Strategi Putar Haluan Mitra Kerinci di Industri Teh

CEO PT Mitra Kerinci, Yosdian Adi Pramono.

Pasti masyarakat sudah tidak asing lagi dengan merek teh di Indonesia seperti Sosro, Tong Tji, dan Frestea. Tapi, tak banyak yang tahu, bahan baku merek-merek teh tersebut dipetik dari satu perkebunan yang sama, yaitu milik PT Mitra Kerinci bernama Teh Liki.

PT Mitra Kerinci adalah anak usaha dari PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang dulu bernama PTPN VI. Perusahaan ini memiliki perkebuanan teh terluas di dunia dalam satu hamparan seluas 2.025 hektar di kaki Gunung Kerinci, Solok Selatan, Sumatera Barat.

Hasil produksinya antara lain teh hijau, teh hitam, white tea, dan special tea. Kapasitas produksinya mencapai 80 ton pucuk basah per hari. Di kawasan kebun tehnya terdapat objek wisata, lima air terjun yang saat ini sedang dikembangkan mini-hidro dan wisata tea walk.

Menurut CEO PT Mitra Kerinci, Yosdian Adi Pramono, secara makro kondisi bisnis teh di Indonesia sedang terpuruk. Sebagai produsen teh dunia, saat ini Indonesia menempati posisi ke-9. Jumlah lahan yang dimiliki secara total yaitu 118,1 ribu hektar dengan produksi sebanyak 154 ribu ton per tahun. “Jumlah produksi teh Indonesia terus menurun dari 175 ribu ton pada tahun 2007 menjadi 154 ribu ton pada tahun 2015. Luas areal kebun teh juga berkurang disebabkan banyak perkebunan yang merugi, 2.000 hektar kebun teh hilang karena konversi lahan,” ungkap Yosdian.

Sementara itu, harga lelang teh juga terus menurun dari US$356 sen per kilogram di tahun 2007 menjadi US$180 sen per kilogram. Harga tersebut merupakan terendah sepanjang lelang teh Indonesia. Saat ini, 75% perkebunan teh Nusantara berada di Jawa Barat dan 44% kebun teh dikelola oleh petani kecil. Di satu sisi, konsumsi teh ready to drink naik drastis dari 1.110 juta liter di 2007 menjadi 2.191 juta liter di 2015. Data terakhir tahun lalu (2017), sudah mendekati 3.000 juta liter.

Kondisi ini kontradiktif dengan kondisi teh Indonesia yang terus menurun, kinerja Mitra Kerinci terus mengalami peningkatan. Total produksinya naik dua kali lipat, dari 9.813 ton pada 2015 menjadi 18.830 ton pada 2016. Nilai penjualan pun naik dari Rp28 miliar (2011) menjadi hampir Rp70 miliar (2017). “Harga jual rata-rata juga mengalami kenaikan, saat ini Rp17.000 per kilogram,” urainya.

Lima tahun terakhir, Mitra Kerinci gigih melakukan transformasi yang diawali dengan strategi mekanisme pertanian. Sebelumnya petik teh dilakukan secara manual, menggunakan tangan, saat ini telah menggunakan mesin petik. Mitra Kerinci juga fokus mengelola teh hijau yang masih blue ocean. “Kami tidak lagi bermain di teh hitam seperti mayoritas PTPN lakukan,” ujarnya. Mitra Kerinci mengembangkan merek Teh Liki meskipun produknya tak masuk pasar ritel. Liki adalah nama Daerah tempat perusahaan ini beroperasi.

Strategi pemasaran juga diubah, sejak 2012 menempuh jalur pemasaran B2B dengan target lima pabrikan teh Indonesia dan beberapa luar negeri. “Saat ini kami berkontrak dengan Lipton, Coca-Cola, Sosoro, dan TongTji. Hampir 85% minuman teh kemasan di Indonesia disuplai dari Mitra Kerinci,” kata Yosdian sambil menambahkan bahwa Mitra Kerinci telah mengekspor produknya ke Taiwan, Qatar, Sudan, Perancis, dan Amerika Serikat. Untuk B2C menyasar kelompok menengah-atas.

Selain itu, Mitra Kerinci juga menyuplai white label product teh ke Hotel Indonesia, Angkasa Pura Retail, dan Patra Jasa dengan label teh milik mereka masing-masing. Value proposition produk teh Mitra Kerinci yaitu tingginya kandungan tanin dalam teh, yaitu senyawa yang memberikan cita rasa khas pada teh yang biasanya memberikan rasa sepat. Kadar tanin semua grade teh Mitra Kerinci berkat kondisi alam mencapai 17%, sementara kompetitor lain berkisar 10-11%.

Oleh karena itu, seperempat sendok Teh Liki bisa untuk satu gelas, sementara dari perkebunan lain butuh satu sendok. “Kami keluar dari pakem teh yang menjual bentuk dan grade. Kami hanya menjual rasa yang terkandung dalam tanin. Semua grade teh kami dijamin mengandung tanin 17%. Ini berbeda dengan pola pelelangan yang menjual berdasarkan grade,” jelas Yosdian.

Dari segi transformasi budaya, Mitra Kerinci melakukan pendekatan yang memanusiakan manusia. Kami juga memperkenalkan aplikasi manajemen risiko dan Good Corporate Governance (GCG) dalam pengelolaan bisnis perusahaan. Sedangkan untuk transformasi bisnis, Mitra Kerinci mengembangkan bisnis barunya dengan pemanfaatan aset yang idle dengan budidaya tanaman pengganti gula stevia (tanaman pengganti tebu, stevia rebaudiana bertoni), bekerja sama dengan perusahaan perusahaan Korea Selatan.

Selain itu, Mitra Kerinci juga mengembangkan lini bisnis baru dengan pembangunan PLTA Liki Energi yang memanfaatkan aliran sungai dan air terjun. Perushaan ini juga sedang mengerjakan integrated supply chain dengan pola sinergi kerja sama dengan Nusindo untuk penyediaan kebutuhan pupuk dan sinergi pengelolaan kebun Pangheotan PTPN VIII di Bandung Barat seluas 2.000 hektar.

Kemitraan dengan ruang lingkup pendampingan perbaikan pabrik teh hijau dan penjualan teh hitam ini menargetkan produksi 5-7 ton per hari dengan nilai investasi sebesar Rp5 miliar, dan target penjualan sebesar Rp300 juta per bulan. Targetnya, Mitra Kerinci tahun ini dapat mengakuisisi Pangheotan PTPN VIII.

Secara jangka panjang, Mitra Kerinci ingin fokus pada sektor energi dengan bisnis teh sebagai etalase perusahaan. “Sektor energi diharapkan dapat men-generate uang dengan memanfaatkan potensi areal kami. Karena, kebun teh menghidupi lebih dari 2.000 orang yang didesain padat karya,” kata Yosdian.

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)