BCA, Jalur Digital agar Tetap Terdepan

Vera Eve Lim, Direktur BCA
Vera Eve Lim, Direktur BCA

Tak berlebihan jika menyebut PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) adalah bintang yang pamornya kian mencorong di lantai bursa. Tahun 2018, dengan aset Rp 750 triliun, kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 683 triliun. Di pentas global, posisinya ada di peringkat 22 dalam ukuran kapitalisasi pasar. Ia bahkan menjadi yang terkuat di Asia Tenggara.

Tak berhenti di sini prestasinya. Dalam SWA100, BCA membukukan angka WAI Rp 288,8 triliun di tahun 2019. Raihan ini membuatnya memuncaki SWA100, naik dari urutan ke-3 di tahun 2018 (WAI senilai Rp 164,5 triliun). Sungguh tahun-tahun yang menyenangkan bagi BCA.

Tentu saja, prestasi ini tak diraih dalam semalam. Lantas, apa rahasianya?

Dari sisi produk serta layanan, bank ini terus berupaya melahirkan terobosan baru untuk meningkatkan customer experience dan kenyamanan nasabahnya. Sebab, dari sinilah mereka meyakini akan lahir loyalitas dan kepercayaan. “Kepercayaan nasabah mendukung BCA dalam mencatat pencapaian kinerja keuangan yang positif turut meningkatkan kapitalisasi saham BCA,” kata Vera Eve Lim, Direktur BCA.

Manajemen BCA memang sepenuhnya meyakini loyalitas dan kepercayaan adalah kunci memenangi persaingan di industri perbankan. Maklum. sekalipun industri perbankan bisa dikatakan stabil dan prospektif, tantangan yang menghadang pelaku perbankan terhitung luar biasa. Di lingkup global, ekonomi begitu volatile, bisa bergejolak dengan cepat akibat perang dagang. Di lingkup domestik, pertumbuhan kelas menengah dan milenial menuntut layanan perbankan yang makin inovatif. Belum lagi kehadiran fintech dan e-commerce sebagai anak kandung revolusi digital. Bila tak sanggup mempertahankan loyalitas dan kepercayaan nasabah, dengan sendirinya bisnis pun terancam mengkeret.

Agar bisa tumbuh berkembang di zaman yang serba bergegas ini, BCA pun melakukan sejumlah aksi korporat. Salah satu yang terpenting: transformasi digital. Langkah di jalur ini terbilang sangat krusial untuk menjamin nasabah mendapatkan pengalaman terbaik karena ketika mengakses layanan keuangan BCA, mereka merasakan aneka kemudahan.

Ada banyak hal yang bisa dicontohkan di sini. Salah satunya, kini masyarakat dapat membuka rekening hanya dengan mengakses mobile banking (BCA mobile). Lalu, melalui Halo BCA yang menyediakan kanal seperti Web Chat BCA, WhatsApp BCA, dan fasilitas VIRA (Virtual Assistant) BCA, nasabah dapat berkomunikasi dengan leluasa terkait kondisi keuangannya sampai permasalahannya, serta kebutuhan layanan finansial yang tepat buatnya.

Kanal-kanal digital BCA memang didesain agar nasabah mudah mengakses layanan keuangan untuk memenuhi kebutuhannya. Cukup dengan ponsel pintar serta internet, mereka bisa langsung mendapat layanan yang mudah dan menyenangkan. Akan tetapi, selain agar bisa selaras dengan perkembangan zaman, transformasi digital juga ditempuh demi mengembangkan sekaligus memperkuat ekosistem keuangan BCA itu sendiri, khususnya dalam menjalin kerjasama dengan fintech dan e-commerce yang kian mengukuhkan diri sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. “Pengembangan teknologi di sistem kami merupakan salah satu fokus utama untuk terus eksis serta mengoptimalkan peluang-peluang yang ada,” Vera menjelaskan.

Lalu, bagaimana dengan aspek cost management agar bisa menghasilkan laba yang optimal?

Di sini, transformasi digital kembali memainkan peran. Vera mengungkapkan, tren dunia perbankan kian mengarah pada digitalisasi di segala aspek. Bahkan, 98% dari jumlah transaksi BCA berasal dari kanal digital. Jadi, transformasi digital bermanfaat bukan hanya untuk menjaga loyalitas nasabah dengan memberikan layanan yang prima, nyaman, dan mudah, tetapi juga membantu efisiensi dalam hal operasional.

Alhasil, menimbang pentingnya transformasi digital, Vera pun mengakui bahwa BCA fokus dalam mengembangkan jalur ini disesuaikan dengan perubahan perilaku nasabah serta tren yang berkembang. Kini, berbagai inisiatif dan inovasi tiada henti dilakukan. Layanan internet dan mobile banking senantiasa dikembangkan. Di luar itu, inisiatif digital lainnya juga disempurnakan, seperti layanan call center melalui video conference, web chat dan whatsappchat, peer to peer transfer, dan One klik untuk pembayaran e-commerce.

Kendati demikian pentingnya, dia melanjutkan, bukan berarti jalur digital akan mengambil seluruh aktivitas BCA di masa depan. Contohnya, kanal digital. Meskipun kanal digital semakin berperan, perusahaan ini tetap menyadari pentingnya kantor cabang dalam melayani nasabah. Mengapa? Karena, ternyata 51% nilai transaksi diproses melalui cabang. Dengan demikian, Vera menegaskan, “BCA tetap melakukan investasi pada perkembangan cabang, namun dengan format yang mengikuti perkembangan zaman.”

Seluruh aktivitas di atas, menurut Vera, dilakukan dengan tetap ditopang oleh prinsip kehati-hatian, etika bisnis, dan kepatuhan terhadap berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku (good corporate governance). (*)

Teguh S. Pambudi dan Anastasia Anggoro S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)