Federal Lubricants, Makin Percaya Diri setelah Gabung dengan ExxonMobil

 Patrick Adhiatmadja, Presdir Federal Lubricants
Patrick Adhiatmadja, Presdir Federal Lubricants

Buat para pengendara sepeda motor di Tanah Air, produk oli Federal cukup dikenal dan menjadi salah satu pilihan favorit. Adalah PT Federal Karyatama --dikenal juga dengan nama Federal Lubricants-- yang telah mengembangkannya hingga menjadi salah satu penguasa produk pelumas sepeda motor di Indonesia, yang mudah ditemukan pelanggan di bengkel-bengkel sepeda motor.

Federal Lubricants, yang kini telah berusia 31 tahun, telah sukses bertransformasi dari semula produsen oli untuk pasar original equipment manufacturer (OEM) menjadi pemain di segmen after-market. Keberhasilannya mengembangkan merek dan menguasai pasar menarik minat perusahaan minyak dan gas raksasa dunia ExxonMobil untuk mengakuisisinya dari pemilik lamanya yang terlaksana pada 2018.

Jika menilik ke belakang, tonggak-tonggak penting Federal Lubricants dapat dibagi menjadi tiga periode. Pertama, pembangunan fondasi perusahaan dengan peran sebagai pemasok genuine oil untuk motor Honda pada 1988-2009. Sebagai OEM, Federal tidak terlalu banyak campur tangan dalam riset dan pengembangan (R&D). Yang menjadi perhatian perusahaan oli ini hanyalah masalah kualitas karena mengerjakan sesuai dengan pesanan. Pada masa ini Federal banyak belajar dari perusahaan Jepang terkait sistem manufaktur hingga aktivitas perbaikan terus-menerus pada proses bisnisnya.

Periode kedua, transformasi perusahaan untuk beralih menjadi merek after-market. Federal mulai gencar melakukan aktivitas pemasaran dengan membangun infrastruktur brand. Untuk meningkatkan citra merek, Federal Oil berani menjadi sponsor utama salah satu tim balap Gresini Racing di ajang Moto2 --dijalani secara konsisten sejak 2012.

Produsen pelumas ini memasuki periode ketiga ketika ExxonMobil merampungkan akuisisinya pada 2018. Nilai akuisisi ExxonMobil atas perusahaan ini senilai US$ 436 juta (Rp 6,08 triliun), mencakup kepemilikan atas merek dagang Federal Oil dan Lube Oil Blending Plant (LOBP) yang berkapasitas 100 juta liter atau sekitar 700 ribu barel per tahun di Cilegon.

Bagaimana strategi Federal Lubricants hingga produk olinya bisa disukai pengendara motor? Menurut Patrick Adhiatmadja, Presdir Federal Lubricants, pihaknya tidak hanya berusaha mengemas produknya dengan pemasaran yang bagus, tetapi juga menghadirkan produk pelumas yang berkualitas. “Marketing dan branding adalah sebagai kemasan, tetapi produk inti yang dikemas harus merupakan barang bagus,” ujar Patrick.

Produk pelumas Federal Lubricants, menurut Patrick, punya kelebihan karena ditunjang pemilihan bahan baku oil-based dan bahan additive-nya, juga kemampuan formulasinya. Setelah diakuisisi ExxonMobil, keseluruhan suplai oil-based berasal dari ExxonMobil. Sementara bahan additive diimpor karena belum ada perusahaan lokal yang memproduksinya. Penggunaan teknologi modern yang tepat-guna juga sudah diterapkan di pabrik seluas dua hektare di Cilegon, tempat relokasi pabrik sebelumnya di Pulogadung, Jakarta.

Pabrik LOBP Cilegon memiliki sistem kendali yang terintegrasi, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga barang jadi. Pabrik ini juga sudah menggunakan teknologi otomasi, yakni sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition).

Mengapa pihaknya harus terus meningkatkan teknologi manufakturnya? Menurut Patrick, pada prinsipnya perkembangan produk pelumas sejalan dengan perkembangan mesin sepeda motor. Dengan tren teknologi motor yang lebih canggih, kemampuan olinya pun harus bisa mengikuti. “Dengan dukungan teknologi yang digunakan di LOBP Cilegon, kualitas produksi tentunya bisa jauh lebih presisi,” kata Patrick.

Federal Lubricants juga membangun R&D serta laboratorium. Pusat riset ini diperkuat sejumlah ahli tribologi, ilmu yang terkait dengan gesekan, keausan, dan pelumasan.

Patrick mengungkapkan, berdasarkan survei mengenai aspirasi konsumen dalam penggunaan oli, sebagian besar konsumen khawatir terhadap mesin panas yang dapat memengaruhi performa. “Maka. kami menugaskan kepada tim ahli untuk menciptakan oli yang lebih dingin,” ujarnya. Hasilnya, ia mengklaim, pada titik operasional tertinggi, produk oli Federal beberapa derajat Celcius lebih dingin.

Federal Lubricants juga mengembangkan fasilitas dyno test, suatu pengujian untuk mengetahui efek pemakaian pelumas terhadap performa mesin. Setelah melalui dyno test statis di dalam ruangan, produk Federal Oil diuji coba langsung pengendara motor yang bersedia menjadi relawan. “Setelah produknya bisa diuji secara empiris, kami mengemasnya ke dalam branding ‘Spesialis Dingin’, sehingga ketika konsumen pakai, persepsi dingin bisa terbukti,” kata pria kelahiran Semarang tahun 1964 itu.

Proses dari pencarian market insights, pengembangan produk, testing, sampai peluncuran produk bagi Federal Lubricants membutuhkan waktu beberapa bulan. Saat ini ada 18 jenis/stock keeping unit (SKU) varian oli yang diproduksi Federal Lubricants, baik oli mineral maupun oli sintetis. Lini produk Federal Oil terbagi mulai dari kategori produk mainstream, produk value for money, hingga produk premium.

Untuk kelas premium, ada merek Federal Racing dan Federal Super Racing. Produk premium ini menggunakan oil-based esther technology dan additive khusus yang direkomendasikan untuk motor balap (racing) dan sport. Untuk kelas value for money, ada merek Federal Supreme XX untuk pelumas sintetis mesin motor 4T transmisi manual. Sementara untuk kelas mainstream, ada merek Ultratec dan Ultratec Matic.

Setelah bergabung dengan ExxonMobil, akan ada proses dual-brand integration antara merek Federal Oil dan Mobil Super Moto. Produk oli mobil akan bermuara pada merek Mobil. Tahun depan, pabrik LOBP Cilegon akan mulai memproduksi beberapa produk ExxonMobil, yaitu Mobil Super Moto dan Mobil. Bahkan, produk pelumas untuk pelaku industri atau armada (fleet) juga akan diproduksi di Cilegon. “Sampai saat ini kapasitasnya masih memungkinkan,” kata Patrick.

Federal Oil, diklaim Patrick, saat ini menjadi pemimpin pasar dengan menguasai sekitar 20% pangsa pasar pelumas sepeda motor. Sementara itu, jaringan distribusinya didukung 36 distributor yang tersebar secara nasional, dengan gerai aktif sebanyak 32 ribu bengkel.

Target usaha kami adalah mempertahankan posisi dan dominasi di kategori pelumas roda dua,” Patrick menegaskan. Langkah selanjutnya, mencoba meraih pangsa pasar yang signifikan di kategori pelumas roda empat, memperkuat jaringan distribusi, dan memperbesar pasar oli industri. “Dengan menjadi perusahaan global yang tetap mempertahankan kearifan lokal, kami yakin bisa mencapai target tersebut,” kata Patrick. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)