Angreta Chandra, Bawa White Horse Makin Relevan di Era Digital

Angreta Chandra, Direktur Utama PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk.

Salah seorang figur wanita yang tidak boleh diabaikan di sektor transportasi adalah Angreta Chandra, yang kini menjabat Direktur Utama PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk. Di bawah komandonya, perusahaan armada transportasi yang lebih dikenal dengan nama White Horse Group itu kini mengarah pada perubahan berbasis teknologi digital.

Dengan pengalaman selama 40 tahun bersama Grup Panorama melayani industri pariwisata, White Horse tampaknya berusaha tetap relevan mengikuti perkembangan era digital. Caranya, dengan memperkenalkan pemesanan bus secara online.

Karier Angreta berkembang cukup pesat di bawah payung White Horse Group. Ia bergabung sejak 2007 sebagai manajer senior finance accounting. Dalam waktu singkat, pada 2008, ia diangkat menjadi direktur keuangan. Angreta lalu dipercaya untuk memimpin perusahaan, sebagai dirut, sejak 2015.

Latar belakang pendidikan Angreta tak jauh dari dunia bisnis. Ia merupakan lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Tarumanagara. Gelar Magister Manajemen didapatkannya dari Swiss German University, dan gelar Master of Business Administration dari Ernst-Abbe-Hochschule Jena, Jerman.

Menurut Angreta, pengembangan perusahaan secara digital dilakukan agar White Horse dapat memperkenalkan produknya ke masyarakat yang lebih luas, bukan hanya sebagai perusahaan penyewaan bus pariwisata, melainkan pelayanan transportasi darat yang terintegrasi. Adanya platform digital yang diluncurkan sejak 2017 ini diharapkan dapat mempermudah dan mempercepat proses pemesanan bus dengan fleksibilitas tinggi.

Kelebihan online booking ini, antara lain, perusahaan dapat menawarkan jasa penyediaan bus yang tidak terbatas dengan armada sendiri tetapi juga didukung oleh mitra transportasi penyewaan bus lainnya. Dengan demikian, kapasitas layanan White Horse menjadi lebih besar.

Selama ini, layanan White Horse telah hadir di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bali, Palembang, dan Bandung. “Dengan platform ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar terhadap bus pariwisata di daerah-daerah yang bekerjasama dengan mitra atau perusahaan transportasi daerah setempat,” kata wanita berusia 42 tahun ini.

Di samping itu, pada platform online tersebut terdapat fitur tambahan, yakni WEHA Mart, di mana pelanggan dapat membeli makanan, minuman, snack, tiket masuk objek wisata, atau kebutuhan travel lainnya. “Jadi customer yang mau outing setelah pesan bus, mereka tidak perlu repot untuk mengurus makanan, karena cukup pesan dan bayar. Bahkan, harga makanan dan minumannya sama ketika kita membeli langsung dari gerainya,” ia menjelaskan.

Angreta meyakini peluang dalam industri pariwisata semakin terbentang luas karena didukung dengan pembangunan infrastruktur jalan. “Kita tahu saat ini pengembangan infrastruktur Indonesia sudah meluas, bukan hanya di Pulau Jawa dengan beroperasinya jalan tol Trans-Jawa, namun ada juga tol Trans Sumatra, lalu selanjutnya ada tol Kalimantan,” kata perempuan yang juga hobi traveling ini.

Selain jasa transportasi, White Horse juga mendiversifikasi bisnis dengan menyediakan jasa traveling berupa open trip melalui fitur Explorer yang dikelola oleh anak perusahaannya, sehingga bisa memaksimalkan unit operasi. “Untuk persaingan dengan bisnis transportasi online atau dengan open trip lain, kami bukan menghadapinya namun justru ikut serta di dalamnya. Kami tidak anggap mereka pesaing, tetapi kami melengkapi,” tutur Angreta.

Di tengah proses transformasi yang berlangsung, sebagai seorang profesional, Angreta mengakui bahwa peran terpenting sebagai leader adalah ikut terlibat bersama tim. “Karena ini adalah masa-masa transformasi, saya ikut terlibat langsung dalam proses keseharian mereka, langsung memonitor mereka, langsung mendengarkan masukan dari mereka, lalu kami diskusi untuk mencari jalan keluarnya,” ungkapnya. “Saya membuat hubungan tidak ada gap,” katanya lagi.

Meski mayoritas karyawan White Horse adalah laki-laki --seperti kru perjalanan, mekanik, dan bagian operasional-- Angreta tidak membedakan karyawannya. “Saya berbicara pada satu pandangan ke mana arah dan tujuan perusahaan. Jadi, berdasarkan itu kami menempatkan posisi sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing,” ia menegaskan.

Dalam pengembangan SDM, Angreta bersama dewan direksi memberikan pemahaman dan pandangan bahwa sudah saatnya perusahaan harus masuk ke arah digitalisasi. Upaya pemberian pemahaman ini antara lain dilakukan melalui pelatihan.

Hasil dari kepemimpinan Angreta terlihat dari kinerja perusahaan yang membukukan hasil positif pada 2018. Perusahaan ini memperoleh kenaikan pendapatan 15,5 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 159,85 miliar dari sebelumnya Rp 138,29 miliar pada tahun 2017. Namun, memang perusahaan ini masih mencatatkan penurunan laba bersih 98 persen yoy dari Rp 48,42 miliar menjadi Rp 1,02 miliar di akhir 2018.

Tahun ini, Angreta mengungkapkan, perusahaannya akan lebih banyak meremajakan armada miliknya. Kemudian, juga akan meningkatkan sinergi antarlini-bisnis bus charter dan intercity shuttle untuk meningkatkan unit jalan di setiap lini bisnis.

Bus White Horse terdiri dari bus reguler (Deluxe), premium (Premiere), dan luxury bus (WEHA One), dilengkapi fasilitas yang sesuai dengan kategorinya. Hingga saat ini, total keseluruhan unit bus yang dimiliki White Horse sekitar 300 unit.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)