Simon Jonatan, Direktur Utama PT Bintang Toejoe: Mengembalikan Fitrah Pertumbuhan dalam Perusahaan

Simon Jonatan, Direktur Utama PT Bintang Toejoe (BT)
Simon Jonatan, Direktur Utama PT Bintang Toejoe (BT)

PT Bintang Toejoe (Grup Kalbe) bukan persinggahan baru bagi Simon Jonatan. Dulu, di tahun 1990-an ia pernah bergabung dengan Grup Kalbe dan sukses melahirkan Extra Joss. Namun, ketika sedang di posisi puncak, Simon memutuskan keluar, dan mendirikan Brandmaker tahun 2002.

Hingga delapan tahun kemudian, cinta lama bersemi kembali. Tepatnya pada 16 September 2010, ia memutuskan pulang kandang, “menyelamatkan” anak yang dilahirkannya yang saat itu sedang dalam kondisi terpuruk. Simon diminta mengembalikan pamor Extra Joss dan mengembalikan fitrah pertumbuhan perusahaan. “Bintang Toedjoe telah kehilangan omset produk utama sebesar 70%. Dan, saya diberi waktu tiga tahun untuk mengembalikannya,” ungkap Simon yang dua tahun kemudian, baru mendapat kepercayaan sepenuhnya memimpin kembali sebagai Direktur Utama PT Bintang Toejoe (BT).

Transformasi menjadi prioritas penanganan BT. “Tahun awal pertama --tiga-enam bulan pertama-- saya fokuskan ke marketing & bisnis development, R&D, dan keuangan karena setahun penuh diaudit oleh Pajak karena restitusi,” ungkap Simon mencari solusi.

Menurutnya, pada umumnya problem utama perusahaan yang sedang sakit adalah produk existing-nya jatuh, lalu produk barunya juga tidak sukses. Maka, yang pertama dilakukannya adalah membereskan revenue. “Kalau ada revenue, sales naik, barulah memperbaiki lain-lainnya, termasuk pengembangan SDM,” ujar Simon yang mengaku awalnya agak otoriter demi keberlangsungan perusahaan.

Diakuinya, tidak mudah memerankan fungsi-fungsi yang ada di The 4 Roles of Leadership: Perintis, Penyelaras, Pemberdaya, dan Panutan. Pada fungsi Perintis, ia harus tahu ke mana harus menuju dan dapat menuntun dalam perjalanan perusahaan. Sebagai pemimpin, ia harus membawa timnya ke tempat yang dituju sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Dan sebagai pemimpin, ia harus menyampaikan visinya ke semua orang supaya tidak ada interpretasi yang salah atau info yang sesat karena sering di saat perusahaan sedang kesulitan, banyak “provokator” yang berkeliaran. “Demi kebaikan, mereka saya samperin satu-satu,” kata Simon menceritakan pengalamannya.

Fungsi Penyelaras dijalani Simon dengan membuat sistem kerja yang baik sehingga perusahaan dapat berjalan ke arah yang benar. Pihaknya menjadi penyelaras agar tiap-tiap bagian diperlakukan sama sehingga keberlangsungan perusahaan terjaga. “Dulu marketing gajinya lebih besar dibandingkan manufaktur, ini harus diselaraskan,” ujarnya.

Adapun fungsi Pemberdaya dilakukannya dengan mendorong semua orang terlibat dalam perusahaan dengan sepenuh hati. Bekerja tidak hanya karena kewajiban, tetapi bersedia memberikan yang terbaik tanpa paksaan siapa pun.

Konsep kami tidak mau bajak orang dari luar, karena jika bajak dari luar, value-nya akan berbeda, cara kerjanya beda,” kata Simon tandas. Yang menarik, BT memiliki dana pensiun sehingga diharapkan karyawan akan bekerja sampai umur pensiun. “Kami juga menerapkan carrier path, semua orang di Bintang Toedjoe harus tahu carrier path-nya,” lanjutnya.

Dan terakhir, fungsi Panutan. Diyakini Simon, seorang CEO haruslah dapat dipercaya untuk diikuti. “Seorang leader harus walk the talk. Tidak bisa kita hanya memberikan semangat dan memberikan banyak perintah tetapi tidak memberi contoh,” kata Simon tandas.

