Wajah Baru KAI Pasca Transformasi

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero)), Edi Sukmoro.

Transformasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dilakukan sejak tahun 2010 saat Ignasius Jonan sebagai Direktur Utama KAI. Berikutnya, tahun  2012 dilakukan survei dan observasi guna melangkah pada tahap yang lebih baik. Tepatnya tahun 2012, transformasi wajah baru KAI benar-benar terwujud.

Kini,  tanggung jawab KAI dipegang oleh Edi Sukmoro sebagai orang nomor satu di BUMN tersebut. Menurut Edi, prinsip transformasi adalah mendorong mindset pekerja baru maupun yang sudah ada untuk sejalan dengan visi transformasi yang dilakukan.  Ia bertanggnng  tanggung  meneruskan legacy ini agar dapat bertahan dan menjadi lebih baik di ke depannya.

“Pegawai-pegawai baru harus mendapat mindset sejalan dengan transformasi yang dilakukan KAI, jangan hanya product oriented, namun harus services oriented,” ungkap Edi. Sangat tidak mudah terutama mendorong para pekerja milenial yang baru masuk menjadi services oriented. Baginya, perubahan di angkutan massal dapat dimulai dari wajah baru angkutan kereta api ini.

Beberapa inovasi untuk meningkatkan gairah dan keinginan masyarakat menggunakan jasa KAI terus didorong. Inovasi berbasis pelayanan sudah diterapkan dengan mempermudah pembelian tiket. “Dulu untuk beli tiket harus dilakukan di stasiun, kini banyak gerai ritel yang menyediakan tiket kereta api,” ujarnya. KAI juga menyediakan vending machine untuk pembelian tiket yang dapat dilakukan secara mandiri. Memang awalnya hal baru ini perlu dilakukan edukasi dan pendampingan oleh petugas, namun kini sudah tidak lagi.

Transformasi dari sisi stasiun dilakukan dengan massif melalui standar yang ditetapkan. Meskipun harus bertahap pembenahannya dikarenakan anggaran yang terbatas, namun saat ini telah 100% stasiun besar telah direnovasi. Sedangkan untuk stasiun menengah dan kecil, 70-80% juga telah diperbaiki berdasarkan standar transformasi yang diinginkan. “Kami juga concern pada kebersihan toilet untuk kebutuhan penumpang. Kami menyadari masih dari kata sempurna, namun sudah jauh lebih baik,” urai Edi.

Transformasi KAI untuk menjadi service oriented ini bertujuan untuk memuaskan penumpang. Perseroan berusaha untuk membuat perjalanan penumpang kereta api menyenangkan, bukan malah tersiksa karena perjalanan panjang. “Saat ini fasilitas Wi-Fi pada kereta api juga disipakan. Untuk tahap pertama, baru dilakukan untuk KA Argo Parahiyangan. Tapi saya ingin fasilitas ini akan ada di kerata jarak jauh lain,” ujarnya berharap. Sebelumnya, setiap stasiun telah difasilitasi dengan Wi-Fi. Charging port di dalam kereta api juga tersedia untuk kebutuhan para penumpang.

Untuk menjaga dan terus berkesinambungan dalam proses transformasi ini, Edi selalu menghimbau pada karyawan KAI melalui direktorat masing-masing. Baginya, dua hal yang harus diperhatikan saat melakukan pekerjaan adalah tanggung jawab. Kedua, harus memikirkan hal baru yang kelak dapat menjadi legacy mereka di KAI. “Harus berpikir kreatif dan di luar kebiasaan. Kalau yang muda bisa memberikan usulan yang sifatnya terobosan, pegawai lama yang sebelumnya bekerja ‘biasa saja’ akan ikut terbawa,” jelasnya.

Untuk me-maintain passion pegawai, KAI terus memberikan training yang luar biasa, seperti training hingga ke luar negeri (Jepang, China, Perancis, Australia, Singapura). Hal ini untuk memberikan knowledge mengenai sistem perkeretaapian di dunia untuk dipelajari. Terlebih dengan adanya LRT di Indonesia yang pengelolaannya di bawah KAI, training ini juga menjadi kebutuhan untuk memperkaya diri.

Edi juga berharap KAI dapat menjadi solusi kemacetan dan pilihan utama transportasi masal melalui KRL (kereta rel listrik). Kini KRL telah melayani 1,150 juta orang Jabodetabek setiap harinya. Target pemerintah, KAI harus dapat melayani 1,2 juta orang melalui pada 2019. Kenyataannya target itu lebih cepat tercapai. “KRL pada 2,5 tahun lalu hanya 500 ribu per hari penumpang yang terangkut. Transformasi pada KRL juga mengubah budaya masyarakat yang lebih bagus,” katanya.

Untuk pertumbuhan kereta api jarak jauh tergantung pada jumlah gerbongnya. Karena untuk kereta api jarak jauh, satu penumpang per tempat duduk, sehingga jika tidak dilakukan penambahan gerbong, penumpang yang terangkut juga tidak bertambah. Operasi saat Lebaran selama 22 hari, KAI berhasil mengangkut 6,3 juta penumpang. “Sebenarnya permintaan akan tiket KA sangat tinggi, namun tidak semua terbawa,” ungkap Edi.

Tahun 2018-19 akan datang 438 gerbong  kereta baru buatan INKA. Ini akan menjadi kereta pengganti, terutama kereta api yang telah berusia 30 tahun ke atas. Saat ini masih ada 886 kereta api yang berusia 30 tahunan. “Saya berharap ini sudah harus baru dalam dua tahun. Yang lama jika masih dapat diperbaiki akan kami gunakan,” katanya.

Diakuinya, tantangan transformasi KAI adalah biaya. Menurut Edi, KAI berada di persilangan, satu sisi KAI di bawah perseroan terbatas (PT), namun di sisi lain memiliki misi pelayanan. Dua hal bertolak belakang, ekspansi harus dihitung secara hati-hati. “Kalau KAI hanya PT, kami sudah lari kencang sekali, tidak memikirkan public service. Dengan alasan ini, jalur-jalur tidak ekonomis dihapus. Jalur-jalur yang ‘tidak menguntungkan’ sekitar 20% dari total jalur yang dilayani KAI,” jelas Edi.

Kinerja bisnis KAI di tahun 2017 mencatatkan pendapatan sebesar Rp17,3 triliun, padahal pada 2016 Rp14,6 triliun, tahun 2015 Rp13,9 triliun. Profit KAI pada 2016 mencapai Rp1 triliun, tahun  2017 sekitar Rp1,7 triliun. Targetnya tahun ini akan lebih dari tahun lalu. Dalam 5 tahun ke depan, KAI harus menjadi bagian solusi transportasi umum masyarakat Indonesia. KAI juga mendukung tersambungnya jalur kereta api dari Tanjung Karang hingga Aceh.  Ia meyakini kereta api dapat membangkitkan ekonomi pada jalur yang dilaluinya.

 

Reportase: Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)