Strategi ACC Menggodok Calon Pemimpin

ACC Matilda Esther (paling kanan), Kepala Divisi Human Capital ACC

Keberlanjutan bisnis sebuah perusahaan tak bisa dipungkiri adalah buah dari kepemimpinan yang berkualitas. Karena itu, Astra Credit Companies (ACC) yang merupakan salah satu lini bisnis PT Astra International Tbk., itu pun berupaya sangat keras untuk bisa melahirkan kader pemimpin mumpuni dari dalam perusahaan demi memenuhi target pertumbuhan perusahaan ke depan.

ACC yang kini dipimpin oleh CEO Jodjana Jody itu sendiri merupakan perusahaan pembiayaan kendaraan yang terus mencetak kinerja cemerlang saban tahun. Tercatat, perusahaan yang bernaung di bawah PT Astra Sedaya Finance itu sepanjang tahun 2016 silam membukukan pembiayaan sebesar Rp 27,5 triliun dengan laba bersih mencapai Rp 1,06 triliun. Tentu tak bisa dimungkiri bahwa kedigjayaan ACC dalam mencetak kinerja adalah berkat kepiawaian para pemimpinnya dalam menahkodai bisnis.

Hal tersebut pun nampak dalam pemaparan Matilda Esther, Human Capital Division Head di hadapan dewan juri Creating Leaders from Within 2017. Dalam presentasi yang mengantarkan ACC merebut posisi empat besar tersebut, Matilda memaparkan strategi besar human capital 2016-2018 perusahaannya yang bertemakan Internalisasi Budaya Perusahaan dan Memastikan Kesiapan Sumber Daya Manusia dan Pemimpinnya.

Strategi tersebut lantas dijabarkan ke dalam sejumlah program, antara lain, keberlanjutan pengembangan pemimpin ACC dan peningkatan sistem manajemen talenta. Di dalam program ini mencakup aktivitas rekrutmen dan program pengembangan karyawan yang terdiri dari pengembangan mentoring, pool trainer dan pola rekrutmen yang kreatif.

Di sisi lain, ACC juga berupaya meningkatkan engagement karyawan melalui berbagai program seperti pengembangan acara-acara perayaan seperti HUT RI, HUT Astra, HUT ACC, perayaan keagamaan dan sebagainya. Terdapat juga aktivitas pendidikan seperti beasiswa Kartini dan program ikatan karyawan seperti acara family day. Adapun terkait program pengembangan pemimpin yang lebih spesifik, ACC memiliki program LDP, yakni Leaders Development Program. LDP sendiri dibagi ke dalam dua program besar, yakni untuk merekrut dari eksternal dan internal perusahaan.

Dalam perekrutan para calon pemimpin dari pihak eksternal yang berasal dari kalangan lulusan baru, ACC pun membaginya ke dalam dua program, yakni ACC Management Trainee Program (AMTP) selama 9 bulan untuk mengisi posisi kepala divisi. Kedua, program Junior Leadership Development Program (JLDP) selama 5 bulan yang ditujukan untuk mengisi posisi koordinator.

Sementara itu, program untuk pihak internal yang para kandidatnya berasal dari hasil penilaian internal terdiri dari program enhancement reguler selama 9 bulan dan Enhancement Managerial (EM) selama 4 bulan. Adapun untuk lini koordinator terdapat program ACC Firstline Management Program (AFLMP) selama 4 bulan. “Jadi mereka yang ada di front liner punya kesempatan untuk berkembang. Ada first line, yaitu officer jadi koordinator dan koordinator yang jadi head,” Matilda menerangkan.

Melalui program ini para pesertanya digodok dengan nilai-nilai dasar kepemimpinan dan pembangunan karakter yang selaras dengan nilai-nilai ACC. Matilda menjelaskan program pengembangan kepemimpinan melalui jalur internal dan eksternal dibangun dengan tujuan standardisasi kemampuan manajerial. “Jadi harapannya level manajerialnya baik yang dari rekrutmen luar maupun dalam sama. Jadi siapapun yang jadi koordinator dan head semua standarnya sama, harus punya soft skill dan technical skill yang setara,” tutur Matilda.

Program kepempimpinan dalam ACC sendiri telah berlangsung jauh ke belakang, tepatnya sejak tahun 1989. Karena itu, tak heran alumnus program AMTP telah mencapai 251 angkatan. Sementara program EM yang dimulai tahun 2006 mencapai 17 angkatan. Program AFLMP yang digelar sejak 2010 mencapai 26 angkatan, dan terbaru program JLDP yang dimulai pada 2014 telah melahirkan 14 angkatan.

Hasilnya pun terlihat jelas saat ini. Matilda menerangkan kini 100% pemimpin cabang ACC berasal dari internal perusahaan. Sementara 36 dari 38 manajer atau 95% berasal dari internal. Adapun di posisi manajemen puncak, 75% atau 12 dari 16 orang berasal dari internal. Sementara di jajaran direksi 30% atau 2 dari 6 orang berasal dari pihak internal. “Rencana kami ke depan akan banyak konten digital, kalau sekarang banyak manual paper based. Sekarang mereka mesti mapping sharing knowledge, kalau tidak difasilitasi nanti jadi kendala. Jadi kami mencoba memfasilitasi secara total, sesuai dengan tema, membangun digital ecosystem,”papar Matilda.

Reportase: Akbar Kemas/Riset : Elsi Anismar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)