Daniel Surya (CEO WIR Group); Belajar dan Terus Belajar

Daniel Surya Daniel Surya, CEO WIR Group

Tak lelah belajar, termasuk kepada yang lebih muda, dilakoni CEO WIR Group Daniel Surya hingga saat ini. Ia menyadari, sebagai pemimpin yang berasal dari old and conventional way business, ia harus terus belajar untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan bisnis. “Saya 15 tahun jadi profesional di bisnis yang cenderung konvensional, bukan yang ke arah industri disruptif,” katanya mengakui.

Sebelum menjadi CEO WIR Group, Daniel adalah seorang profesional dan kemudian mendapat kesempatan membangun perusahaan bernama Landor di Indonesia, juga Brand Union, sejak awal. Ia pun dikenal sebagai tukang set up company orang lain. Sampai akhirnya ia jatuh hati pada misi membawa anak-anak muda Indonesia lebih maju ke depan melalui WIR Group yang ia bangun.

Saya bermimpi membangun global brand untuk Indonesia dan berkontribusi lebih banyak untuk dunia ini. Eh, ternyata sayanya yang banyak belajar dari mereka (anak-anak muda),” ungkapnya. Saat ini pun, WIR Group yang ia pimpin bisa berkembang karena dirinya tidak pernah lelah belajar. Bahkan, kepada anak buahnya yang masih sangat muda.

Di WIR Group, Daniel membangun bisnis augmented reality (AR) yang dulu orang tidak tahu itu apa. Maklum, kategori bisnis tersebut belum terbangun waktu itu. “Saya harus membangunnya agar konsumen dan pemain bisnis bisa paham AR itu apa dan paham akan relevansi AR,” katanya menjelaskan.

Daniel mengakui, dalam mengembangkan WIR bersama anak-anak muda, memang banyak hal baru yang ditemui. Rupanya, memiliki pengalaman panjang dan pernah berkiprah di perusahaan besar tidak cukup. Industri ini sangat berbeda dengan conventional industry yang pernah ia gelutinya sebelumnya. “Saya harus totally change. Saya belajar dari tujuh tahun membangun WIR ini. Jadi, 15 tahun sebelumnya saya mengikuti proses inovasi sesuai koridor dan berhasil. Masuk ke kategori bisnis baru di WIR yang saya bangun, saya belajar banyak dan ilmu dulu itu tidak berlaku sepenuhnya untuk membangun new business technology company yang menuju masa depan,” paparnya. Karena, yang dibangunnya masa depan, bukan untuk memperlebar bisnis yang sudah ada.

Saya juga ingin pasar global tidak memandang rendah inovasi yang kami telurkan. Harus seperti Samsung, yang sudah tidak dilihat dari Korea, tapi sebagai brand global. Saya sudah mulai ingin menggandeng pemerintah untuk mewujudkan itu,” katanya. Saat ini, WIR ada di enam kota di luar Jakarta, yaitu Singapura, Silicon Valley, New York, Los Angeles, Barcelona, dan Malta. “Kami juga sudah deploy di 20 negara lebih,” ujarnya.

Diungkapkan Daniel, banyak merek yang kini menjadi kliennya. Bahkan, ribuan merek telah memakai jasa WIR. Termasuk, Pharrell Williams, penyanyi kulit hitam terkenal Amerika Serikat. “Setiap tahun bisnis WIR tumbuh 300% sejak berdiri,” katanya bangga. Sayang, ia tidak bersedia menyebut angka omsetnya.

Bicara tentang VUCA, Daniel memandang bahwa kuncinya “tidak boleh tidur”. Dengan kata lain, organisasi atau korporasi harus terus terjaga melihat masalah dan kebutuhan di lingkungannya. Daniel berkeinginan menjadikan WIR sebagai satu-satunya pemain global yang dikenal, bahkan di mata AS, untuk teknologi yang dikembangkannya . “Indonesia one of the largest market. Alibaba bisa besar di negara sendiri dan Amerika bisa takut sekali. Makanya, kami membangun lisensi setiap inovasi kami,” katanya menjelaskan. Itulah sebabnya, nama perusahaannya WIR, yang merupakan singkatan dari We Indonesian Role.  Saat ini, WIR memegang lima paten inovasi AR, yang terdaftar di 153 negara.

Reportase: Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)