Istini Tatiek Siddharta (CEO ANJ); Mengikuti Ajaran Ki Hajar Dewantara

Istini T. Siddarta Istini Tatiek Siddarta, Presdir PT Austindo Nusantara Jaya Tbk

Mengawali karier di bidang keuangan, Istini Tatiek Siddharta tak gentar ketika dipercaya mengomandani perusahaan agrobisnis PT Austindo Nusantara Jaya (ANJ) Tbk. Dia sigap menggelar langkah-langkah perubahan saat bidang usaha ANJ di sektor perkebunan dan perdagangan kelapa sawit serta produk turunannya terguncang.

Wanita kelahiran Jakarta tahun 1962 itu bergabung dengan ANJ sebagai direktur keuangan pada 2001. Sepuluh tahun kemudian (2012), ida ditunjuk sebagai wakil dirut perseroan hingga kemudian diangkat sebagai Presiden Direktur ANJ pada Januari 2016. Ketika awal menduduki jabatan ini, Istini mendapat “sambutan” kurang sedap. Pasalnya, pada akhir 2015 harga jual rata-rata minyak kelapa sawit melemah secara drastis dan anjlok ke titik terendah selama 20 tahun terakhir. Perlambatan ekonomi dunia dan tingginya persediaan crude palm oil (CPO) di Malaysia dan Indonesia menjadi dua di antara sekian banyak penyebabnya.

Sejumlah strategi pun disusun demi membalikkan kondisi perusahaan. Alhasil, berbagai sumber pendapatan baru dapat dipetakan. “Kami telah menetapkan bahwa sumber utama pertumbuhan produksi kami pada masa mendatang berasal dari Indonesia Timur melalui pembangunan perkebunan baru di Papua. ANJ telah memulai penanaman di cadangan lahan yang kami miliki di Papua Barat seluas 91.242 hektare,” ungkap Istini kepada SWA di kantor ANJ di Gedung Atrium Mulia, Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

ANJ juga menginvestasikan lebih dari US$ 40 juta untuk mengembangkan operasi pemanenan dan pengolahan sagu yang berlokasi di Sorong Selatan, Papua Barat, dengan lahan seluas 40.000 ha. Pabrik tersebut mempunyai kapasitas produksi 1.250 ton tepung sagu per bulan saat ini dan akan ditingkatkan menjadi 2.500 ton per bulan pada 2018. “Potensi sagu sangatlah besar. Dibandingkan dengan padi, produktivitas dari segi tanah, sagu bisa mencapai 10 kali lipat,” kata Istini.

ANJ pun mulai melakukan transisi bisnis di anak perusahaan, PT Gading Mas Indonesian Tobacco (GMIT), dengan cara keluar dari bisnis utama, yaitu pemrosesan dan perdagangan tembakau. Gantinya, manajemen menjajaki kesempatan untuk memanen, mengolah, dan membekukan edamame untuk konsumsi dalam negeri dan ekspor ke negara-negara Asia, seperti Jepang dan Tiongkok, yang telah memiliki basis konsumen yang mapan. Nama perusahaan pun diubah menjadi PT Gading Mas Indonesia Teguh (GMIT) pada Maret 2015.

Proyek percobaan perdana dimulai pada 2014 untuk memproduksi edamame, yang termasuk dalam keluarga kedelai dan dikonsumsi sebagai makanan ringan ataupun sayuran. Percobaan ini berhasil, kemudian dikembangkan kembali pada 2015 dengan fokus pada perolehan benih induk sebagai persiapan kegiatan komersial skala besar untuk penanaman dan ekspor edamame. Saat ini GMIT sedang menjajaki peluang memproses edamame beku untuk kebutuhan ekspor ke Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa.

Strategi ANJ berbuah manis. Pada 2016, ANJ membukukan pendapatan US$ 134,4 juta, EBITDA US$ 35,3 juta, dan laba bersih US$ 9,2 juta. Kinerja 2016 itu merupakan pembalikan besar dari kondisi 2015 dengan rugi bersih perusahaan mencapai US$ 8,4 juta. “Selain itu, pada 2016 kami memproduksi 663.399 ton tandan buah segar (TBS) keempat perkebunan yang dikelola ANJ dan membeli 177.883 ton TBS dari pihak ketiga. Secara keseluruhan, kami mengolah TBS tersebut hingga menghasilkan 177.273 ton minyak sawit mentah,” Istini memaparkan detail produksi dan pengolahan kelapa sawit ANJ.

Dia berkeyakinan, menjadi pembuka jalan atau perintis merupakan keniscayaan bagi seorang pemimpin. Selain itu, pemimpin harus menjadi penyelaras agar mampu mendobrak silo-silo antarfungsi dan divisi perusahaan yang kerap mengambil keputusan masing-masing. “Penyelaras itu harus duduk bersama dan memberi pengertian satu per satu yang memakan waktu,” dia menjelaskan.

Fungsi sebagai pemberdaya dilakukan dengan menyiapkan kawah candradimuka bagi para calon pemimpin perusahaan. Pada 2016, ANJ yang kini memiliki 7 ribu karyawan mengevaluasi dan menyempurnakan program management trainee (MT) dengan melakukan perubahan terhadap kurikulum, metode, persiapan fasilitator, serta sistem pendampingan dan program mentor. Perekrutan peserta MT yang berasal dari masyarakat Papua pun telah dilakukan. “Kami telah mengadakan beberapa program untuk meningkatkan sumber daya manusia lokal Papua di sekitar perkebunan. Bersama pemerintah setempat, kami turut memperbaiki pendidikan dasar, pendidikan lanjutan, dan pendidikan vokasi kepada masyarakat yang berasal dari suku Awee, Iwaro, Maybrat, dan Kaiso,” Istini menguraikan.

Dia mengikuti filosofi kepemimpinan yang digaungkan Ki Hajar Dewantara, yakni ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso,  dan tut wuri handayani. “Di depan saya memimpin untuk menjadi teladan dalam membuka jalan, di tengah saya membangkitkan semangat, dan ketika di belakang memberikan motivasi atau dorongan,” Istini menjelaskan tiga prinsip yang diajarkan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia tersebut.

Istini menekankan bahwa industri kelapa sawit memiliki tantangan besar. Karena itu, visi dan warisan yang ingin ditinggalkannya kepada perusahaan adalah setiap orang yang bekerja di ANJ harus mengerti prinsip pengembangan bertanggung jawab. “Konservasi dan pengembangan masyarakat secara terintegrasi harus terus dilakukan demi meningkatkan harkat hidup masyarakat,” katanya menegaskan.(*)

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian/Riset: Armiadi Murdiansah

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)