Sido Muncul, Lakukan Persiapan dan Perbaikan Terus-Menerus

Irwan Hidayat Presiden Direktur PT Sido Muncul

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. adalah salah satu living legend yang sebenarnya cukup dikenal publik di Indonesia. Hanya saja, publik lebih mengenalnya dengan nama merek Sido Muncul. Menurut Direktur Pemasarannya, Irwan Hidayat, perusahaannya bisa menjadi living legend yang terus bertahan karena menjalankan prinsip “melakukan persiapan sebelum masa sulit datang”.

Termasuk, ketika masa krisis akibat pandemi Covid-19 ini menerpa. “Kami sudah menyiapkan kondisi terburuk,” ujar Irwan. Terutama, dengan memastikan pasokan. Kalau sampai produksi berhenti, pihaknya sudah punya stok hingga dua bulan ke depan.

Irwan menegaskan bahwa persiapan itu penting agar perusahaan bisa sustain dalam jangka panjang. Itulah kunci bertahan Sido Muncul, yang kehadirannya sudah dimulai tahun 1940 di Yogyakarta. Secara praktis, hal ini berarti perusahaan selalu melakukan penyesuaian dan perbaikan terus-menerus. “Hal ini sudah lama kami lakukan sebelum adanya Covid,” katanya.

Pihaknya mempersiapkannya dengan melakukan penelitian dan uji klinis. Ia mencontohkan produk Tolak Angin, yang sudah dilakukan uji khasiat dan uji toksisitas. “Sekarang, saat krisis orang mencari produk itu,” ujarnya bangga. Sebagai produk herbal andalan Sido Muncul, Tolak Angin sudah memegang sertifikat Obat Herbal Terstandar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

Menurut Irwan, sudah lebih dari 20 tahun lalu Sido Muncul dikembangkan secara ilmiah. Ketika membangun laboratorium seluas 3.000 m2 pada 1997, telah digunakan peralatan modern. Adapun pabrik modern dibangun pada 1998 meskipun Indonesia sedang krisis.

Ketika itu, kata Irwan, orang heran mengapa Sido Muncul berani berinvestasi di riset dan pabrik modern dalam kondisi krisis. Maklumlah, ketika itu perusahaan jamu dianggap lumrah tidak memiliki lab. “Kami melakukan bukan untuk saat itu, tapi untuk masa depan,” ujarnya. “Kami membayangkan konsumen akan berubah, maka yang kami nikmati hari ini karena persiapan matang jauh sebelumnya,” ia menjelaskan.

Sekarang, pabrik Sido Muncul makin luas dan makin modern, serta terus dikembangkan. Luas lahan pabriknya sekarang 17 ribu m2. Karyawannya lebih dari 4.500 orang.

Menurut Irwan, tantangannya ketika itu adalah mempersiapkan dananya. Juga, harus mengambil keputusan berani ketika saat itu sepertinya tidak dibutuhkan terobosan semacam itu. “Biayanya tidak sedikit waktu itu,” ujarnya.

Lab milik Sido Muncul itu ditunjang peralatan terbaru dan didukung 217 orang (terdiri dari bagian R&D, QC, dan QA). Setiap 2-3 tahun, hardware atau alat lab diganti, dan software ditingkatkan.

Namun, menurut Irwan, tantangan terbesarnya sebenarnya adalah bisakah kita membayangkan masa depan, dan apakah percaya dengan masa depan itu. Sebab, implikasinya harus mengeluarkan biaya yang seakan-akan tidak dibutuhkan saat itu.

Tantangan selanjutnya, menyiapkan SDM yang bisa mendukung bisnis jamu, yang dikembangkan dengan ilmu pengetahuan tentang obat herbal. “Saya tidak pernah membajak orang, saya lebih suka membangun SDM sendiri,” ia menegaskan. Menurutnya, Sido Muncul besar karena kesetiaan, baik itu dari karyawan maupun mitra bisnis dan pemasok.

Menurut Irwan, pihaknya tidak pernah mengganti pemasok dan distributornya. Ia mencontohkan, rumah produksi Fast Film sudah 35 tahun bekerjasama, dan agensi iklan Larisa juga sudah bergandengan selama puluhan tahun.

Irwan meyakini yang membuat Sido Muncul bisa survive sampai sekarang karena adanya orang-orang lama yang setia, yang terus beradaptasi dengan perubahan. “Saya selalu bilang, dilatih saja orang-orang lama agar bisa jadi hebat,” katanya. Ia berpinsip tidak ingin mengkhianati, dan ingin memberi contoh kepada anak buah dan mitra dengan menjaga kesetiaan dalam bekerja.

Adapun saat ini, tantangannya adalah persaingan. Ia menyebutkan, pada April-Mei 2020 penjualan produk jamu meningkat, tetapi di Juni-Juli sudah tidak setinggi sebelumnya. Ini karena makin banyak yang menyediakan produk serupa. “Dalam kondisi sekarang, orang saking bingungnya, minum (jamu) apa saja. Padahal, produk kami sudah terbukti klinis,” katanya. Namun, ia meyakni produknya telah teruji di pasar.

Sido Muncul sudah menjadi perusahaan publik sejak Desember 2013. Kata Irwan kepada pers, langkah go public itu untuk menghindari konflik keluarga.

Sekarang, dengan generasi baru masuk ke perusahaan, Irwan yakin mereka tetap bisa mengikuti filosofi Sido Muncul yang menjunjung kesetiaan dan bekerja dengan cinta, bukan sekadar melakukan pekerjaan karena tanggung jawab. “Saya berharap profesional yang masuk akan mengikuti filosofi tersebut,” ujarnya. (*)

Joko Sugiarsono & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)