Bonifasius, Presdir Golden Energy Mines: Menciptakan Pertumbuhan yang Bermakna

Bonifasius, Presdir PT Golden Energy Mines Tbk.
Bonifasius, Presdir PT Golden Energy Mines Tbk.

Bonifasius, namanya. Namun, cukup panggil saja Boni. Lelaki berusia 54 tahun ini menjadi orang nomor satu di PT Golden Energy Mines Tbk. per 25 November 2016. Sejak menjadi nakhoda perusahaan yang berkode GEMS di Bursa Efek Indonesia ini, dia tahu bahwa tantangannya adalah satu: menciptakan pertumbuhan yang bermakna.

Bukan tanpa maksud dia menyatakan demikian. Di mana pun, terlebih saat ini ketika pemanasan global digugat di seantero bumi, kiprah perusahaan batu bara selalu disorot tajam. Bersama perusahaan ekstraktif lainnya, mereka sering dipersepsikan beroperasi secara tidak seimbang: hanya mementingkan saku investor dan pemegang saham, dengan mengabaikan kepentingan lingkungan dalam jangka panjang. Artinya, perusahaan hanya mencetak pertumbuhan yang bermakna bagi satu sisi, dan mengabaikan sisi lain.

Inilah yang menjadi prioritas Boni. Dia ingin perusahaan yang dipimpinnya tidak bertindak seperti itu. “Bermakna artinya pertumbuhan dapat dirasakan oleh seluruh stakeholder. Tidak tumbuh sendirian. Bisa mengurangi kemiskinan masyarakat sekitar, meningkatkan kesetaraan taraf hidupnya, dan menjaga pelestarian lingkungan,” katanya.

Realisasinya, GEMS berupaya tumbuh dengan mengindahkan prinsip sustainability growth yang memperhatikan keseimbangan triple bottom line (people, planet, profit). Di luar aktivitas ekonominya di lapangan, Boni secara aktif berupaya membawa perusahaan yang dipimpinnya memberikan makna untuk stakeholders-nya di sejumlah bidang. Di antaranya, (1) Program Pemberdayaan Ekonomi lewat penguatan kelembagaan bisnis desa (Bumdes, KSU) dan pembangunan UKM Center; (2) Program Perbaikan/Peningkatan Edukasi, seperti peningkatan kompetensi guru, pemberian beasiswa, serta peningkatan sarana sekolah di sekitar area; (3) Program Peningkatan Kesehatan, seperti pembuatan sanitasi dan pengadaan air bersih; dan (4) Program Perbaikan Infrastruktur, misalnya pemasangan listrik gratis untuk warga sekitar tambang.

Perusahaan juga senantiasa melibatkan masyarakat sekitar, misalnya diseleksi untuk menjadi driver, memasukkan truk, dan sebagainya. Intinya, masyarakat harus dibawa tumbuh juga bersama-sama,” katanya menandaskan.

Pada aktivitas ekonominya sendiri (bottom line), Boni membawa GEMS terus menjalani transformasi dari perusahaan skala kecil-menengah menjadi skala besar. Hal itu tecermin dari peningkatan produksi dan revenue dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan mencatatkan peningkatan produksi batu bara tahun 2016-2019, dari 9,5 juta ton menjadi 30,5 juta ton. Adapun peningkatan revenue 2016-2019 sebesar 188%, dari US$ 385,95 juta menjadi US$ 1,1 miliar.

Boni, yang sebelumnya menjadi chief operating officer ini, menjelaskan bahwa transformasi itu terjadi karena tiga hal yang mereka lakukan penuh komitmen, yakni: mengelola stakeholder, menjaga kestabilan organisasi, dan memberikan kepercayaan kepada organisasi untuk melakukan inovasi dengan cara berinteraksi serta mengelola kinerja secara bertanggung jawab.

