Sentralisasi dan Transformasi Beri Pertambahan Nilai Pupuk Indonesia

Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia Panji Winanteya Ruky yang menerima penghargaan The Best Company in Indonesia Trillionaire Club versi Majalah SWA.

Demi meningkatkan shareholder value Kementerian BUMN, PT Pupuk Indonesia (Persero) sejak awal tahun 2020 memulai journey untuk bertransfromasi menjadi perusahaan komersial/non-PSO (public service obligation) sebagai penyedia nutrisi pangan kelas dunia.

Sebagai gambaran, saat ini Pupuk Indonesia memiliki 15 pabrik dengan kapasitas produksi 9,4 juta ton urea dan 3,3 juta ton pupuk NPK, 1,3 juga ton pupuk lain serta 8,7 juta ton non pupuk. Sepanjang 2020 perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp71,93 triliun dengan pertumbuhan CAGR komersial 7% dan CAGR PSO 1%.

Ada sejumlah isu yang mendorong Pupuk Indonesia untuk bertransformasi. Pertama, dari sisi eksternal, terdapat perubahan pola subsidi pupuk sesuai arahan RPJMN 2020-2024 untuk melakukan reformasi subsidi dengan peralihan ke model langsung. Kedua, karena belasan tahun melayani sektor subsidi maka posisi Pupuk Indonesia relatif lemah di pasar non subsidi di mana market share yang dikuasai kurang dari 25 persen pada segmen korporasi/agrobisnis large estate. “Ini menjadi peluang bagi Pupuk Indonesia untuk bertransformasi agar bisa menangkap market share di pasar ini,” ujar Panji Winanteya Ruky, Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia.

Di samping itu, karena diamanatkan untuk menjalankan penugasan PSO, sifat operasi perseroan selama ini sangat production-centric, padahal di pasar yang komersial harus bisa customer-centric. Tantangan berikutnya adalah sembilang pabrik yang ada sudah tua dan kurang efisien dengan umur lebih dari 20 tahun.

Meski demikian, Pupuk Indonesia melihat peluang ke depan begitu besar. Di mana pertumbuhan penduduk dan demand side selalu meningkat dengan peningkatan 0,74% atau setara empat juta jiwa pertambahan penduduk setiap tahunnya. Sedangkan, berdasrkan data BPS, terjadi penurunan produksi tanaman padi setiap tahunnya dari 5,2 ton/ha menjadi 5,1 ton/ha. Data Maret 2021, total produksi beras turun dari 30,78 juta ton ke 28,42 juta ton. Diproyeksikan kebutuhan pangan Indonesia tahun 2045 mencapai 36,8 juta ton.

“Untuk menjawab tantangan ini salah satu caranya adalah membangun ketahanan pangan dengan pemupukan yang lebih optimal,” ujar Panji dalam webinar SWA 100 & Indonesia Trillionaire Club.

Salah satu program yang dicanangkan pada tahun ini adalah program Makmur dengan dukungan rantai pasok dan teknologi precision farming, yaitu sistem aplikasi rekomendasi pemupukan berbasis satelit. Program Makmur berbentuk pengawalan dan pendampingan intensif kepada petani dan budidaya pertanian yang didukung teknologi mulai dari pengelolaan budidaya tanaman berkelanjutan, informasi dan pendampingan budidaya pertanian, digital farming dan mekanisme pertanian. Selanjutnya ada juga disiapkan akses permodalan dan perlindungan risiko pertanian serta adanya offtaker atau jaminan pasar bagi petani.

Pada tahun 2021, target luasan lahan Program Makmur seluas 50.000 hektare. Adapun, komoditas yang menjadi fokus dalam program ini mulai dari padi, jagung, cabai, kelapa sawit, singkong, kopi, lada, kakao, bawang merah, tebu, tembakau, nanas, dan manggis. Realisasi program Makmur hingga Juli 2021 tercatat luas tanam sudah mencapai 29.619 ha dengan akuisisi petani tercatat 25 ribu orang.

Program ini juga telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas pada komoditas jagung dan padi yang masing-masing sebesar hingga 42% dan 34%. Begitu juga dari sisi keuntungan petani terjadi adanya kenaikan yaitu untuk petani jagung sebesar hingga 52% dan petani padi sebesar hingga 41%. “Kami akan scale up program ini di masa depan,” tambahnya.

Selain itu, masih dalam rangka transformasi bisnis, PT Pupuk Indonesia (Persero) juga sedang melakukan pilot project untuk mengimplementasikan Retail Management System (RMS). Sistem ini berbentuk aplikasi untuk memudahkan kios mengelola transaksi dan pendataan stok produknya. RMS bertujuan mendigitalisasi distributor dan kios mitra Pupuk Indonesia yang ada 28 ribu kios dengan memanfaatkan aplikasi untuk berbagai hal seperti menjual pupuk, cash management, stock management, dan lain-lain. RMS ini merupakan salah satu inisiatif strategis dalam program transformasi bisnis, di mana perusahaan akan berorientasi pada pasar atau costumer centric.

Dengan ini, perseroan dapat membangun manufacturing network model untuk mengoptimalkan cost-to-serve terbaik untuk konsumen. Kemudian dapat pula mengimplementasikan perubahan dalam distribution routes berdasarkan optimized network model. Hal ini juga memungkinkan harmonisasi penjualan yang mengeliminasi kompetisi antar anak perusahaan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)