Chandra Asri Petrochemical, Menjawab Tantangan Industri yang Siklikal

Chandra Asri Petrochemical Tbk. (Foto: istimewa)
Chandra Asri Petrochemical Tbk. (Foto: istimewa)

Tahun ini terbilang istimewa bagi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Dengan Wealth Added Index (WAI) sebesar Rp 67,45 triliun, posisinya naik ke peringkat 3 dari posisi 8 pada tahun lalu, dan menjadi satu-satunya perusahaan nonbank yang masuk peringkat lima besar SWA100 tahun 2019.

Pencapaian ini merupakan buah strategi tersendiri. Beragam upaya ditempuh Chandra Asri agar sahamnya tetap dipercaya dan diapresiasi investor. Menurut Erwin Ciputra, Presiden Direktur Chandra Asri, perusahaannya selalu berusaha meningkatkan kinerja bisnis dan nilai perusahaan dengan cara mengelola modal dengan baik, termasuk dalam berinvestasi dan mengelola persepsi pasar, serta senantiasa bersikap transparan. “Kami melihat perusahaan tetap dipercaya oleh investor karena kinerja perusahaan yang stabil dan market yang terus meningkat. Chandra Asri sampai saat ini juga mampu mencetak laba atau berhasil making profit,” kata Erwin.

Setahun terakhir Chandra Asri menggelar sejumlah aksi korporat. Mei 2019, menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Chandra Asri Petrochemical Tahap II Tahun 2019 dengan total nilai emisi Rp 750 miliar. Sebelumnya, Desember 2018, menerbitkan obligasi Berkelanjutan II Chandra Asri Petrochemical Tahap I Tahun 2018 dengan total nilai emisi Rp 500 miliar. Lalu, Maret 2018, menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Chandra Asri Petrochemical Tahap II Tahun 2018 dengan total nilai emisi Rp 500 miliar.

Sebagai perusahaan dengan rating AA-, kami melihat investor tertarik dengan kupon yang kami tawarkan sehingga kami bisa sukses dalam setiap penerbitan obligasi (oversubscribed),” ungkap Erwin. Selain itu, pihaknya juga rutin memberikan nilai tambah lain kepada pemegang saham selain membagi dividen reguler, yaitu dalam bentuk dividen interim yang dibagikan dalam jangka waktu kurang dari setahun.

Menurutnya, industri petrokimia merupakan salah satu sektor yang berpotensi besar di pasar industri. Karena jumlah pemain di sektor ini yang terbatas dan permintaan pasar yang terus meningkat, kebutuhan produk petrokimia di Indonesia masih mengandalkan impor. Akibatnya, tantangan industri ini bersifat siklikal (cyclical), akan selalu ada siklus di mana pasokan dan permintaan berfluktuasi.

Sebagai satu-satunya perusahaan petrokimia di Indonesia yang terintegrasi dari ke hulu ke hilir, Chandra Asri melihat adanya peluang untuk terus mengembangkan bisnis dengan upaya meningkatkan kapasitas pabrik. Maka, mereka pun mengambil langkah ekspansi pabrik sebagai upaya menjawab tantangan industri petrokimia yang siklikal tersebut. Wujudnya, mengekspansi pabrik butadiena sehingga kapasitas produksi naik 37% menjadi 137 KTA (kilo tons per annum), dan ekspansi pabrik polietilena (PE) yang akan menambah total produksi tahunan dari 336 KTA menjadi 736 KTA.

Sifat industri petrokimia yang siklikal ini dipandang sebagai faktor eksternal yang berdampak pada keuntungan (margin product). Namun, Chandra Asri percaya diri, kondisi balance sheet yang cukup kuat dan manajemen balance sheet yang prudent membuat perusahaan dapat melalui tantangan serta mampu memberikan margin yang realistis terhadap pemegang saham. Bisnis kami yang terintegrasi dari hulu ke hilir menjadi keuntungan bagi posisi kami, karena skala ekonomi lebih efisien (cost per unit). Rampungnya penambahan kapasitas kami di tahun 2019 juga menjadi faktor penting dalam menjawab tantangan industri petrokimia yang cyclical ini,” kata Erwin.

Demi mencetak kinerja keuangan yang tumbuh positif dan menghasilkan nilai tambah kepada para pemegang saham, perusahaan ini juga berupaya memperkuat landasan usaha dengan meningkatkan fokus terhadap keberlanjutan, baik dari segi integrasi usaha maupun diversifikasi produk, dan pemenuhan tanggung jawab kepada pemangku kepentingan. Tidak ketinggalan, memastikan semua pabrik berjalan secara optimal tanpa ada gangguan.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kehidupan berkelanjutan, Chandra Asri juga memastikan pemakaian energi yang efektif dan efisien dalam operasional bisnis. Mereka baru saja menerima Energy Management Insight Award yang diselenggarakan The Clean Energy Ministerial Management Working Group. Ini merupakan penghargaan atas program manajemen energi yang telah sesuai dengan sertifikasi ISO 50001. Selama beroperasi di tahun 2018, plant monomer dan plant polimer Chandra Asri berhasil menghemat energi sebesar 771,838 GJ (giga joule). Perusahaan ini ditunjuk oleh Kementerian ESDM untuk menjadi satu dari tiga perwakilan organisasi di Indonesia dalam ajang internasional tersebut.

Selain itu, menurut Erwin, keberhasilan perusahaannya dalam menjalankan proyek-proyek tersebut tidak terlepas dari implementasi visi-misi berdasarkan prinsip Good Ccorporate Governance (GCG), yaitu transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independensi, serta kewajaran & kesetaraan. Chandra Asri pun pernah diganjar penghargaan dari IICD sebagai perusahaan yang memiliki tata kelola yang baik dalam skala market kapitalisasi terbesar.

Ke depan, Erwin mengutarakan, manajemen secara kontinyu akan menjalankan inisiatif-inisiatif strategis sesuai dengan strategi usaha perseroan pada jangka menengah-panjang. Mereka juga sangat mendorong penguatan kemampuan product, process, and people ke tingkat kualitas yang lebih tinggi sehingga akan mampu mendukung kegiatan operasional pabrik yang terus berkembang, di mana perusahaan tengah memasuki babak pembangunan kompleks petrokimia terintegrasi yang kedua. “Dengan berhasil mencetak WAI positif, investor diharapkan lebih optimistis untuk meletakkan investasi di industri petrokimia,” katanya. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)