Khusus untuk urusan inovasi, GEMS berinovasi melalui penerapan digitalisasi, baik dalam pengolahan maupun pemakaian alat. Antara lain, pada alat untuk mengukur tanah dengan mengubah dari penggunaan theodolite menjadi radar sehingga dengan sekali terbang bisa mengukur area lebih luas dan efisien. Kemudian, penimbangan dengan scanner. Berikutnya, pemanfaatan GPS yang dihubungkan dengan menara sehingga bisa memantau kecepatan mobil dan aktivitas sopir demi menjaga safety. Ditambah juga meeting rutin dengan video conference untuk mengontrol aktivitas.

Semuanya sudah dimulai tahun ini, dan tahun-tahun depan akan semakin kami setting. Disusul juga nanti pada produksi akan di-linked dengan suatu sistem sehingga akan terintegrasi. Kami zero accident tahun 2019, artinya tidak ada korban jiwa. Tim rescue kami juga sangat kuat dengan peralatan lengkap,” tuturnya.

Kendati ada unsur teamwork, pencapaian dan strategi yang berjalan di atas tak terlepas dari peran kepemimpinan yang berusaya dijalankan Boni sebaik-baiknya. Sebagai perintis, dia menentukan target GEMS yang selaras dengan visi-misi dan mengomunikasikannya kepada organisasi. Sebagai penyelaras, dia mengatakan, hal ini terkait stakeholder management. Mengingat tingkat kemampuan setiap orang tidaklah sama, dia berupaya menciptakan teamwork yang kuat. Review rutin dan one-on-one meeting aktif digelarnya agar dapat memetakan masalah dan menyelesaikannya dengan lebih cepat.

Adapun sebagai pemberdaya, dia menggerakkan karyawan melalui talent management & development melalui job enlargement. Dalam hematnya, langkah terpenting memberdayakan karyawan adalah dengan memberikan kepercayaan. Kegagalan dalam empowerment, katanya, sering terjadi karena pemimpin belum rela untuk menyerahkan kepercayaan kepada timnya.

Lalu sebagai panutan, Boni berusaha walk the talk terkait integritas, loyalitas, komitmen, perbaikan keberlanjutan, dan inovasi. Apa yang dikatakan, itulah yang dijalankannya. “Karena sebagai pemimpin, kalau hanya bicara tapi tidak dikerjakan, atau apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan, bagaimana orang mau patuh?” katanya. Dia bahkan meyakini peran signifikan peran modelling. “Menurut saya, modelling adalah ilmu dari segala kepemimpinan. Harus memberikan contoh yang baik dan benar.”

Di atas itu semua, alumni Akuntansi Universitas Gadjah Mada ini mengatakan bahwa selain memberi makna bagi stakeholders, adalah juga penting bagi seorang pemimpin untuk membuat orang-orang yang dipimpinnya dalam organisasi juga merasakan hidupnya bermakna.

Ya, menurutnya, dia harus membuat karyawannya merasa menjadi bagian penting dari organisasi dan merasa hidupnya bermakna. Makna, katanya, adalah nilai dalam hidup yang akan memandu seseorang untuk bekerja dengan hati, sehingga mereka memberikan yang terbaik dan perusahaan memberikan yang terbaik pula. Total karyawan inti GEMS saat ini sekitar 700 orang. Kalau digabung dengan subkontraktor, mencapai kurang-lebih 7.800 orang.

Saat ini GEMS memiliki empat area tambang, di Kalimantan Selatan (produksi terbesar), Kalimantan Tengah, Jambi, dan Sumatera Selatan. Boni menjelaskan, untuk tahun 2020, perusahaan menargetkan produksi mendekati 36 juta ton, naik 20% dibandingkan tahun 2019.

Selain mengejar target perusahaan, GEMS juga berupaya membantu target pemerintah terkait proyek listrik 35 ribu MW yang 70% bahan bakarnya menggunakan batu bara. Seraya membantu mengejar target tersebut, Boni menyatakan, pihaknya tetap akan berupaya menjalankan pertumbuhan yang berkesinambungan sehingga bermakna bagi semua stakeholder-nya. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)