Paulus Irwan Sutisna (Presdir Bank DBS): Berani Menjadi Diri Sendiri

 

Paulus Irwan Sutisna Paulus Irwan Sutisna, Presdir Bank DBS Indonesia

Pria kelahiran Bandung, 27 April 1964, ini memang layak meraih posisi runner-up di ajang Indonesia Best CEO 2017 yang diselenggarakan SWA bekerjasama dengan Dunamis Consulting. Prestasi yang ditorehkan Paulus Irwan Sutisna,  nama pria itu, terbilang bagus sejak menjadi orang nomor satu di PT Bank DBS Indonesia (populer disebut DBS Bank) dua tahun lalu.

Ketika dia bergabung dengan DBS Bank pada 2015, compound annual growth rate (laju pertumbuhan majemuk tahunan/CAGR) bank ini selama tiga tahun (September 2012-September 2014) sebesar15%. Pada September 2014, pendapatan total DBS Bank Rp 1,87 triliun dengan laba bersih Rp 366 miliar.

Di bawah kepemimpinan Sutisna, CAGR DBS Bank mampu ditingkatkan menjadi 28% (September 2015-September 2017), sedangkan pendapatan total pada September 2017 melejit hingga Rp 3,11 triliun dengan laba bersih Rp 449 miliar.

Yang lebih istimewa, Sutisna bukan semata jago melejitkan kinerja bisnis DBS Bank. Di mata karyawannya, dia juga dinilai sebagai pemimpin yang mumpuni dan dihormati. Ini terungkap dari hasil survei kepemimpinan yang mencakup empat fungsi pemimpin yang seluruhnya meraih skor tinggi. Untuk fungsi perintis, dia meraih skor 95,63%, fungsi penyelaras 94,10%, fungsi pemberdaya 93,44%, serta fungsi panutan 94,15%.

Sutisna juga meraih skor tinggi untuk indeks komitmen karyawan yang mencakup kepercayaan (meraih skor 95,31%), eksekusi (94,38%), komitmen karyawan (91,25%), dan motivasi karyawan (94,88%).

Terkait fungsi perintis dan penyelaras dalam kepemimpinan, Sutisna menggariskan ke mana perusahaan yang dipimpinnya akan dibawa dan bagaimana cara mencapainya. Dia juga rajin mengomunikasikan hal ini kepada seluruh karyawan. Dengan demikian, karyawan dari tingkat atas sampai bawah betul-betul selaras dalam berpikir dan bertindak. “Kami ingin menjadi the best bank in the world dengan cara menjadi digibank. Jadi, cara berpikir sehari-hari harus berubah. Yang berubah bukan hanya frontliner, tetapi juga back office-nya,” katanya tandas.

Sebagai pemberdaya, Sutisna ingat betul, ketika bergabung dengan DBS Bank, semua keputusan berada di tangan presiden direktur. Dia lantas menegaskan bahwa semua orang harus diberdayakan dan berani membuat keputusan. Harus ada delegasi. “Apakah keputusannya selalu benar? Tidak mungkin, karena pasti ada yang salah. Kalau salah, jangan langsung dipecat karena dia memutuskan sesuatu pasti sesuai dengan kapasitasnya, sehingga kami akan berikan dia kesempatan lagi,” ungkapnya. “Tapi, kalau dia tidak berani mengambil wewenang untuk mengambil keputusan, akan kami pecat karena kapal ini tidak akan jalan.”Paulus Sutisna

Perihal fungsi panutan, Sutisna menegaskan bahwa seorang pemimpin harus menjadi dirinya sendiri. Sebagai pemimpin, dia mengaku sebagai tipe orang yang sangat terbuka. Setiap saat kalau ada karyawan yang ingin menemuinya, asalkan tidak sedang rapat, bisa masuk ruangannya dan langsung mengemukakan apa keperluannya. “Saya selalu dengarkan apa pendapat dari bawah karena saya percaya jika perusahaan meng-hire orang, pasti orang tersebut mempunyai kekhususan, ada ilmu yang bisa saya dapatkan. Jadi, saya harus dengarkan,” katanya.

Selain itu, imbuh dia, kalau kita ingin anak buah seperti apa, kita harus mencontohkannya. “Saya juga banyak terlibat di social entrepreneurship dan kami banyak mendapatkan award dari kegiatan ini,” kata dia sambil menambahkan, korporasi bukan hanya mencari keuntungan tetapi juga harus mengembalikannya kepada masyarakat.

