Strategi CEO Asal Negeri Gajah Putih Membalik Arah Perusahaan Tambang

Kirana Limpaphayom Kirana Limpaphayom, Presdir PT Indo Tambangraya Megah Tbk

Kirana Limphapayom merupakan salah satu CEO jempolan yang masuk barisan 10 besar Best 2017 versi Majalah SWA. Pasalnya, berkat langkah efisiensi yang ditempuh oleh PT Indo Tambangraya Megah Tbk., (ITM) yang dipimpin oleh CEO berusia 42 tahun asal Thailand itu, perusahaan ini mampu membukukan peningkatan laba bersih hingga 107% lebih dalam tempo setahun terakhir. Tercatat laba bersih ITM  melonjak dari 63,107 juta di 2015 menjadi USD 130,7 juta di 2016.

Padahal, sukses tersebut dicetaknya di tengah keterpurukan bisnis batu bara, yang menjadi fokus garapan ITM. Produksi batu bara ITM sendiri terus melorot beberapa tahun terakhir, dari 29,4 juta ton di 2013 menjadi 29,1 juta di 2014, 28,5 juta di 2015 dan terakhir 25,6 juta ton di akhir 2016. Demikian pula penjualan bersihnya dari USD 2,17 miliar di 2013, menjadi 1,94 miliar di 2014, USD 1,58 miliar di 2015 dan terakhir 1,36 miliar di 2016.

Keberhasilan Kirana dalam meningkatkan perusahaan memang tak lepas dari kemampuannya dalam mengendalikan berbagai biaya di tengah penurunan volume produksi perusahaan. Memang, jika ditengok laporan keuangannya, beban pokok pendapatan perusahaan turun di tahun 2016 menjadi USD 1,04 miliar dari sebelumnya 1,24 miliar. Beban penjualan pun turut menciut dari USD 134,13 juta di tahun 2015 menjadi USD 99,38 juta di akhir tahun 2016.. Demikian pula dengan beban keuangan ITM yang merosot dari USD 1,09 juta menjadi USD 912 ribu dan beban pajak penghasilan dari USD 76,34 juta menjadi USD 61,82 juta di periode yang sama.

Kirana sendiri awal bergabung di ITM pada 2015 dengan posisi Senior Vice President, Office of The President Director, hingga kemudian diangkat menjadi Presdir ITM setahun kemudian. Diakui mantan eksekutif di Banpu Group, induk ITM, di Australia dan Thailand itu, industri baru bara dunia tengah mengalami penurunan harga di tingkat dunia ketika dirinya awal menjabat Presdir ITM di Maret 2016.

Meski kondisi genting, Kirana tak lupa untuk mempelajari terlebih dulu seluk beluk berbisnis di Indonesia dengan berbagai aturannya. Bagi Kirana, yang menjadi prioritasnya adalah menguasai manajemen operasional di Indonesia serta memahami ekspektasi para pemangku kepentingan ITM. “Karena saya berpindah terus, dari Australia, Tahiland, dan Indonesia. Masing-masing memiliki ekspektasi yang berbeda. Namun, dimanapun, yang paling penting adalah tentang ekspektasi stakeholder dan bagaimana memahami orang-orang yang memberikan kontribusi kepada perusahaan kami,” papar Kirana memaparkan prinsip kerjanya di manapun dirinya bertugas.

Setelah memahami seluk beluk bisnis di Indonesia, dirinya pun kemudian tancap gas. Karena itu langkah pertama yang dilakukannya demi memulihkan kondisi ITM adalah dengan berfokus pada pengendalian dan pengurangan biaya. “Di fase pertama yang saya lakukan adalah melakukan cost control, cost reduction, dan meningkatkan efisiensi,” jelas alumnus jurusan Ekonomi dari Chulalongkorn University, Thailand, M.Sc Industrial Relation dari London School of Economic, Inggris dan Ph.D. Sosiologi dari University of Warwick, Inggris itu.

Selanjutnya, dirinya menggerakkan perusahaan untuk mencari cadangan tambang batubara baru, dan mencari bisnis baru. “Saat ini kami sedang memulai bisnis baru, yakni mengembangkan pembangkit listrik dengan kapasitas 2000 mega watt, selain itu kami juga akan gencar dalam berekspansi, akuisisi,” paparnya ketika diwawancara Majalah SWA di kantor ITM di Pondok Indah Office Tower III, lantai 3. Jl. Iskandar Muda, Pondok Indah,

Kegigihan dalam mencari peluang pertumbuhan baru untuk ITM bagi Kirana merupakan sebuah keharusan. Sebabnya, menurutnya seorang CEO tidak hanya berpikir apa yang dimiliki perusahaan ini sekarang, tapi juga apa yang harus dimiliki di masa depan. Prinsip yang dianutnya tersebut sejalan dengan peranan perintis seorang pemimpin. “Saat ini kami masih dalam perjalanan dan belum selesai. Kami mencoba untuk mengaplikasikan learning organization di ITM, belajar hal-hal baru untuk memperbaiki bisnis ITM, memahami iklim operasi tambang di Indonesia, dan terus melihat apa ekspektasi stakeholder,” tutur  Kirana dengan lugas .

Kirana sendiri mengaku menerapkan gaya kepemimpinan dengan mendengarkan dan berkomunikasi kepada tim kerjanya. Bagi Kirana, berkomunikasi bukan hanya semata berbicara, tapi bagaimana membuat lawan bicara mengerti apa yang ingin disampaikan. “CEO juga manusia, apabila dia tidak mendengarkan secara seksama, maka dia akan banyak kehilangan informasi,” urai Kirana.

Berhubung dirinya bekerja di perusahaan multinasional, maka kemampuan mengelola dan memahami lingkungan kerja yang multikultur menjadi sebuah keharusan bagi Kirana. “Walaupun tambang kita di Indonesia, tapi supplier dan konsumen kita dari banyak negara yang berbeda, cross culture. Di situlah kita harus memiliki kemampuan untuk memahami,” Kirana menegaskan.

Reportase: Anastasia Anggoro Sukmonowati/Riset: Armiadi Murdiansyah

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)