Dian Siswarini, Dirut XL Axiata: Transformasi 3R Memacu Bisnis XL Axiata

Dian Siswarini, Dirut XL Axiata

Sebagai CEO di era disrupsi digital, Dian Siswarini banyak menghadapi tantangan. Antara lain, menentukan dan mengeksekusi strategi bisnis yang tepat bagi perusahaan bekerjasama dengan ribuan karyawan, khususnya pegawai milenial; menginisiasi produk inovatif agar meningkatkan daya saing bisnis; serta mengimplementasikan transformasi internal untuk memacu roda bisnis perusahaan.

Dian menerapkan program transformasi bertajuk 3R: Revamp, Rise, Reinvent sejak ditunjuk sebagai CEO XL Axiata pada April 2015. “Revamp, yaitu mengubah core bisnis dari volume, dalam arti price, menjadi value. Kami tidak hanya bertempur di price, tetapi juga memberikan service kepada pelanggan,” katanya. Rise adalah menggunakan strategi dual brand untuk memberikan layanan data kepada konsumen yang dibidik perseroan. Adapun Reinvent adalah mencari inovasi bisnis yang berbeda dari yang sebelumnya.

Dari hasil penerapan ini, XL Axiata pada 2018 ini menjadi operator terlekomunikasi nomor dua setelah Telkomsel. Hasil lainnya, saat ini XL Axiata adalah operator yang paling data centric. Artinya, kontribusi dari layanan data terhadap total revenue adalah yang paling tinggi dari rata-rata pencapaian industri telekomunikasi serta penetrasi smartphone dan tingkat pemakaian 4G juga lebih tinggi daripada rata-rata industri,” Dian menerangkan. Saat ini, XL Axiata memiliki 53,9 juta pelanggan, 42 juta di antaranya adalah pengguna ponsel pintar (smartphone).

Transformasi itu berbuah manis. Kendati masih dibekap kerugian, pendapatan emiten yang sahamnya berkode EXCL ini pada kuartal III/2018 ini senilai Rp 16,9 triliun, atau setara dengan pendapatan di periode yang sama tahun 2017. Apabila menyimak kinerja bisnis di Januari-September 2018, pencapaian XL Axiata di bawah kepemimpinan Dian itu merupakan hasil langsung dari strategi dual brand merek XL dan Axis yang didukung oleh investasi berkelanjutan pada jaringan. Sebab, pendapatan layanan data di kuartal III tahun ini tercatat sebagai kontributor tertinggi terhadap total pendapatan XL Axiata, yaitu sebesar 80% atau lebih tinggi daripada kuartal yang sama tahun lalu (71%). Persentase ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pencapaian industri telekomunikasi.

Pencapaian itu tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Dian sebagai pemegang tongkat komando XL Axiata yang menerapkan empat peran kepemimpinan: sebagai perintis, penyelaras, pemberdaya, dan panutan. Konsep kepemimpinan yang seperti itu dipraktikkan Dian untuk menaklukkan dinamika bisnis telekomunikasi di era VUCA (Volatile, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). “Agar bisa bertahan menghadapi VUCA itu, saya menyiapkan organisasi yang lincah dan adaptif, yakni tidak terlalu hierarkis serta menyederhanakan sistem dalam mengambil keputusan. Kemudian, visi yang sederhana dan jelas,” Dian menerangkan.

Sebagai perintis, ia menentukan arah, menetapkan visi yang sederhana dan jelas sehingga mudah diterjemahkan oleh seluruh karyawan. “Lalu, sebagai penyelaras, setelah menentukan visi tersebut, pemimpin harus membuat struktur, sistem, dan model operasionalnya yang selaras untuk mendukung pelaksanaan visi tersebut,” ujar wanita kelahiran Majalengka, 5 Mei 1968, ini.

Sebagai pemberdaya, Dian menyebutkan, perannya sebagai CEO dalam memberdayakan pegawai yaitu dengan mendorong budaya partisipatif dan bekerjasama, serta meningkatkan kompetensi pegawai, khususnya karyawan milenial. Di internal perusahaan, ia tidak sungkan mempelajari kreativitas pegawai milenial. Menurutnya, CEO masa kini mampu memainkan perannya, menjembatani kerjasama tim lintas unit-binis perusahaan.

Maka, Dian selalu menekankan, pimpinan di XL Aiata diharuskan berperan sebagai unit yang mudah bekerjasama. Tentu saja, ia memberikan contoh. “Pemimpin kan tidak bisa bekerja sendirian, jadi CEO itu bukan superman. Saya mendorong pegawai mengeluarkan potensinya secara optimum. Lalu sebagai panutan, ya artinya pemimpin tidak bisa cuma asal ngomong. Harus walk the talk. Menjadi panutan dalam menjalankan value yang dianut oleh perusahaan,” tuturnya.

Sebagai contoh, Dian mendorong budaya inovasi agar bisa menyediakan layanan data yang memuaskan konsumen. “Contoh yang saya lakukan sebagai pemberdaya, misalnya, memberikan kesempatan kepada pegawai untuk menyampaikan pendapat dan idenya, termasuk memberikan kesempatan untuk berbuat salah. Karena kalau orang takut berbuat salah, dia tidak menjadi kreatif. Saya menekankan it’s ok to make mistake, asal jangan diulang lagi kesalahannya itu. Intinya, fail fast, learn fast,” Dian menegaskan.

Wanita berhijab ini turut berperan dalam mengeluarkan kebijakan keterbukaan demi menciptakan atmosfer keterbukaan. Maksudnya, Dian mempersilakan setiap pegawai berkomunikasi langsung dengannya tanpa harus membuat janji atau mengikuti prosedur yang hierarkis. ”Pegawai XL Axiata yang paling banyak berasal dari generasi milenial, jumlahnya hampir 60%. Profil milenial ini menginginkan kebebasan, sehingga lingkungan kerja di XL Axiata juga sudah seperti demikian, seperti mudah berkomunikasi dengan direksi. Kami juga menerapkan performance management dan kompensasi benefit yang lebih fleksibel,” katanya menjelaskan. (*)

Yosa Maulana & Vicky Rachman

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)