Michael Wanandi, CEO Combiphar: Dorong Ekspansi, Perkuat Budaya Perusahaan

Michael Wanandi, CEO Combiphar

Memimpin dan menjaga pertumbuhan bisnis perusahaan yang sudah dibangun orang tua bukanlah pekerjaan mudah. Begitu pula yang dihadapi Michael Wanandi. Setelah didaulat menjadi CEO PT Combiphar beberapa tahun lalu, banyak tantangan eksternal dan internal yang harus dihadapinya.

Dari eksternal, antara lain VUCA, disrupsi bisnis digital, menguatnya kalangan milenial, persaingan bisnis yang makin sengit, fluktuasi nilai tukar rupiah, faktor politik pemilihan presiden, kebijakan BPJS, pemalsuan produk, hingga kenaikan harga obat. Contoh tantangan jangka pendek, sejak berlakunya BPJS, dampak negatifnya ke kalangan industri sudah cukup terlihat, khususnya pemain yang tidak mau masuk dalam proyek tender. Belum lagi tantangan regulasi karena masih banyaknya aturan yang tumpang tindih sehingga mempersulit pelaku bisnis.

Sementara dari sisi internal, Michael mendapatkan tantangan tersendiri karena sejak 2012 Combiphar aktif mentransformasi diri, dari perusahaan farmasi menjadi consumer healthcare yang fokus pada produk preventif. Perubahan ini membawa konsekuensi tak ringan. Tidak banyak perusahaan farmasi swasta yang berani mencanangkan masuk ke segmen preventif.

Tentu, untuk menggerakkan timnya agar mencapai tujuan baru perusahaan, termasuk program transformasi yang dijalankan, Michael punya kiat tersendiri. “Saya harus bisa menjadi panutan bagi karyawan. Saya selalu mengidentifikasi diri saya sebagai a servant leader, seorang pemimpin yang memiliki jiwa melayani,” kata penggemar golf ini.

Wujudnya, Michael berupaya selalu memberikan kesempatan kepada karyawan untuk berkembang dan memaksimalkan potensi mereka. Di antaranya, kesempatan menyuarakan ide, kreasi, dan umpan balik ke manajemen. Di Combiphar, ada forum Combi Coffee Break dan Combi Voice sebagai ajang komunikasi dua arah, dan dia mendengarkan input ataupun kemajuan berbagai proyek yang sedang dijalankan perusahaan. Di sisi lain, karyawan juga dapat mendengarkan visi, misi, dan rencana CEO bagi perusahaan dan mereka.

Menurut Michael, pemimpin yang baik adalah yang bisa menginspirasi, memiliki integitas, serta mewujudkan apa yang dikatakannya. Dia yakin, dengan menjalankan prinsip itu, engagement CEO dengan karyawan akan semakin dekat. Di tengah banyak perusahaan yang menyimpan strateginya, dia tetap yakin pentingnya budaya keterbukaan. “Karyawan saya mesti tahu strategi saya sehingga semua saya ceritakan apa yang bakal dilakukan,” dia menegaskan. Itulah mengapa Combi Coffee Break dan Combi Voice digelar.

Selain ajang sambung rasa, cara itu juga menjadi strategi Michael membangun trust dengan karyawan. Yang terpenting: membangun pola pikir karyawan. Karyawan sering diajaknya berpikir bahwa sekarang bukan lagi waktunya menjual produk, tetapi harus in touch langsung ke konsumen. Dulu dokter kasih resep ke pasien, lalu urusan selesai. Sekarang tidak bisa lagi seperti itu. “(Dulu) Pasien kalau cari obatnya susah atau nggak, bukan tugas kami. Si pasien kalau buka botol susah atau nggak, bukan tugas kami. Sekarang kami beda, kami harus mengedukasi agar consumer experience si pasien itu baik, carinya mudah, buka tutup botolnya mudah,” katanya.

Hal ini tidak mudah karena perlu waktu untuk mengubah pola pikir karyawan. Mereka harus diajak untuk mengerti bahwa apa yang menjadi kesuksesan masa lalu tidak menjamin kesuksesan masa depan.

Namun, seiring perjalanan waktu, perkembangannya sudah positif. Termasuk, karyawan makin mengerti bahwa kalau mereka menjual hidup sehat, mereka sendiri harus sehat. Karena itu, Michael membuat kebijakan: tidak boleh ada karyawan yang merokok. Sesuatu yang awalnya terasa janggal, tetapi nyatanya bisa diterapkan.