Sutisna bukanlah orang baru di kancah perbankan nasional. Separuh lebih dari perjalanan hidupnya dia dedikasikan di dunia perbankan. Setelah menyelesaikan studi di St. George Technical College Sydney dan University of Technology Sydney pada 1988, dia melamar ke Citibank Jakarta dan diterima sebagai Management Associate pada 1989. “Sebenarnya, agak kebetulan karena room mate saya di Australia sudah masuk terlebih dulu. Menurut dia waktu itu, banking sedang bagus dan gajinya juga bagus, hehehe,” katanya sambil tertawa. Sang teman juga mengiming-imingi bahwa kalau sudah lulus dari program Citibank, karier ke depan dijamin bagus.

Di bank yang dijuluki sekolahnya para bankir itu, Sutisna berkarier selama 22 tahun dengan posisi terakhir sebagai Direktur, Multinational Group Head, Citibank Jakarta, pada 2011. Kemudian, dia bergabung dengan Bank HSBC Indonesia selama tiga tahun (2011-14) sebagai Head of Client Management of Global Banking dan Co-head of Cash Management.

Selanjutnya, pada 2015 dia ditawari bergabung dengan PT Bank DBS Indonesia. “Di sini, DBS Bank, saya melihat ada tantangan baru lagi. Akhirnya, saya menerima tawaran tersebut dan tahun 2015 saya resmi menjabat sebagai CEO DBS Indonesia,” tutur Sutisna.

Apa tantangan baru tersebut? Sebelumnya, Sutisna banyak berurusan dengan layanan pelanggan (baik di corporate banking maupun transaction banking). Dia juga memiliki keahlian yang terkait fungsi manajemen kredit dan risiko. Nah, setelah direkrut sebagai CEO di DBS Bank, dia harus menjadi seorang generalis, memegang semua urusan. “Mulai dari urusan komplain, audit, hingga urusan paling penting seperti hubungan dengan regulator, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya.

Langkah pertama yang diayun Sutisna adalah membentuk tim yang solid. Setelah itu, dia memikirkan akan dibawa ke mana DBS Bank dan apa strateginya. “Saya dan tim mempunyai ambisi, kami mau membuat bank ini setidaknya sama atau lebih bagus daripada yang sekarang ada di market seperti BCA dan Bank Mandiri,” ungkapnya.

Seperti dinyatakan di atas, ke depan, DBS Bank akan bertransformasi menjadi digibank. Sutisna melihat, saat ini masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari ponsel. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi, yang selalu dilihat adalah ponsel. Dan, ini dilihatnya sebagai peluang yang bisa mengubah perbankan di Indonesia. “Saat ini semua orang meributkan fintech, padahal kami sudah terlebih dulu masuk ke sana. Jadi, kami sudah prepare yang disebut digibank. Digibank benar-benar tidak perlu paper, nasabah tidak perlu datang ke cabang untuk tanda tangan dokumen. Ini langkah awal, tahap berikutnya akan kami tambahkan fitur-fitur lainnya. Ini yang akan mengubah perbankan di dunia dan di Indonesia. Kalau kami ingin menjadi seperti BCA dan Citibank, kami harus masuk ke sini,” dia menandaskan.

Agustus lalu, DBS Bank resmi meluncurkan digibank. Hasilnya, menurut Sutisna, luar biasa. Pada saat peluncuran tersebut, dalam sehari bisa ada 70 account. Saat ini, sudah mencapai 900 account baru per hari. “Dengan menggunakan teknologi, kami hanya memerlukan 30 orang untuk mengurus ini karena sudah tidak ada lagi human touch,” katanya.

Nantinya, fitur diperbanyak. Yang sedang dikerjakan DBS Bank, misalnya, algo-lending. Dengan algo-lending, kredit tanpa agunan (KTA) yang saat ini prosesnya lama bisa disetujui dalam lima detik dengan menggunakan data media sosial. “Fitur ini akan diluncurkan awal 2018,” kata Sutisna yang setiap Sabtu atau Minggu masih rajin bersepeda bersama teman-teman dengan rute Bintaro-Senayan-TVRI-Semanggi-Halim-Gatot Subroto-Kuningan-Kota Tua, lalu balik lagi, menempuh jarak sekitar 70 km.(*)

Reportase: Sri Niken Handayani

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)