Strategi Bank Mandiri Mengejar Gerbong Fintech

Di era digital saat ini, pesaing bisnis tidak hanya muncul dari industri sejenis, tetapi juga dari berbagai sektor yang sebelumnya tidak dipandang sama sekali. Kondisi itu nampak jelas terlihat di sektor keuangan yang tengah diguncang dengan kehadiran financial technology (fintech). Betapa tidak, dengan inovasi berbagai startup yang mengusung inovasi fintech, kini proses membayar transaksi, menyimpan, bahkan pinjam-meminjam uang bisa dilakukan hanya dengan sebuah ponsel cerdas. Jika tidak awas, bukan mustahil pemimpin industri keuangan tradisional bisa terguncang, bahkan tergantikan, oleh berbagai terobosan fintech yang berlangsung cepat.

Kartika Wirjoatmodjo, CEO PT Bank Mandiri Tbk. Kartika Wirjoatmodjo, CEO PT Bank Mandiri Tbk.

Bank Mandiri sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia pun nampaknya menyadari betul fenomena fintech. Kartika Wirjoatmodjo, CEO PT Bank Mandiri Tbk., mengatakan, fintech sudah berkembang pesat. “Fintech adalah industri baru yang memudahkan masyarakat melakukan transaksi pembayaran,” ujarnya.

Dia mengamati fintech muncul dalam beragam bentuk dan layanan. Sebagian untuk memfasilitasi pembayaran, beberapa lagi untuk menggalang dana demi menunjang misi bisnis, sosial, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Kartika berpendapat, Pemerintah Indonesia juga dapat melihat kebutuhan berbagai perusahaan fintech yang sedang berkembang pesat. Di antaranya, beragam insentif dan kemudahan regulasi yang dapat mengakselerasi perkembangan fintech di Indonesia. “Karena, di industri ini ada dua hal yang penting. Yaitu, memberikan akses untuk inklusi keuangan, sehingga masyarakat yang tidak mau masuk ke sistem perbankan dapat memilih menggunakan fasilitas keuangan digital ini. Lalu, dapat membuat transaksi menjadi efisien,” paparnya.

Bank Mandiri sebagai raksasa di sektor perbankan Indonesia tidak mau ketinggalan dalam laju inovasi fintech ini. Karena itu, bank beraset Rp 910,1 triliun pada akhir 2015 itu telah menyiapkan sejumlah jurus untuk turut serta dalam perkembangannya. “Saat ini fintech memang sedang booming. Tetapi, akan ada saatnya terjadi seleksi alam, di mana yang memiliki skill, kuat dalam hal permodalan, dan mampu menarik customer based yang luas akan survive. Tugas bagi para pemain besar adalah memberi ruang yang cukup bagi pemain baru untuk berkembang,” Kartika menjelaskan.

Karena itu, Bank Mandiri meluncurkan Mandiri Capital yang fokus menjadi perusahaan modal ventura yang akan membidik para entrepreneur ataupun startup yang inovatif dan potensial. Selain itu, Bank Mandiri juga menggelar ajang Mandiri Technopreneur, kompetisi yang digelar bagi para technopreneur muda yang bertujuan menjaring ide dan solusi fintech teranyar. Nah, menariknya, para pemenang Mandiri Technopreneur selanjutnya akan dibina di Mandiri Inkubator Bisnis. Inkubasi yang kami lakukan ada dua, yaitu inkubasi untuk yang nondigital sudah sejak dua tahun lalu, sedangkan untuk inkubasi digital mulai tahun 2016,” ujar Kartika.

Melalui program Mandiri Inkubator, peserta akan diberi materi intensif selama enam bulan, khususnya mengenai dasar manajemen bisnis. Bank Mandiri pun tak bergerak sendiri dalam misi pengembangan fintech. Mereka mengajak sesama perusahaan pelat merah dalam perjalanannya. “Kami mengajak Telkom. Kami menghadirkan coach yang bernama Telkom Indigo, yaitu perusahaan dari Telkom,” ungkap Kartika.

Lebih lanjut Kartika menjabarkan, Telkom Indigo memberi pelatihan mengenai validasi konsumen, produk, dan model bisnis. Selain itu, ada pula program mentorship yang dilakukan secara perorangan. Juga ada program Office Hour yang menghadapkan peserta pada satu masalah dan harus dapat melalui fase tertentu. “Kemudian, peserta harus belajar mengenai (bagaimana) membuat produknya komersial atau kami sebut program Community Engagement. Terakhir, bagaimana mereka dapat memperoleh pendanaan,” Kartika menguraikan.

Bagi peserta yang lolos program inkubasi, Mandiri Capital akan memberikan investasi. “Sebagai contoh yang sudah berhasil adalah E-Cash. Awalnya investasi di startup, mereka berhasil mencapai tahap komersialisasi tertentu, sehingga mendapat investasi,” ujar Kartika.

Total di tahun ini ada 14 tim yang masuk dalam Mandiri Inkubator Bisnis. Kartika memaparkan, startup yang menjadi unggulan antara lain Teralite (produk peer to peer lending), Erzap (produk ERP untuk UMKM), dan Iwak (crowdfunding yang menyalurkan dana investasi ke para peternak ikan lele di daerah Nganjuk, Jawa Timur). Bank Mandiri menargetkan di tahun 2017 ada sejumlah startup yang potensial diakuisisi. “Saya ingin minimal ada dua perusahaan startup yang kami ambil di 2017. Dari 14 tim tersebut, akan kami lakukan penyaringan. Tetapi, tidak menutup kemungkinan kami ambil perusahaan fintech yang sudah menengah, di luar peserta inkubator bisnis,” ungkapnya.

Dari sisi internal, Bank Mandiri telah mendigitalisasi sejumlah layanannya agar mampu melampaui kompetisi di sektornya. Antara lain, dengan meluncurkan layanan Mandiri E-Cash, produk uang elektronik, pada 20 Mei 2014. Layanan Mandiri E-Cash mendukung strategi retail payment Bank Mandiri. Salah satunya dalam rangka menghimpun dana murah dan fee-based income,” kata Rahmat Broto Triaji, VP Senior Digital Banking & Financial Inclusion Bank Mandiri.

Fitur yang disediakan pun sangat lengkap, dari layanan standar seperti informasi saldo dan transfer sampai beragam transaksi lainnya seperti pembelanjaan ke berbagai merchant, pembelian pulsa, serta pembayaran tagihan rutin telepon dan listrik. Selain itu, transfer pun sangat dimudahkan karena bisa dilakukan ke nomor ponsel tanpa harus menyertakan nomor rekening bank.

Rahmat memaparkan, Bank Mandiri kini terus menggenjot promosi Mandiri E-Cash melalui berbagai media lini atas dan bawah. Selain itu, sejumlah promo dengan merchant pun digelar. Di antaranya, saat ini digelar promo diskon hingga Rp 30.000 untuk pembayaran Grab menggunakan Mandiri E-Cash untuk lima kali perjalanan. “Mandiri E-Cash akan lebih fokus ke komunitas anak muda dan sektor transportasi yang memang membutuhkan solusi kemudahan, kecepatan dan praktis, yang tidak dapat dilakukan dengan menggunakan uang tunai ataupun instrumen pembayaran elektronik lainnya,” kata Rahmat. (Riset: Sarah Ratna Herni)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)