Anthony Utomo, Melesatkan Kembali Utomodeck Setelah Terpuruk

Sebagai generasi kedua, Anthony Utomo telah membawa perubahan besar di PT Utomodeck yang sempat akan ditutup oleh generasi pertama, yaitu Darmawan Utomo atau ayah Anthony. Padahal perusahaan yang menjual produk atap bangunan ini pernah jaya dan jadi penguasa pasar di zamannya. Namun karena persaingan yang semakin sengit dan berbagai masalah yang dihadapi, perusahaan yang sudah berusia 40 tahun ini sempat limbung. Beruntung generasi kedua mampu membuat berbagai inovasi dan terobosan sehingga perusahaan  berkibar kembali.

Saat Anthony bergabung dengan Utomodeck di 2010, perusahaan ini sedang bermasalah. “Kami sempat rugi lama dan turun banyak, tapi kami tidak bisa share angkanya berapa. Pak Utomo sendiri sudah melewati masa keemasan, pernah menjadi market leader. Lalu perusahaan diserahkan kepada profesional, tapi ternyata banyak manajemen yang bermasalah,” kata anak pertama dari dua bersaudara ini.

Anrhony Utomo, Direktur Operasional dan Pemasaran PT Utomodeck. Anrhony Utomo, Direktur Operasional dan Pemasaran PT Utomodeck.

Tahun 2005-2008 merupakan masa sulit. Tahun 2008 terjadi krisis bahan, manajemen internal yang kurang apik, positioning bisnisnya tidak jelas, dan dihantam masalah dari faktor eksternal. “Dulu Pak Utomo sudah ingin menutup bisnis ini karena banyak permasalahan internal. Bisnisnya Pak Utomo banyak seperti pabrik kapal pupuk, tambang, dan yang lainnya. Jadi dia pikir buat apa mempertahankan satu usaha yang tidak berkembang lagi,” ujar Anthony yang sekarang menjabat Direktur Operasional dan Pemasaran PT Utomodeck.

Kini di tangan generasi kedua, Utomodeck mampu melakukan turnaround sehingga kinerja bisnisnya terus melesat. “Dibanding tahun 2010, omset kami naik 11 kali lipat dalam 6 tahun ini. Dulu tidak sampai segitu dan pasarnya terus tergerus sehingga penurunan bisnis bisa lebih dari 30% dan terendah 70% di masa sulit. Itu akumulasi dalam beberapa waktu,” ungkapnya.  Sekarang,  setiap tahun – kecuali tahun 2015 – rata-rata pertumbuhan 100%, dan 80% kenaikan dihasilkan dari mobile system, yaitu membuat atap yang dibuat langsung di tempat konsumen. Sayang ia tidak bersedia mengungkap angka kinerja bisnsinya.

Demikian pula dengan pasarnya yang dulu kecil  hanya jual di toko sendiri (sebutannya jual lepas), sekarang konsumennya makin bervariasi, mulai dari kontraktor, pemilik bangunan, dan stokist. “Sekarang kami sudah punya kantor baru dengan kapasitas dua kali lipat dari kantor lama. Proyek yang kami kerjakan seimbang antara pemerintah dan swasta: 50%-50%. Dulu kami bermain di pasar B2C atau ritel, sekarang ke B2B atau proyek 80% dan perumahan 20%,” papar pria kelahiran Surabaya, 17 Juni 1986 ini. Proyek yang digarapnya pun tidak hanya di Indonesia, tetapi merambah Singapura dan  Macau  untuk proyek pembangunan kompleks olahraga selama 6 bulan.

Salah satu milestone yang dilakukan peraih gelar Bachelor of Arts dari Central Washington University Lynnwood ini terjadi pada 2014. Kala itu, Utomodeck mendapat proyek untuk membuat  atap tanpa sambungan sepanjang 200 meter di PLN Rembang, Jawa Barat. Nah, atap tanpa sambungan ini merupakan salah satu inovasi generasi kedua Utomodeck.

Kalau dibandingkan, atap konvensional itu biasanya setelah diproduksi dipotong sesuai dengan ukuran di pasar. Lalu dikirim menggunakan truk ke toko-toko, diturunkan, dan masuk ke gudang. Kemudian dijual ke proyek dengan menggunakan angkutan lagi. Dengan demikian, semua proses untuk membuat sebuah atap jadi panjang dan akan banyak cacat atau kerusakan pada atap tersebut.

Belum lagi proyek di Indonesia itu tersebar di berbagai wilayah dan pulau, proses pengangkutan atap pun bisa menjadikan atap lebih rusak. Pasalnya, banyak jalan yang rusak, transportasi tidak memadai, alat yang kurang, dan yang lainnya. Jadi keluar dari pabrik, bentuk atap sempurna, sampai ke konsumen sudah mengalami cacat sampai sekian puluh persen. Parahnya, yang menyadari kerusakan ini hanya produsen atap bukan konsumen karena atap dipasangnya di atas bangunan.

“Akhirnya kami mulai mempelajari proses logistik di Indonesia. Kami melihat bahwa kerusakan terjadi karena faktor eksternal. Kami pun memangkas semua jalur tadi dengan membawa pabriknya langsung ke tempat proyek atau mobile system. Jadi kami bawa bahan yang berbentuk gulungan dengan satu mesin,” ungkap mantan General Manager PT Balai Lelang Tunjungan tahun 2007-2010 ini.  Konsepnya sama seperti toko roti BreadTalk yang menyajikan pembuatan roti di depan konsumen langsung.

