Investree, CINTA Memperkuat Akar dan Pohon Pengembangan SDM

Adrian Gunadi, CEO Investree.
Adrian Gunadi, CEO Investree.

Adrian Gunadi, CEO Investree, usai santap malam bersama empat koleganya, membagikan momentum bahagia itu di aplikasi Roots. Adrian menuliskan, “Dinner with our friends at Modalku. Kita mau atur friendly game futsal.”

Di kesempatan lainnya, pada 28 Agustus 2019, Adrian menginformasikan pengembangan bisnis Investree. Dia bersama dua rekannya melempar senyum di depan kamera tatkala sedang di restoran Manila, Filipina. “Makan burgers bersama di Manila dengan local advisor Investree. Tonggak awal Investree di Manila,” demikian Adrian menulis di akun pribadinya itu.

Roots adalah aplikasi media sosial yang hanya bisa diakses oleh bos dan pegawai Investree. Aplikasi itu diberi nama Roots karena menyimbolkan akar dari budaya kerja Investree yang diharapkan menumbuhkan tingkat produktivitas pegawai.

Informasi yang dibagi di platform medsos bikinan Investree ini bermacam-macam, misalnya kegiatan pegawai kantor, pengetahuan, inovasi produk, finalisasi proyek, ucapan selamat ulang tahun, berita duka cita, atau data terkini mengenai pencapaian Investree. Irwan, pegawai Investree di bidang Administrator Database, misalnya, mengunggah pencapaian Investree dalam sehari yang disajikan berupa infografis, yang mencantumkan jumlah pemberi pinjaman dan peminjam, pengunjung website Investree, serta nilai pinjaman (investasi), juga jumlah pengunduh aplikasi Investree di Apple App Store dan Google Play Store di hari itu.

Unggahan bos Investree dan Irwan di Roots itu ditunjukkan oleh Ariyo Putro, Chief of Human Capital Investree. Aktivitas ini merupakan salah satu cara perusahaan dan pegawai mengimplementasikan nilai-nilai korporat yang diusung Investree, yakni CINTA, akronim Collaboration, Innovation, Integrity & Agile. Di aplikasi Roots, setiap pegawai dan pemimpin bisa memberikan apresiasi terhadap pencapaian anggota tim, rekan kerja, atau atasan dalam konteks penerapan nilai CINTA,” ungkap Ariyo.

Nilai CINTA ini memandu perilaku 202 pegawai Investree. Sebanyak 56% dari jumlah total pegawai Investree adalah pegawai kelahiran 1980-1994 (generasi milenial atau Gen Y), disusul pegawai kelahiran 1995-2015 alias Gen Z (33%), dan Gen X (kelahiran 1965-1979) yang porsinya 11%.

Values dan core competencies kami diterjemahkan dalam dua kata, yakni CINTA dan Nutrients, sebagai pupuk untuk menumbuhkan pohon pengembangan SDM. Nah, kami menggunakan istilah ini sebagai core competencies,” tutur Ariyo. Nutrients mencakup pengembangan pegawai, fokus melayani konsumen, transformasi kepemimpinan, komitmen, inovasi, eksekusi strategis, kemitraan strategis, entrepreneurship, dan kecepatan beradaptasi. Aspek ini dijadikan acuan bagi pegawai untuk merespons dan mudah beradaptasi di industri peer to peer (P2P) lending.

Investree, perusahaan P2P lending yang didirikan pada 2015, mencatatkan pertumbuhan bisnis yang mengundang decak kagum. Gambarannya begini. Nilai pinjaman yang tersalurkan hingga 27 April 2020 mencapai Rp 3,96 triliun. Sepanjang periode itu, pinjaman yang dilunasi senilai Rp 3,33 triliun. Pendapatan Investree tumbuh berlipat ganda dalam tiga tahun terakhir dan dipercaya pemodal besar yang menyuntik dana investasi. Investree baru-baru ini memperoleh pendanaan seri C sebesar US$ 23,5 juta dari Mitsubishi UFJ Financial Group, Inc. dan BRI Ventures.

