Komitmen Hijau PP Kuatkan Branding di Tengah Kompetisi

Green Officer PT Pembangunan Perumahan  (Persero) Tbk., Tirta Mazli (kanan) berama tim.

Saat ini, konsep green company telah menjadi kebutuhan bagi  setiap perusahaan, termasuk PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. atau PP.

PP menyadari bahwa mewujudkan perusahaan kontruksi hijau bukan hal mudah. Usaha ini harus dimulai dari akarnya. Menurut Green Officer PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., Tirta Mazli, mengutip Rhenald Kasali, DNA perusahaan sebagai fondasi harus sudah hijau terlebih dahulu. “Makanya, konsep perushaan hijau kami tuangkan dalam visi perushaan, yaitu menjadi perushaan konstruksi dan investasi terbesar yang berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara,” ungkapnya.

Tujuh pilar bisnis yang dijalankan PP,  yakni konstruksi, properti, infrastruktur, peralatan, pracetak, EPC, dan energi. Berdasarkan prinsip suistanable company, PP berupaya melakukan program dan sasaran green dalam menjalankan pilar tersebut, yakni Green Marketing, Green Construction, Green Building, Green PP’s Property, Green Knowledge, Green Networking, dan Green CSR. “Semua program inilah yang dilakuakn dalam keseharian kami dan sudah menjadi mandatory dalam kegiatan kami,’ tambahnya.

Green Marketing bertujuan meningkatkan daya saing melalui implementasi Green Construction dan Green Building sebagai langkah branding perushaan yang peduli lingkungan hidup. Lalu, Green Construction, PP memiliki target yang harus dipenuhi dalam menjalankan roda bisnisnya di konstruksi sembari meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Ada 6 aspek, yaitu energy efficiency, site development, minimize construction waste, resource efficiency, water efficiency, dan minimize construction pollution.

Green Building mewujudkan bangunan dengan desain yang dirancang untuk meminimalkan penggunaan energi dalam bangunan, seperti penggunaan energi penerangan, udara, dan air. Sedangkan Green PP’s Property berguna untuk menerapkan Green Building pada properti PP dan Green Knowledge sebagai edukasi stakeholder untuk menggerakan green program di Indonesia.

Green Networking juga diinisiasi PP untuk menjalin kerja sama dengan instansi, akademisi, dan semua pihak untuk bersama mengembangkan green building di Indonesia. Terakhir, Green CSR, yaitu kegiatan yang dilakukan sebagai tanggung jawab sosial perushaan terhadap masyarakat sekitarnya. “Dibutuhkan konsep strategi dan inovasi hijau untuk mencapainya. Memang banyak tangtangan, namun PP telah menjalankannya. Taretnya telah ditetapkan,” ungkapnya.

Contohnya, Green Construction, membuat perencanaan dan pengelolaan proyek konstruksi yang dapat meminimalkan pengaruh proses konstruksi terhadap lingkungan yang memenuhi unsur 3R—reduce, reuse, recycle—sehingga tercipta pelaksanaan konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya, dan rendah biaya.

PP telah melakukan upaya menjalankan green company dengan waste management yang terbagi menjadi liquid waste dan solid waste. Pada liquid waste, PP mengelola limbah dengan dengan melakukan treatment terlebih dahulu sebelum dibuang ke drainase. Untuk solid waste, dilakukan pemilahan ke dalam tiga jenis limbah yaitu organic, non-organic, dan B3. Solid waste lainnya seperti sisa beton diolah menjadi barang yang bisa dipakai lagi.

Selain itu, Green Material juga menjadi prioritas PP. “PP sering menggunakan material bambu untuk bahan konstruksi sebagai solusi yang efektif, hemat biaya, dan ramah lingkungan mengingat bambu adalah renewable material yang regenerasinya cepat,” jelasnya. Selain itu, pemanfaatan material precast dengan beckisting logam yang bisa digunakan berulang dengan hasil dan kualitas yang baik serta minim sampah di lapangan.

Environmental Control guna mengontrol emisi, getaran, dan kualitas air. PP melakukan ini secara rutin selaku pemantauan terhadap aspek-aspek lingkungan yang ada yang ditimbulkan oleh aktivitas projek. Konsep Green Keet juga menjadi perhatian dengan adanya penghijauan di sekitar keet area. Hal ini berdampak adanya pencahayaan alami sehingga memperbanyak bukaan, menghemat energi dari pencahayaan lampu. Selainitu terdapat biopori dan sumur resapan air.

Salah satu proyek PP juga terdapat alat penangkap kabut untuk kemudian mengubahnya menjadi air bersih guna menyiram tanaman. “Kami menerapkan teknologi lingkungan yang tepat guna,” ujar Tirta. Program Green CSR yang dicanangkan PP berkaitan langsung dengan masyarakat sekitarnya. PP telah membangun dua properti yang berpredikat sebagai green apartment pertama di Indonesia, yaitu Grand Kamala Lagoon (GKL) dan Grand Sungkono Lagoon (GSL).

Apartemen GSL behasil melakukan penghematan energi sebesar 18,96%, penghematan airnya 30,99%. Sedangkan apartemen GKL penghematan energinya 22,94% dan penghematan air 29,60%. “Green property kami yang akan disertifikasi berikutnya yaitu GSL tahap II, GKL tahap II, Grand Dharmahusada Lagoon, Grand Shamaya, Amartha View, Apartemen Alton, dan Apartemen Evencio,” tambahnya.

Langkah PP sebagai perushaaan hijau telah dilakukan sejak 10 tahun lalu. Setelah memperoleh ISO 140001 di tahun 2008, PP mendeklarasikan sebagai green construction. Sejak itu, PP melakukan sosialisasi  dan menjadikan green construction target yang wajib dipenuhi dalam setiap aktivitas proyek. Komitmen hijaunya akan menguatkan proses branding dan menjadi daya saing di tengah kompetisi.

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)