Keunggulannya, selain memangkas proses logistik yang panjang, atap pun masih mulus, dan bisa dibentuk sesuai dengan keinginan konsumen. Nantinya alat akan dibawa  truk, diletakkan di depan proyek, lalu atap yang fresh from the oven ditembak ke atas, langsung menjadi atap dan menutup kerangka bangunan.

Konsep ini sekaligus memotong proses menaikkan atap dari bawah ke atas dengan menggunakan alatnya, sehingga atap tetap dalam keadaan baik. Selama ini, proses menaikkan atap dengan menggunakan tali atau bahan yang bisa membuat atap cacat. Selain itu, dengan sistem yang diterapkan Utomodeck ini, atap yang dibentuk bisa pas sesuai dengan keinginan konsumen dan bisa memotong biaya produksi atap. Kelebihan 30 cm saja, kalau dikalikan dengan rupiah, akan menjadi tinggi nilainya.

“Inovasi ini membuat kami bisa lebih cepat dalam pengerjaan proyek. Kami juga bisa menghemat 30%,  baik dari segi kecepatan maupun biaya,” katanya. Selain itu, pihaknya pun diuntungkan dengan momentum untuk bisa mengembangkan bisnis atap ini. Karena saat ini selain sedang era otonomi daerah, juga banyak pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah pusat.

Anthony Utomo dan ayahnya, Darmawan Utomo Anthony Utomo dan ayahnya, Darmawan Utomo

Kendati begitu, banyak tantangan yang dihadapi dalam membesut bisnis ini. Tantangan tersebut harus bisa diolah menjadi peluang. Misalnya, Utomodeck berinovasi di bidang solar panel yang masih terkait dengan bisnis atap. Perusahaan ini membuat perangkat sistem solar di atap. Kalau dibandingkan, pada atap solar konvensional, sistemnya menggunakan baut. Jadi di bawahnya itu diberi lubang semuanya. Sistem solar ditempel di atas atap menggunakan baut. Kekurangannya karena bolong  maka sewaktu hujan yang di bawahnya bisa terkena air sehingga basah. Utomodeck pun sudah berinovasi bagaimana membuat sistem solar tanpa lubang dan bisa bertahan 10 tahun.

Harus diakui generasi kedua Utomodeck telah membawa berbagai perubahan baru. “Dulu fokus di 4P, yaitu price, people, promotion, product. Sekarang 4P kami ganti menjadi passion, purpose, persistence, dan profit. Setelah tahun 2010, kami pun mulai serius menggarap capacity building,” cetusnya sambil mengungkapkan, karyawannya saat ini sebanyak 400 orang, dan sering mengirim mereka ke training centre di Batu, Malang untuk diberi pelatihan.

Selain itu, strategi menggarap pasar pun diubah. “Dulu, kami menjual ke pemasok dan pemasang atap, kini strateginya kami ubah, kami mendekati pemilik proyek, konsultan, stokist, dan kontraktor. Intinya, kami dekati orang-orang yang memiliki pengaruh dalam pelaksanaan proyek,” ucapnya.

Tahun ini, Utomodeck fokus menggarap proyek pembangkit dan pemberi solusi energi, karena ini isu yang harus diangkat melalui solar panel. Adapun di 2017, pihaknya hendak fokus ke luar Jawa sejalan dengan pabriknya di Makassar akan selesai akhir 2016. Kemudian mau membuat pabrik lagi di Medan, Kalimantan, dan tempat lainnya. Pabrik akan dibuat di luar Jawa agar bisa mempercepat proses produksi.

Jadi pabrik tidak akan dibuat satu yang besar seperti di Jawa, melainkan dibuat pabrik kecil-kecil dan dekat dengan wilayah proyek. Dengan begitu, jika akan mengirim alat dan barang bisa lebih murah dan cepat, karena bisnis atap seperti yang dikembangkan Utomodeck harus dekat dengan konsumen. Inovasi produk baru pun terus dilakukan. Setahun bisa mengeluarkan 6 jenis produk inovatif. Seperti tahun ini, pihaknya telah meluncurkan solar panel.

Sekarang, ada 7 proyek yang sedang digarap Utomodeck, di antaranya proyek di Pupuk Sriwijaya, Pupuk Palembang, Semen Padang, dan pabrik baja di Cilegon. Dan hampir setiap minggu ada saja proyek baru.

Sementara itu, Darmawan Utomo  mengungkapkan bahwa Anthony  sudah memperlihatkan ketertarikan pada bisnis ini semenjak kuliah. Misalnya dengan memikirkan konsep website perusahaan dan bagaimana agar produk ini bisa disertifikasi di Amerika Serikat. Namun Utomo, panggilan Darmawan Utomo, tidak pernah memaksakan anaknya untuk meneruskan bisnis atapnya ini. “Semua anak punya passion masing-masing. Saya bebaskan mereka mau seperti apa, bahkan dalam melanjutkan bisnis ini,” katanya. Dan Anthony pernah mencoba di perusahaan lain, tetapi ia bisa melihat sendiri bahwa melanjutkan itu lebih mudah daripada membangun semuanya sendiri

Utomo pun melihat kalau Anthony itu mirip dirinya. “Saya melihat dia seperti saya, kalau dia dilepas, dia akan berkembang, dia inovatif dan bisa melihat ke depan,” ucapnya bangga. Toh, Utomo tetap pula memberikan masukan pada anaknya bahwa manusia hidup itu harus menjunjung tinggi nilai kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi maupun perusahaan. Utomo menginginkan anaknya bisa terus memegang nilai-nilai tersebut dan ditempatkan di atas segalanya.

Dede Suryadi dan Aulia Dhetira

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)