Roda bisnis yang melaju cukup kencang itu beriringan dengan penambahan pegawai. Jumlah pegawai Investree bertambah dari 10 orang di tahun 2015 menjadi 202 pegawai saat ini, yang tersebar di Indonesia, Thailand, dan Filipina. Agar menciptakan pertumbuhan bisnis bernilai tambah, Divisi SDM Investree mempraktikkan strategi organizational & people, people acquisition & development, culture & engagement excellence services, serta performance & reward.

Adrian Gunadi, CEO (paling kiri) & Ariyo Putro, Chief of Human Capital (no 4 dari kiri), bersma Tim Investree

Praktik pengembangan SDM berbasis teknologi adalah oli pelumas untuk memuluskan mesin pertumbuhan bisnis dan meningkatkan kualitas pegawai. Untuk itu, pegawai Investree diwajibkan menempuh pendidikan Augmentree (Accelerated Upgrade for Management Leaders at Investree).

Tahap pertama Augmentree diawali dengan mengindentifikasi minat dan kompetensi pegawai. Kemudian, si pegawai mengikuti pelatihan kepemimpinan, yang dilanjutkan fase merancang dan menjalankan proyek bisnis tertentu. ”Pegawai menjalankan project ini dibimbing oleh supervisor dan ada project report serta monitoring. Tahapan terakhir adalah evaluasi setelah mereka mempresentasikan project-nya di hadapan komite,” Ariyo menerangkan.

Proyek ini diharapkan menjadi model bisnis terbaru atau inovasi yang bisa diimplementasikan. “Salah satu contoh hasil project yang sudah dikembangkan menjadi bisnis baru di Investree, yakni Billtree, yaitu e-invoice untuk pembiayaan UMKM, New Core sebagai platform pendukung bisnis, dan DANCE (Data Analytics and Center of Excellence) untuk support semua kebutuhan data dalam keseharian Investree,” tutur Ariyo. Untuk diketahui, salah satu hasil Augmentree yaitu ekspansi bisnis Investree ke Thailand dan Filipina.

Inovasi, ekspansi bisnis, pengembangan produk, dan operasional termutakhir itu merupakan hasil manis upaya melatih SDM secara berkesinamungan, menciptakan suasana kerja santai (jam kerja fleksibel, menyediakan konsol game atau membentuk komunitas hobi/olahraga), disiplin dan berorientasi target, serta mengoptimalkan teknologi informasi. Ariyo mengemukakan, Investree menggunakan aneka macam platform digital. Antara lain, Google Calendar untuk menjadwalkan rapat, Slack untuk mengintegrasikan komunikasi antarpegawai yang sedang menangani proyek bisnis, Trello dan Jira sebagai peranti mengelola dan memantau pengembangan proyek bisnis, serta Tableau untuk mengoptimalkan big data.

“Yang terbaru, Suntree, platform e-learning yang fitur-fiturnya, antara lain, menyediakan modul, gamification, tes, streaming presentasi. Ada gimmick-nya juga supaya pegawai semangat belajar, yaitu give away yang hadiahnya sepatu sneakers kekinian atau saldo GoPay atau Ovo,” imbuhnya.

Investree merasakan dampak positif pengembangan program SDM. Indikatornya adalah produktivitas pegawai tahun 2018-2019 naik 50%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 2017-2018 yang sebesar 7%.

Adapun jumlah pemberi pinjaman (investor/lender) di tahun 2019 sebanyak 14.144, lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 (6.261) dan 2017 (1.871). Begitu juga jumlah peminjam (borrower) yang tumbuh 81,73%, atau menjadi 2.299 peminjam dari 1.265 peminjam pada 2018.

Engagement juga kami ukur, sebanyak 89% employee di Investree yang engaged. Sebelum ada aplikasi Roots itu, masih di angka sekitar 71%. Tiga hal yang membuat karyawan engage adalah work and life balance, leadership, dan social conncetion,” Ariyo mengungkapkan.

Totalitas Investree memoles pegawainya itu diganjar penghargaan di ajang HR Excellence Award 2020 kategori Learning & Development dan HR Technology. Masing-masing memperoleh rating “A”. (*)

Arie Liliyah & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)