi proses serta melanjutkan pengembangan teknologi baru untuk lebih meningkatkan efisiensi proses,” ujarnya.

Reportase: Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)