Penerapan GCG pada Bukit Asam Guna Capai The Great PTBA

CFO PT Bukit Asam (Persero) Tbk., Orias Petrus Moedak.

Bernama awal Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA), di tahun 1981 berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA). Usahanya untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia dengan senantiasa mempertimbangkan kepeduliannya akan lingkungan diwujudkan dalam pengelolaan sumber daya alam. PTBA berusaha mengelola sumber energi dengan mengembangkan kompetensi dan keunggulan SDM-nya untuk memberikan nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan lingkungan.

Penerapan GCG yang PTBA lakukan yaitu dengan melakukan perubahan untuk menuju The Great PTBA. Perubahan yang dilakukan dengan membagi menjadi dalam empat outline yaitu introduction, tata kelola, struktur perubahan, dan program perusahaan. Menurut CFO PT Bukit Asam (Persero) Tbk., Orias Petrus Moedak, PTBA memiliki 8,27 miliar ton sumber daya batu bara dan 3,33 miliar ton cadangan. “Dari 8,27 billion tons hanya 2,7% batu bara yang memiliki kualitas tinggi,” ungkapnya.

Pencapaian visi PTBA adalah mencapai PTBA Emas di 2019 dan mencapai PTBA Platinum di 2025, lalu menjadi The Great PTBA. Dalam mengelola perubahan tersebut, PTBA juga menerapkan 3P (Profit People Planet) dimana perusahaan tidak hanya mengejar profit tapi juga memperhatikan lingkungan dan masyarakat. “Di dalam 3P kami melakukan prinsip tata kelola yang baik dengan menerapkan sistem Good Mining Practice (GMP) dan sistem manajemen Bukit Asam yang terintegrasi.

Aspek GCG dari sisi responsibility dipenuhi dan aspek fairness juga diterapkan. Keputusan ini menjadikan seimbang pada bisnis PTBA berkelanjutan saat semua aspek terpenuhi. Dari sisi tata kelola, PTBA menyusun pedoman pengendalian gratifikasi dan revisi piagam charter SPI (Satuan Pengawasan Intern) dan melakukan internal control secara rutin, penyusunan pedoman pengelolaan SDM, revisi pedoman pengadaan barang dan jasa.

Penyusunan soft structure GCG perusahaan dan penerapan whistleblowing system (WBS) juga menjadi perhatian PTBA. Assessment GCG secara rutin juga dilakukan sesuai ketentuan. Dari segi struktur dan infrastruktur telah diimplementasikan semua dan melakukan proyek-proyek pengembangan usaha. “Dari sistem keselamatan pertambangan, kami telah melakukan self assessment melalui penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pertambangan (SMKP) dengan hasil penilaian adalah 809,1 atau sebesar 81%,” ungkap Orias.

Terkait IT governance, PTBA masih menggunakan rencana strategis IT tahun 2012-2017. Perubahan di tahun 2018 akan dipersiapkan penawaran pengadaan jasa konsultan penyusunan kebijakan & rencana strategis IT 2018-2021. Salah satunya, melakukan upgrade enterprise resource plan (ellipse) sehingga proses integrasi data keuangan, SDM, logistik, dan sebagainya agar lebih efisien. “Upgrade SCMS modul mine market untuk tingkatkan optimasi dan integrasi data perencanaan produk batu bara sampai dengan invoice. PTBA juga membangun dan mengimplementasikan sistem activity based costing sehingga biaya HPP untuk lokasi tambang lebih akurat,” jelasnya,

Inovasi dilakukan PTBA dengan mengubah peralatan tambang menjadi sistem peralatan tambang berbasis listrik. Keputusan ini berhasil menghemat energi dari konsumsi BBM (solar) dan oli sebesar Rp73,31 miliar. Selain itu, dari sisi konversi energi, PLTU yang di bangun telah berbasis waste coal dengan menggunakan teknologi CFB (Circulating Fludized Bed).

 

Reportase: Yosa Maulana
www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)