Perusahaan Harus Dikelola Persisten dan Ketat

IMG_7536

Ada sejumlah cara mengukur kinerja perusahaan publik.Majalah Fortune menilai peringkat berdasarkan nilai omset perusahaan, jadi yang diukur size atau ukuran perusahaan untuk peringkat Fortune 500. Majalah SWA juga melakukan penilaian kinerja perusahaan publik  yang sudah dilakukan sejak tahun 1993 melalui SWA100. Tujuan pemeringkatan ini agar manajer investasi, investor, analis, dan perusahaan publik, serta masyarakat dapat memperoleh gambaran kinerja perusahaan publik yang ada di Indonesia. Metode yang digunakan Majalah SWA beberapa tahun sebelumnya adalah dengan pertumbuhan perusahaan.

Pada tahun 2001, Majalah SWA mulai menggunakan Metode EVA (Economic Value Added) untuk perhitungan peringkat SWA100. Metode ini dikembangkan oleh Stern Stewart & Co, yang menghitung EVA berdasarkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan nilai investasi atau kekayaan pemegang saham.

Pada tahun 2007, SWA dan Stern Stewart & Co, melengkapi penilaian peringkat dengan EVA itu dengan market value added. Kemudian mulai 2008 metode mengukur kinerja perusahaan disempurnakan dengan Wealth added index (WAI) yang dikembangkan oleh Stern Value Management yang merupakan bagian dari Stern Stewart & Co.

Secara garis besar WAI mencerminkan kelebihan kekayaan yang dihasilkan perusahaan public diatas cost of equity atau dengan kata lain WAI adalah perusahaan akan menghasilkan WAI positif apabila total return yang dihasilkan untuk pemegang saham lebih tinggi dibanding biaya modalnya. Pola inilah yang digunakan oleh Majalah SWA dan Stern Stewart & Co dalam pemringkatan SWA100 dengan menggunakan data kinerja perusahaan selama lima tahun terakhir dan perhitungan harga saham secara harian selama lima tahun.

Untuk SWA100 tahun ini menggunakan data dari 2011-2015. Pemeringkatan ini dilakukan secara rutin oleh Majalah SWA dan Stern Value Management, agar bisa menjadi tolak ukur bagi perusahaan-perusahaan publik.

Selain peringkat SWA100 yang merupakan peringkat perusahaan public di Indonesia, Majalah SWA tahun ini juga melakukan pengukuran untuK ASEAN100 yang merupakan peringkat perusahaan public di regional. Baca juga SWA100: Indonesia's Best Wealth Creatior 2016 (Majalah SWA Edisi 15/2016).

Tahun ini memang terjadi penurunan, dari 100 perusahaan publik nasional yang dinilai hanya 23 persen saja yang mampu memberikan tambahan kekayaan pada pemegang saham atau investor. Sedangkan untuk regional dari 100 perusahaan publik ASEAN hanya ada 34 persen yang bisa memberikan total shareholders return positif.

“Jadi ini kondisi yang sangat challenging bagi negeri kita maupun regional, tapi ada kabar positif, dalam kondisi penurunan, ada perusahaan yang terus meningkatkan WAI positifnya, seperti yang ditunjukan oleh HM Sampoerna dan Unilever Indonesia yang berhasil menempati posisi teratas SWA100,” ujar Kemal E. Gani, Pimpinan Umum Majalah SWA. Hal menarik lain adalah Telkom yang selama ini mencatatkan WAI negatif, tapi pada SWA100 tahun ini untuk pertama kali WAI nya positif dengan nilai sekitar Rp 2,9 triliun.

Kemal menambahkan, ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik dari pemeringkatan SWA100 ini. Pertama, di era globalisasi saat ini, kondisi bisnis tidak bisa terlepas dari kondisi perekonomian global. Apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa memengaruhi perusahaan yang ada di Indonesia juga.

Kedua, peringkat ini secara tidak langsung menggambarkan apa yang terjadi di dunia bisnis dan di lantai bursa kita. Hal ini terlihat sektor industri yang merosot, seperti pertambangan, energi, otomotif dan bisnis komoditas, ternyata secara umum nilai WAI nya juga merosot. Dalam SWA100 tahun ini terbukti tidak ada perusahaan energi yang mencetak WAI positif. Tapi pada industri yang menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi nasional, pemainnya mampu mencetak kekayaan bagi pemegang sahamnya. Contohnya HM Sampoerna dan Unilever Indonesia yang bergerak di sektor consumer. Jadi peringkat SWA100 bisa menjadi referensi alternatif bagi kalangan investor.

Ketiga, kondisi bisnis yang sulit saat ini, bukan berarti hal yang mustahil untuk meningkatkan kinerja bisnis dan nilai perusahaan seperti yang ditunjukan oleh Sampoerna, Telkom dan Unilever, juga emiten lainnya yang mencetak WAI positif. Kemampuan mencetak WAI positif bergantung pada kecerdikan dan kepiawaian top management dalam mengelola modal, termasuk dalam berinvestasi dan mengelola persepsi pasar.

“Erik Stern, pendiri Stern Stewart & Co, mitra kami, sering mengingatkan bahwa tugas penting CEO dan top management adalah mengelola dan mengalokasikan modal dengan baik. Hal ini terdengar sederhana dan mudah, tapi tidak demikian kenyataannya karena mengelolanya harus secara persisten, ketat dan perlu keahlian tertentu, ditengah tugas dan tanggung jawab CEO dan top management yang dinamis,” jelas Kemal.

Jessica Young, VP Stern Value Management, menjelaskan, sebagai konsultan global, pihaknya sangat concern pada bagaimana mengelola nilai perusahaan agar terus meningkat. Lalu bagaimana caranya agar nilai perusahaan terus meningkat? Menurut Jessica, sesuai perhitungan yang digunakan Stern Value Management, bahwa nilai perusahaan meningkat ketika perusahaan bisa menerapkan value based management baik itu bukan saja di operasional, tapi juga pada kebijakan finansial, strategi maupun governance.

“Perhitungan WAI yang kami lakukan bukan sekadar menghitung berapa total shareholder return , tapi juga memperhitungkan business risk dan country risk,” ujarnya.

Jessica melihat, pada top 2 menunjukan industri yang konsisten mencetak WAI positif yaitu industri FMCG dan rokok saat kondisi bisnis menurun secara keseluruhan industri. Menurutnya, menarik  juga pada industri telekomunikasi yang di ASEAN pun mengalami peningkatan, tahun lalu hanya ada 4 perusahaan, tahun ini ada 7 perusahaan yang WAI nya positif.

“Rata-rata WAI indeks tahun ini menurun, kecuali industri telko jumlahnya. Industri telekomonikasi menarik karena jumlah pengguna ponsel saat ini 1,2 kali lebih jumlah penduduknya, tak heran jika industri ini sangat berkembang. Telkom Indonesia pada WAI tahun ini menuai nilai positif setelah beberapa tahun negatif, ” jelasnya.

Ranking di ASEAN dicermati Jessica ada 23 perusahaan Indonesia yang masuk mereka berasal dari 4 industri yaitu perbankan, rokok, FMCG dan telko. Perusahaan Indonesia dalam pandangannya terlihat dalam ranking tersebut masih bisa bersaing dengan perusahaan ASEAN lain. Di industri telko misalnya, yang trennya terus meningkat di Indonesia, terutama terlihat dari besarnya pengguna ponsel. Penetrasi telko yang tinggi ini di Indonesia ini membuat investor lebih optimis meletakan investasi di industri telko, ketika industri lain justru mengalami penurunan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)