Revitalisasi Bisnis JASINDO Lewat GCG 

PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau JASINDO berusaha menjadi perusahaan asuransi dengan pelayanan prima yang dimiliki oleh negara. Keberadaannya merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia.

Seperti kita ketahui, cikal bakal perusahaan asuransi ini merupakan hasil merger antara PT Asuransi Bendasraya dan PT Umum Internasional Underwriters (UIU) di tahun 1973 sebagai BUMN yang bergerak di bidang usaha Asuransi Umum. Konsep manajemen perubahan yang diusung merupakan pendekatan yang terstruktur untuk transisi individu dan organisasi dari kondisi sekarang ke kondisi masa depan yang diinginkan.

Perubahan ini dilatarbelakangi dengan adanya trigger digitalisasi dan teknologi yang terus berkembang. Munculnya persaingan yang semakin ketat, JASINDO dituntut untuk meningkatkan pelayanan pelanggan, captive market, dan menciptakan nilai tambah bagi stakeholders. Menurut Direktur Utama JASINDO, Solihah, grand strategy perusahaan (RJPP 2014-2017) adalah peningkatan produktivitas yang berkelanjutan melalui peningkatan portofolio bisnis di semua segmen.

Solihah menjelaskan, pihaknya  berusaha untuk meningkatkan pelayanan prima melalui peningkatan terhadap kebutuhan nasabahnya, penyesuaian organisasi, sistem dan teknologi. “Perbaikan posisi bersaing dilakukan dengan upaya peningkatan market share, penerapan adequate & competitive pricing, pelayanan yang lebih kompetitif pada pelanggan,” ujarnya. Untuk strategi pengembangan bisnisnya melalui proyek pemerintah di bidang maritim, infrastruktur, UMKM, pertanian, oil & gas, dan asuransi harta benda.

Pada tahun 2016 realisasi untuk mengembangkan teknologi informasi dilakukan JASINDO. Pengembangan ini dilakukan pada 4 area yaitu aplikasi, infrastruktur, tata kelola, dan sistem informasi. Terkait dengan pengelolaan SDM, penting bagi perusahaan dalam manajemen perubahannya. “Peningkatan SDM dilakukan melalui peningakatan kualifikasi, kesejahteraan, dan pengembangan organisasi sesuai tantangan yang dihadapi,” ungkapnya. Juga, membentuk divisi baru yaitu divisi Agri dan Mikro karena ingin masuk untuk membangun asuransi yang mengelola bidang pertanian.

Menurut Solihah, ada tiga aspek penting yang mendukung perusahaan, antara lain internal control, risk management, dan compliance. Untuk risk management pelaksanaannya terkait dengan Environmental Resources Management (ERM) untuk memetakan risiko. Fokus pengembangan sistem ERM mengarah pada penerapan manajemen risiko yang dikeluarkan OJK tahun 2016.

Revitalisasi kultur perusahaan juga diciptakan menjadi budaya RAISE (Resourceful, Agility, Integrity, Synergy, Excellent Service) yang bertujuan untuk mendorong SDM yang bergerak memberi nilai tambah bagi perusahaan. Evaluasi sebagai perbaikan dan peningkatan terkait dengan ISO dilakukan dengan smengacu pada perusahaan lain, rapat tinjauan manajemen, assessment GCG, dan pemeringkatan.

“Pencapaian dari penerapan GCG adalah kami ingin memperoleh trust dari stakeholder yang terimplementasi dari loyalitas pelanggan. Di tahun 2017 industri asuransi memang tidak terlalu mudah, tetapi kami masih tetap tumbuh,” jelasnya. Hasil perubahan terhadap tingkat kepuasan dan keterikatan karyawan di tahun 2015-2016 cukup tinggi. Turnover di tahun 2016 hanya mencapai 0,6%.

Untuk pencapaian keuangan, premi bruto pada tahun 2016 sekitar Rp5,20 triliun dan laba sebelum pajak tahun 2016 sebesar Rp475,20 miliar. Secara keseluruhan, seluruh BUMN asuransi hanya menguasai market share 17% dan JASINDO sebesar 8%. “Masih ada potensi yang besar untuk berkembang karena penetrasi masih bisa diperdalam lagi,” harapnya.

Spin off unit usaha Takaful menjadi Asuransi Jasindo Syariah juga mualai dikembangkan. Hasilnya, internalisasi terhadap pilot project sosialisasi budaya di kantor pusat dan cabang menunjukkan hasil baik dengan 4 tahap proses pembudayaan, yaitu Knowing 74,25%, Understanding 52,04%, Buy In 92,63%, dan Ownership 85,36.

Penerapan GCG digerakan dari Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) bahwa masing-masing perusahaan seharusnya memiliki pedoman GCG. Hal ini trigger bagi JASINDO  bahwa sebuah perusahaan harus berjalan sesuai prinsip tersebut, transparan, akuntabilitas, dan lain-lain. “GCG membangun kepercayaan kami untuk menciptakan operasional perusahaan secara governance. Bagi kami, keinginan untuk memunculkan kepercayaan  menjadi alasan kenapa kami menerapkan GCG,” ungkapnya.

Perbaikan dan evaluasi senantiasa dilakukan dengan melakukan assessment baik sendiri maupun dari luar. Fungsinya agar perusahaan dapat mendengar bagaimana perspektif masyarakat terhadap perusahaan. Tantangan dari implementasi GCG adalah mempertahankan most trusted yang telah didapatkan JASINDO sebanyak tiga kali. Hasil dari penerapan GCG ini mampu meningkatkan pendapatan dan laba secara berkelanjutan.

 

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)