Christian Kartawijaya, Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa: Bangun Optimisme di Tengah Sengitnya Persaingan

Christian Kartawijaya, CEO PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk
Christian Kartawijaya, CEO PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

Lanskap bisnis yang banyak berubah benar-benar membuat Christian Kartawijaya harus berpikir keras agar perusahaan yang ia pimpin, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., tetap bisa bertahan dan mampu menjaga pengusaan pasarnya.

Betapa tidak, pasar semen di Indonesia benar-benar mengalami disrupsi persaingan. Makin banyak produsen semen baru, termasuk merek-merek baru dari China. Bahkan, sejumlah pemain lokal yang awalnya berkutat di industri keramik dan tekstil pun belakangan banyak yang ikut-ikutan masuk ke industri semen. Sejak Christian didapuk sebagai CEO, Mei 2014, setidaknya telah hadir sembilan merek semen baru.

Yang membuat pemain lama sempoyongan, merek-merek baru itu dalam penetrasi pasar berani memberi iming-iming harga diskon yang gila-gilaan. Tak mengherankan, harga jual semen secara nasional pun drop hingga 25% dalam 4-5 tahun terakhir. Dampak lainnya, terjadi oversupply kapasitas produksi semen hingga 40 juta ton per tahun. Kini demand semen per tahun masih di sekitar 70 juta ton, sedangkan kapasitas produksi semen nasional sudah mencapai 110-113 juta ton. Sebagai pemain semen swasta terbesar, Christian mesti mengembangkan strategi yang tepat bagi Indocement untuk menghadapi biaya produksi yang naik sementara harga jual semen justru turun.

Ada beberapa strategi yang dijalankan Christian sebagai CEO/Direktur Utama Indocement. “Pada Oktober 2016, saya mengambil satu langkah penting dengan memutuskan untuk memperkenalkan brand baru sebagai fighting brand, merek semen Rajawali,” katanya. Dengan demikian, selain punya merek Indocement yang bermain di segmen yang lebih premium, pihaknya juga punya merek Rajawali. Second brand ini diposisikan untuk bersaing dengan berbagai merek semen murah atau second layer. Merek baru ini kini sudah mengontribusi 5% penjualan dan tidak menganibal pasar merek Indocement.

Tak hanya itu, dalam 2-3 tahun terakhir Sarjana Teknik Sipil dari Universitas Trisakti (Jakarta) dan MBA bidang Keuangan dari San Diego State University (California) ini juga aktif mendorong perusahannya untuk melakukan transformasi digital. Saat ini pihaknya sudah melakukan digitalisasi seperti pada sales ordering system: kini konsumen lebih mudah melakukan tracking kiriman semen.

Indocement juga menerapkan Industri 4.0 dengan mengembangkan sejumlah automated process system. “Untuk melakukan transformasi, kami meng-hire Boston Consulting Group guna membantu transformasi secara overall, termasuk dalam sales, marketing, ordering system, persaingan, apa yang harus kami ubah,” kata pria yang kini membawahkan 5.250 karyawan ini.

Bidang yang dikembangkan termasuk aspek safety. Karena itu, Christian memelopori pendirian I-SHELTER (Indocement Safety Health Environment Learning Center) dan safety academy di Indocement.

Sebagai pemimpin perusahaan, menurut Christian, seorang CEO seperti dirinya harus bisa melihat lebih daripada yang orang lain lihat, harus bisa melihat lebih jauh daripada yang lain, dan harus melihat sebelum orang lain melihat. Untuk itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan networking CEO, dinner, lunch, dan event CEO lain agar bisa tahu what happening out there dan tahu bagaimana CEO lain menghadapi tantangan.

Selain itu, juga terus membangun hubungan kedekatan kerja dengan anak buah. “Pemimpin harus menjadi the good connected agar bisa membangun kepercayaan. Kalau karyawan percaya, mereka akan mau melakukan kerja dengan baik dan berinovasi,” katanya tandas.

Bila dikaitkan dengan empat pilar kepemimpinan CEO sebagai perintis, penyelaras, pemberdaya, dan panutan, menurut Christian, keempat peran merupakan hal yang penting. Namun untuk day-to-day, peran penyelaras dan panutan lebih banyak terpakai. “Day-to-day tugas saya banyak mendengar, berpendapat, dan menyelaraskan,” ujarnya.

Adapun peran pemberdaya dan perintis tidak bersifat day-to-day, misalnya succession planning satu tahun, lima tahun, dan seterusnya. Tidak berarti setiap hari harus merintis sesuatu. Terkait fungsi pemberdaya karyawan, memang sudah menjadi kebiasaan Christian untuk selalu mendengar dan observasi. Ia banyak melakukan town hall dan kunjungan ke pabrik.

Guna menjalankan peran sebagai panutan, Christian biasa datang ke pabrik malam hari atau ketika senggang agar bisa duduk-duduk dan sharing cerita hidup ke karyawan. “Biasanya membagikan nilai-nilai hidup saya. Saya banyak berinteraksi dengan direksi dan biasanya mengundang direktur dan istrinya untuk duduk bersama, mengobrol, dinner atau lunch di rumah. Itu sangat positif untuk sharing hidup dan agar istri direktur tahu bagaimana nilai-nilai bosnya sehingga mereka juga akan tenang,” ungkapnya.

Menurutnya, sesi-sesi pertemuan informal itu sangat membantunya menjadi good conductor di perusahaan. Mereka tidak menyerang antarpribadi dan menjadi sangat kenal satu sama lain. “Sehingga ketika ada beda pendapat di topik-topik yang didiskusikan di rapat direksi, semua bisa menerima dan bisa mencari sisi positif dan value added-nya,” kata Christian yang selalu mendisiplinkan diri untuk membaca buku dan majalah ini.

Ia juga tak mengabaikan peran segmen karyawan milenial dan berusaha mendengarkan aspirasi mereka. Karena itu, ia sering masuk ke forum-forum management trainee untuk mendengarkan masukan mereka. Di sisi lain, juga menginformasikan ke kalangan milenial bahwa Indocement tidak hanya memproduksi semen, tetapi juga ada fun untuk karyawan seperti jazz night, Quarry Walk, dan mountain bike di quarry.

Kami juga adakan town hall meeting, membuat Taman Tigaroda di mana mereka bisa joging pagi-pagi dan coffee time bersama,” ujar Christian. Tentunya, ia juga mendorong mereka agar berkembang menjadi next leader dan ia memosisikan diri sebagai role model dalam hal semangat kerja, langkah inovasi, dan cara disiplin hidup.

Christian yakin, solidnya dukungan tim akan memperkuat posisi kinerja Indocement di market. Ia sebagai leader terus akan memotivasi timnya untuk berinovasi. Setidaknya, hal itu juga sudah terbukti bahwa pangsa pasar Indocement tetap bisa dijaga di angka 25-26% untuk beberapa tahun ini. Second brand juga bekerja baik dan dari sisi keselamatan kerja dalam dua tahun ini terus berkembang. Jumlah kecelakaan kerja turun drastis dan pada tahun terakhir angka fatality non-kasus.

Sebagai CEO, Christian yakin masa depan Indocement akan terus bersinar. Sehingga, pihaknya berani mengalokasikan belanja modal Rp 1,3 triliun pada 2020, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 900 miliar. (*)

Sudarmadi & Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)