Michael menyadari bahwa setiap bisnis punya tantangan serta risiko tersendiri. Dan selaku CEO, dia mesti berani mengambil risiko pengambilan keputusan. Contohnya, sejak 2012 Combiphar mengambil inisiatif untuk tidak terlalu menitikberatkan pada program BPJS. Bukan berarti menolak membantu pelayanan obat murah, tetapi ingin menjelaskan bahwa setiap perusahaan punya kebijakan tersendiri terkait kualitas produk obat dan margin yang diambil. “Kami ingin menjelaskan bahwa kami ingin membangun kualitas dan tidak ada kualitas yang bagus tapi harganya murah. Jadi, image ini yang mau kami bangun, yaitu ada perusahaan lokal yang memiliki produk dengan kualitas yang bagus tetapi dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Konsisten pada kualitas itu memang menjadi strategi bisnis Combiphar. Michael menyebut contoh OBH Combi yang bahan bakunya diimpor dari Jerman. Mereka selama ini juga dipercaya untuk memproduksi merek-merek asing dari luar negeri. “Jadi, perusahaan multinasional ini percaya kepada kami untuk memproduksi produknya di pabrik kami. Orang asing bila mengaudit, pasti mengirim orang global yang sudah berpengalaman di berbagai negara. Kalau mereka bisa memercayai Combiphar, mereka melakukan audit untuk memastikan bahwa perusahaan tersebut bisa memproduksi brand global. Ini jauh lebih ketat daripada produk lokal yang kami ciptakan karena produk lokal yang kami ciptakan yang mengaudit siapa?” Michael menuturkan.

Keuntungan ini yang sedang diterjemahkan tim Combiphar untuk menunjukkan ke konsumen bahwa mereka terbiasa memproduksi obat berkualitas. Maklum, masyarakat banyak yang belum tahu. Sebelum tahun 2012 banyak konsumen tahu OBH Combi, tetapi tidak tahu perusahaan penciptanya, dan tidak tahu bahwa OBH Combi dibuat dengan bahan baku berkualitas dan dari pabrik yang berkualitas karena saat itu kemasannya tidak menarik. “Hal-hal ini yang juga kami benahi karena generasi muda jauh lebih peduli terhadap first impression,” kata Michael.

Karena itulah, dia mengajak timnya untuk lebih aktif mengedukasi konsumen dan mendekati pasar. Combiphar pun aktif melakukan kegiatan below the line, antara lain Combi Run untuk komunitas lari, yang jumlah pesertanya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Juga ada Combiphar Players Championship, Combiphar Tennis Open, dan Combi Run Academy.

Selain itu, ada pula aktivitas pengenalan gaya hidup sehat sejak dini dan pemberdayaan perempuan yang terangkum dalam Combi HOPE Healthy Living Education and Combi Hope Women Empowerment. “Tidak banyak perusahaan farmasi yang mensponsori kegiatan olahraga, tapi (itu) kami lakukan untuk menciptakan image health dan untuk mendukung Indonesia di atletnya,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Michael, Combiphar menorehkan sejumlah prestasi. Antara lain, menerima penghargaan Asia's Leading SMEs dalam ajang Asia Corporate Excellence & Sustainability Awards 2018. Lalu, dari sisi pasar, beberapa produknya menjadi pemimpin pasar, seperti obat batuk OBH Combi dan Insto. Mereka juga telah memasarkan produk tetes mata Eye Mo di kawasan Asia, seperti Filipina, Singapura, dan Malaysia.

Combiphar pun melahirkan platform aplikasi digital health service yang dinamai MoCehat --platform yang sejatinya dibangun untuk semakin mempermudah interaksi antara apotek dan konsumen saat mereka membeli produk kesehatan secara online. Konsumen dapat mengajukan pertanyaan seputar kesehatan mereka, bahkan Combiphar dapat membantu mereka untuk lebih aktif bergerak dengan teknologi penghitung langkah (step-counter) yang ditambahkan guna melengkapi fitur MoCehat.

Sebagai CEO, Michael tak ingin berhenti membuat perusahaannya terus berkembang. Dan, dia merasa senang karena transformasi yang dilakukan mulai memperlihatkan hasil. “Program dan inisiatif yang kami bangun sudah dikenal oleh masyarakat, diapresiasi rumah sakit dan dokter sehingga mereka mau terlibat dalam program kami,” katanya.(*)

Sudarmadi dan Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)