Krisgianto Lilikwargawidjaja, CEO Daya Group: Menyesuaikan Sistem Kerja dan Proses Bisnis di Tengah Pandemi

Krisgianto Lilikwargawidjaja, CEO PT Daya Adicipta Mustika (Daya Group)
Krisgianto Lilikwargawidjaja, CEO PT Daya Adicipta Mustika (Daya Group)

Pandemi Covid-19 memukul semua sektor bisnis di tahun 2020. Tak terkecuali otomotif. Itulah juga yang dirasakan PT Daya Adicipta Mustika (Daya Group). Penjualan otomotif menurun 30%-40%, sementara bisnis bengkel, servis, dan suku cadang merosot 20%. Kendati demikian, perusahaan tetap mampu bertahan dan memasuki awal 2021, penjualan harian sepeda motor sudah mencatatkan kenaikan sekitar 16%.

Kemampuan Daya Group bertahan di tengah turbulensi tidak lepas dari tangan dingin sang CEO, Krisgianto Lilikwargawidjaja. Apa strategi yang dijalankannya sehingga perusahaan yang berdiri tahun 1970 ini tetap bisa survive?

Langkah awal yang dilakukannya adalah mengamankan kesehatan karyawan. Daya Group memiliki jaringan di 20 provinsi dengan dealer utama berada di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku. Begitu Covid-19 mulai menerjang, Krisgianto merasa perlu memastikan seluruh karyawan dalam kondisi sehat, serta berada dalam kondisi kerja yang aman dan nyaman. Dia pun lalu memutuskan mengubah sistem kerja yang disesuaikan dengan kondisi pandemi: memindahkan sistem kerja dari offline menjadi online.

Keseriusannya agar karyawan merasa aman dan produktif bekerja ditunjukkan dengan penerapan health declare monitoring, melalui aplikasi My Daya. Di dalam aplikasi ini terdapat proses presensi yang dilengkapi GPS tracking untuk memantau lokasi karyawan saat sedang work from home, serta reminder untuk selalu menerapkan protokol kesehatan 5M.

“Di situ kami melakukan follow up terhadap karyawan yang terdeteksi ada potensi masuk kategori high risk. Kami juga meminta seluruh dealer untuk melakukannya dan secara berkala kami mengeceknya,” katanya. Bahkan, manajemen membentuk tim khusus, bernama Komite Covid-19, yang secara berkala melakukan meeting di tiap area.

Itu di sisi internal. Adapun pada sisi eksternal, proses bisnis dan aktivitas seperti pameran dan canvasing yang menggunakan area publik terpaksa tidak dijalankan. Solusinya, para frontliner lebih banyak diterjunkan secara online, melakukannya melalui medsos seperti Instagram dan Facebook, serta lebih banyak menggarap repeat order melalui consumer database.

“Sebetulnya, sebelum pandemi juga sudah melakukan inisiatif-insisiatif memanfaatkan medsos, tetapi sekarang kondisi memaksa untuk menggencarkan lagi semaksimal mungkin,” katanya.

Kemudian, sebagai pemimpin grup, Krisgianto juga memastikan setiap pemimpin perusahaan di Daya Group tetap menerjemahkan arahan menjadi aksi nyata. Untuk mengatasi hambatan komunikasi dan tetap mengawasi dealer secara langsung, pihaknya secara berkala melakukan Gemba Virtual. Melalui smartphone, para dealer menunjukkan kepadanya fasilitas dan aktivitas yang dilakukan di seluruh area, mulai dari tenaga penjualan, montir bengkel, keuangan, sampai sekuriti. “Kami harus memastikan produktivitas dan kualitas kerja tetap sama,” ujar lelaki yang menjabat CEO sejak 2004 ini.

Di sisi keuangan, Krisgianto melakukan sejumlah upaya untuk menjaga arus kas sejak awal pandemi. “Semua aktivitas dari yang sangat kecil dimonitor,” ujarnya. Terkait hal ini, dia pun mengatur secara detail kerjasama tim keuangan dengan tim operasional untuk membantu monitoring arus kas.

Tugas mereka adalah mengatur cadangan uang tunai agar tetap bisa melakukan pembayaran tepat waktu, terutama kepada prinsipal. Lalu, bernegosiasi dengan bank untuk mendapatkan rate yang lebih kompetitif. Juga, mengevaluasi capex. Semua investasi distop dahulu, kecuali yang betul-betul menunjang kegiatan usaha.

Daya Group pun sempat melakukan penyesuaian salary pada level manajer ke atas untuk beberapa bulan. Tujuannya, agar tidak melakukan pengurangan karyawan. Bahkan, arus kas dealer pun diperhatikan. “Kami membantu menjaga cash flow mereka dengan memberikan perpanjangan pembayaran. Jangan sampai hanya kami yang selamat tapi dealer-nya kolaps,” Krisgianto menjelaskan.

Sebelum pandemi melanda, pihaknya telah memiliki rencana jangka panjang terkait proses otomatisasi. Di antaranya, mengintegrasikan value chain di Daya Group yang terdiri dari delapan anak perusahaan, serta membangun customer journey dan customer experience yang unik lewat integrasi data analitik supaya bisa mendapatkan customer profiling yang bermanfaat bagi tenaga penjualan.

”Dari sebelum pandemi juga sudah ada rencana mendapatkan sumber-sumber pendapatan baru, tapi mungkin belum bisa dalam jangka pendek, karena sekarang harus fokus melewati kondisi pandemi dengan selamat dulu. Fokus untuk survive, menyiapkan fondasi dan SDM yang mumpuni agar di tahun-tahun ke depan bisa lari lagi,” ungkap Krisgianto. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)