Ace Hardware Indonesia, Memberi Bukti Bisnis Ritel Tetap Oke

Ace Hardware Indonesia

Saat ini kawan-kawan saya pemain ritel sedang nangis. Penjualan keok, banyak yang tutup gerai karena sedang terjadi pergeseran perilaku konsumen, kecuali Ace Hardware yang tumbuh baik.” Pernyataan seorang direktur pemasaran perusahaan manufaktur itu disampaikan ke penulis beberapa waktu lalu dalam sebuah obrolan santai di coffee shop. Eksekutif tersebut tak asal bicara. Setidaknya, bila kita melihat data kinerja PT Ace Hardware Indonesia Tbk. yang memang anomalistis, berbeda dengan pemain ritel lain yang umumnya mengalami stagnasi kinerja.

Pada tahun buku 2018, Ace Hardware mampu membukukan total penjualan bersih Rp 7,24 triliun. Tumbuh 21,91% dibandingkan kinerja 2017 yang baru Rp 5,94 triliun. Dengan tren penjualan yang positif itu, perusahaan ritel perkakas ini mampu membukukan laba bersih Rp 964,55 miliar pada 2018, atau meningkat 24,02% year on year (YoY) dari Rp 777,73 miliar pada 2017. Total ekuitasnya pun meningkat menjadi Rp 4,23 triliun dari sebelumnya Rp 3,51 triliun, dan total aset menjadi Rp 5,32 triliun dari Rp 4,43 triliun. Bisa dimengerti, dalam peringkat WAI tahun ini, Ace termasuk perusahaan yang melesat, skor WAI-nya positif dan masuk dalam Top 100.

Kami fokus pada operational excellence dan strategi organic growth untuk menghasilkan kinerja keuangan yang baik. Kami jaga tingkat pertumbuhan penjualan secara konsisten. Dalam lima tahun terakhir ini, kami selalu mampu membagikan dividen 40-50% dari laba bersih,” ungkap Hartanto Djasman, Direktur Keuangan PT Ace Hardware Indonesia Tbk., menjelaskan alasan di balik kinclongnya WAI perusahaannya. Menurutnya, Ace selalu berupaya memberikan nilai tambah terbaik kepada investor dengan menjaga tingkat return on equity.

Dari sisi fundamental bisnis, untuk terus menjaga kinerja, pihaknya terus berusaha memperkuat kinerja gerai/toko, antara lain dengan menyelenggarakan program promo yang menarik, menambah lini produk baru, dan mengembangkan beragam pelayanan baru. Di sisi lain, Ace juga tak mau ketinggalan dalam menyesuaikan diri dengan tren, termasuk dengan menghadirkan platform belanja online di www.acehardware.co.id/shop atau melalui www.ruparupa.com yang merupakan peritel online resmi Grup Kawan Lama.

Dari sisi investasi, Ace Hardware terus berinvestasi secara tepat dengan menambah gerai guna menjangkau lebih banyak pelanggan. Saat ini jumlah gerainya 186 dan direncanakan membuka 20-25 gerai baru tahun ini. Manajemen Ace tidak khawatir akan terjadi kanibalisasi antargerai karena pasarnya masih sangat luas. Bahkan, pihaknya akan mulai aktif mengembangkan Ace Xpress untuk lebih mendekatkan diri ke pelanggan. “Ace Xpress ini,” kata Hartanto, “menjual produk yang jumlahnya lebih terbatas, tetapi produk yang dijual cenderung produk-produk yang lebih umum dan banyak dibutuhkan.”

Manajemen Ace Hardware sangat peduli untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan di tengah iklim bisnis yang berubah cepat saat ini. “Kami selalu mempertahankan overall growth dan SSSG (same store sales growth), membuka outlet di lokasi yang tepat, serta mengoptimalkan rasio biaya,” ungkap Hartanto. Karena itu, koordinasi antardivisi merchandising, operations, marketing, dan support (MOMS) menjadi penting untuk memastikan bahwa perusahaan akan mampu mengeksekusi strategi bisnis dengan baik. “Yang juga penting, kami sangat berhati-hati dalam cost management. Contohnya, kami mengganti lampu di gerai dengan lampu LED untuk menghemat energi dan menekan biaya listrik,” tambahnya.

Tak lupa, salah satu cara untuk menjaga kepercayaan investor adalah dengan menjalankan praktik GCG sebaik mungkin. Tak terkecuali di bidang transparansi informasi, pihaknya selalu menyampaikan informasi keuangan dan update ekspansi perusahaan secara tepat waktu. Kemudian, untuk meningkatkan likuiditas sahamnya (ACES) dan memudahkan investor untuk membelinya, manajemen memecah saham. Maklum, harga saham ACES memang terus meningkat. Di tahun 2012, misalnya, dilakukan pemecahan saham (stock split) ACES dengan rasio 1:10 sehingga harga sahamnya lebih terjangkau. “Hal ini terbukti bermanfaat dengan semakin meningkatnya volume perdagangan ACES di lantai bursa, dan bertambahnya jumlah pemegang saham perseroan,” kata Hartanto.

Terkait rencana ke depan, manajemen Ace Hardware akan melanjutkan ekspansi dengan membuka gerai baru, mengembangkan gerai yang sudah ada, serta lebih mendekatkan diri ke pelanggan melalui pengembangan lini produk dan layanan baru. Selain itu, juga akan terus mengadakan berbagai program promosi serta memperkuat konsep omnichannel dengan menggabungkan pengalaman belanja online dan offline sekaligus. “Bisnis ini kian berkembang seiring pertumbuhan ekonomi dan tren lifestyle. Masyarakat memerlukan berbagai jenis produk untuk melakukan home improvement agar rumahnya lebih cantik dan nyaman sehingga Ace Hardware akan terus tumbuh,” kata Hartanto. Ia yakin prospek Ace tetap akan ciamik.

Tahun 2019 ini Ace Hardware memasang target pertumbuhan penjualan lebih konservatif, yakni 15%. Jika kinerja top line Ace di tahun ini sesuai dengan target tersebut, pendapatannya di akhir 2019 diperkirakan mencapai Rp 8,28 triliun. Sementara itu, sampai kuartal I/2019, Ace telah mencatat pertumbuhan penjualan 19,15% menjadi Rp 1,85 triliun jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Perolehan pendapatan satu kuartal sebesar Rp 1,85 triliun itu setara 22,34% dari total targetnya tahun ini. Kita tunggu saja kiprah Ace Hardware yang akan terus membuktikan bahwa bisnis ritel di Indonesia masih prospektif. (*)

Sudarmadi/Anastasia Anggoro S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)