Meski demikian, menurutnya, kendati menjalankan empat peran penting, sesungguhnya yang terpenting adalah mengembalikan komitmen pada visi dan misi perusahaan. Pada Bintang Toejoe, komitmennya adalah investasi membuat pabrik baru sebesar Rp 1 triliun yang tidak hanya memproduksi produk-produk kesehatan yang bermutu tinggi, tetapi juga membuat produk-produknya terjangkau bagi segmen menengah-bawah. Produk-produk kesehatan yang memenuhi standar cara pembuatan obat herbal yang baik dengan kualitas tinggi tetapi terjangkau.

Percuma memiliki leadership yang kuat, tetapi tidak ada hasilnya. Secara bisnis saya harus perbaiki existing-nya terlebih dahulu, karena yang sakit hanya satu produk, yaitu Extra Joss,” kata Simon. Ia menawarkan strategi turnaround. “Saya balik lagi ke STP dan 4P (Segmentation-Targeting-Positioning dan Product-Price-Place-Promotion) karena Extra Joss STP-nya jadi ke mana-mana. Pesaing bisa masuk menghantam Extra Joss karena mengeluarkan produk seperti energy drink rasa anggur, dsb.,” ungkapnya. Pendekatan “rasa-rasa” itu tidak menguntungkan. Extra Joss harus kembali ke pamornya sebagai minuman kesehatan yang “Laki”, slogan citra yang membawa produk tersebut kembali ke fitrahnya.

Meskipun terjadi perbaikan dan pertumbuhan perusahaan, terutama perbaikan Extra Joss, diakui Simon, kini zaman telah berubah lebih kompleks dan digital. Dalam hal ini, pemimpin harus melek teknologi dan selalu waspada jangan sampai terdisrupsi. “Produk life cycle tidak bisa lama-lama, maka harus cepat. Ini bagaimana pemimpin bisa menyikapi itu, bagaimana melihat tren bisnis, melihat perubahan, mendorong timnya untuk belajar dengan cepat,” katanya memberi contoh.

Simon mengatakan, kebanyakan orang memandang 2024 terlalu jauh dan panjang. Padahal, jika bicara investasi, tahun 2024 sudah di depan mata sehingga harus benar-benar dipikirkan dari sekarang. Hal lain yang juga harus menjadi bahan pemikiran, terkait ancaman disintegrasi dan perang dagang yang semuanya dikhawatirkan akan menurunkan daya beli masyarakat. “Itulah faktor-faktor yang membuat saya harus terus berpikir keras,” ujarnya. Ia menambahkan, yang memicu pertumbuhan Indonesia itu ada dua, yaitu belanja negara dan konsumsi dalam negeri.

Sebagai pemimpin, Simon optimistis, Indonesia tetap merupakan negara seksi ketiga setelah China dan India. Dengan sumber daya yang melimpah, peluang bisnis industri farmasi diyakininya akan tetap istimewa, terutama konsumsi suplemen dan herbal akan tetap bagus. Apalagi di Grup Kalbe, Bintang Toejoe ditunjuk sebagai lokomotif produk herbal. “Artinya, kami punya optimisme yang besar untuk masa-masa mendatang,” katanya meyakinkan.

Sebagai pemimpin, Simon bertekad akan menyelaraskan antara peran dan tuntunan zaman. “Saya memilih memimpin secara demokratis, yakni mengelola orang harus disesuaikan dengan orangnya. Kalau orangnya bisa dilepas, akan saya lepas. Tetapi kalau tidak bisa apa-apa dan perlu di-grooming, saya pun siap bertindak seperti diktaktor,” katanya memastikan.

Bagi Simon, 1.200 karyawan adalah mitra kerja yang harus dipandang sama atau setara dan diberdayakan selaras dengan kemampuannya. “Setiap mereka ulang tahun, selalu saya berikan hadiah tumbler yang betul-betul punya makna dan misi pembelajaran,“ ungkap Simon yang berusaha menjadi panutan. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)