Cara Nadiem Makarim Kendarai Gojeknya

CEO PT Gojek Indonesia, Nadiem Makarim.

Lewat pengalaman  sering menggunakan jasa ojek di kesehariannya, Nadiem Makarim melihat permasalahan tidak produktifnya waktu jasa ojek yang besar.

Masalah waktu luang untuk menunggu penumpang dan antrian dengan pengemudi ojek lainnya menjadi salah satu ide awal Nadiem untuk membangun jasa transportasi daring ini.

Riset kecilpun dilakukan oleh Nadiem. Hasilnya, kebutuhan akan moda transportasi untuk masyarakat di kota besar adalah kecepatan dan jasa ojek adalah jawabannya. Alhasil dirinya mendapatkan ide awal untuk melakukan inovasi bagaimana cara menghubungkan pengendara ojek dengan calon penggunanya.

Lalu, pria lulusan Harvard University, AS ini merintis Gojek  tahun 2011 dengan menggunakan sistem yang masih sangat sederhana. Kala itu, orderan Gojek dengan cara calon penumpang menghubungi melalui telepon, atau kirim SMS.

Perkembangan teknologi yang ada memberikan kesempatan Gojek untuk lebih berkembang dengan segala pembaruan hingga seperti saat ini. “Semangat kami di awal adalah Gojek dapat membantu serta melayani seluruh masyarakat Indonesia di manapun mereka berada,” ungkapnya.

Berkembangnya Gojek memberikan angin segar bagi masyarakat luas, baik itu pengguna jasa maupun pemberi jasa (mitra). Saat ini monetasi bisnis dibentuk Gojek bersama mitranya dengan skema bagi hasil. “Gojek hanya mengambil 20% dan sisanya 80% adalah bagian pengendara ojek. Kami memberikan fasilitas mulai dari handphone Android hingga perlindungan asuransi kesehatan dan kecelakaan kepada sopir,” ujarnya.

Era ketidakpastian (VUCA) yang terjadi saat ini mengharuskan Gojek untuk melakukan redesign dengan cara merampingkan struktur dalam perusahaannya. Nadiem harus mengatur perusahaannya untuk agile dapat mengembangkan sumber dayan.

Dirinya terus melakukan tugas sebagai pemimpin untuk dapat melayani karyawan dengan lebih baik dan mampu menyediakan lingkungan kerja yang mendukung hal ini. "Bisnis kami banyak mendisrupsi bisnis-bisnis yang telah ada. Tantangan kami adalah bagaimana dapat meningkatkan produktivitas bisnis lainnya dan membawa negara kita ke level yang lebih tinggi,” ujarnya berharap.

Era yang berubah ini menuntut Nadiem sebagai pemimpin di perusahaan digital harus mampu memberi solusi inovatif lewat teknologi sangat dibutuhkan. Selalu memberikan ide-ide sederhana, namun mampu mempermudah dan mempertemukan antara pebisnis, mitra bisnis dengan konsumen itu yang diperlukan. “Karena solusi yang sederhana, tapi efektif akan mendapat respons yang positif dari masyarakat dan dapat berkembang pesat,” ungkapnya.

Baginya,  seorang pemimpin juga harus mampu membuat sebuah kebutuhan baru. Sebelum adanya Gojek, hanya beberapa orang yang ingin menggunakan ojek sebagai transportasi. Gojek hadir memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang cepat dan terjangkau. “Transportasi ojek dapat menjadi solusi jika dikelola dengan benar. Kini, terbukti hampir sebagian besar masyarakat di kota besar menjadikan Gojek sebagai kebutuhan moda transportasi harian,” jelasnya dengan nada bangga.

Kepuasan lebih didapat Nadiem lewat aplikasi ciptaannya ini. Dia mampu membuka lapanngan kerja baru yang padat karya. Sebab, Gojek memberi kesempatan masyarakat Indonesia yang awalnya tidak memiliki penghasilan, kini dapat menghasilkan pendapatan yang cukup dengan menjadi mitra Gojek.

Nadiem mengatakan, sebagai CEO Gojek, perannya lebih dari entrepreneur atau agent of change. “CEO memiliki peranan yang lebih dari itu. CEO selalu terlibat dalam pengembangan tim dan sangat profesional dalam menyelesaikan pekerjaannya,” ujarnya. CEO harus telah memikirkan segala infrastruktur dan kebutuhan di sekitarnya.  Ini berbeda dengan entrepreneur yang hanya fokus pada tugas yang harus diselesaikan sendiri.

Menurutnya, banyak yang mampu menjalani peran sebagai entrepreneur, tetapi untuk menjadi CEO kesulitannya jauh lebih tinggi. Tanggung jawab yang lebih besar dimiliki CEO untuk membangun tim dan menjalani perusahaannya. Leadership yang ia terapkan adalah memiliki standar fleksibel karena akan berurusan dengan beragam kepala manusia. “Buang jauh ego perfeksionis adalah kunci dan cara agar tim dapat menuju standar yang ditetapkan,” ungkapnya.

Melihat berbagai hal dengan cara yang berbeda harus dilakukan oleh seorang CEO. Keputusan yang diambil dirinya kadang memang tidak seperti yang dipikirkan kebanyakan orang. Nadiem belajar untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil akan memberi pengaruh di jangka panjang untuk mencapai visi bisnis yang didambakan dengan mudah. “Jika ingin menjadi CEO sukses, cepatlah bangkit dari masa krisis dan pikirkan solusi atas masalah tersebut,” dia membagikan tips kunci suksesnya.

Gojek membangun engagement karyawannya dengan membuat mereka dapat melihat pekerjaan yang dilakukan, juga menjadi tempat bermainnya. Dengan cara ini, diharapkan tercetus banyak gagasan inovasi. Nadiem juga memberikan empowerment pada karyawannya untuk berlatih mengambil keputusan agar semua bisa dilakukan dengan cepat.

“Kuncinya adalah komunikasi dan alignment. Hasil dari pendekatan yang dilakukan perusahaan ini  bagus, sehingga kami bisa bergerak dengan kecepatan yang luar biasa,” ujar Nadiem menutup penjelasannya.

 

Reportase: Akbar Kemas

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!