Dewi Muliaty, Presdir PT Prodia Widyahusada Tbk.: Berempati dan Peduli untuk Hasil Terbaik

Dewi Muliaty, Presdir PT Prodia Widyahusada Tbk.
Dewi Muliaty, Presdir PT Prodia Widyahusada Tbk.

Sebelas tahun mengemban amanat sebagai orang nomor satu di PT Prodia Widyahusada Tbk. meyakinkan Dr. Dewi Muliaty, M.Si. bahwa caring leadership pada dasarnya bukan hanya bicara tentang “being nice person“. Dari pengalaman memimpin 3.733 karyawan (per 31 Desember 2019), perempuan kelahiran Jakarta, 17 Mei 1961 ini percaya, seorang pemimpin yang punya empati dan kepedulian adalah mereka yang tetap berorientasi mencapai hasil terbaik.

Keyakinan lulusan S-1 Farmasi Universitas Padjadjaran serta S-2 & S-3 Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini tidak lepas dari filosofi dan budaya Prodia, yang menjunjung kualitas, mengutamakan pelanggan, menjaga keseimbangan, berlandaskan the Spirit of Prodia, berpikir positif, dan mengutamakan high performing team. “Saya terbiasa menerapkan target tinggi pada diri sendiri dan kemudian menularkannya kepada tim,” ujar Dewi, tidak bermaksud jumawa.

Baginya, sebagai pemimpin perempuan yang konon --disengaja atau tidak-- memiliki empati dan kepedulian yang lebih, yang terpenting tetap harus peka dan tidak kenal lelah untuk melihat kelebihan atau potensi anak buah, sehingga dapat membawanya hasil terbaik. “Sehingga, pada akhirnya, caring (berempati dan peduli) akan menghasilkan better result. (Ujung-ujungnya) Karyawan menjadi lebih produktif dan engaged,” kata Dewi menegaskan.

Apalagi, Prodia merupakan perusahaan di bidang healthcare yang erat dengan keberlangsungan hidup manusia setiap hari, baik yang sakit maupun yang sehat agar lebih sehat. Bidang ini membutuhkan praktik peduli dan berempati terhadap “raga yang lain” di setiap lini perusahaan.

Selain itu, hampir 80% karyawan Prodia adalah perempuan. “Sehingga, caring menjadi hal yang secara genuine lahir di kami,” ungkap Dewi. Aspek caring, menurutnya, tidak sebatas pada being nice, melainkan put on the right role sehingga mencapai better result.

Agar role model dapat menjadi budaya, Dewi sengaja membuat sistem. Caranya? Setiap pemimpin di Prodia (manajer) harus bisa mengembangkan anak buahnya. Kewajiban ini bahkan menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki para manajer di Prodia.

Siti Nurhidayati, Kepala Regional Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) Prodia, membenarkan, demi mencapai kewajiban itu, banyak terobosan strategi pengembangan SDM dan High Performing Team (HPTs) yang digulirkan Prodia. Melalui program kaderisasi, peningkatan karier, job enrichment, pendidikan & latihan, serta perubahan sikap mental, misalnya, kemudian lahir program Prodia University untuk Diklat Prodia dan Harmony System untuk pengelolaan SDM yang sangat terintegrasi berbasis TI. “Semua itu berujung pada upaya menempatkan SDM sebagai aset No. 1 di Prodia,” ungkap Siti.

Intinya, seorang pemimpin yang caring pasti tidak kenal lelah untuk dapat memahami kondisi tim (anak buah) agar dapat memberikan nilai-nilai positif untuk mendorong pencapaian tim tersebut. Di satu sisi, Dewi berupaya mendapatkan profil karyawan seakurat mungkin, yaitu dengan mencari gambaran dari aspek psikologis anak buah, kemudian membuat plotting talent management untuk memotret kinerja ataupun potensi dan kompetensi karyawan.

“Dari pengamatan keseharian maupun dari profil tersebut, saya dapat menawarkan kesempatan pendidikan formal atau training yang dibutuhkan untuk pengembangannya atau juga berdiskusi dengan bagian Human Capital untuk kesempatan kariernya di masa depan,” ungkap Dewi sungguh-sungguh.

Ida Zuraida, AVP Human Capital Prodia, memuji gaya kepemimpinan Dewi yang berempati. Dengan caranya, Dewi memberikan kepercayaan dan dorongan agar karyawan dapat mengeluarkan potensi diri terbaiknya. “Ibu Dewi mampu memberikan personalized treatment dikaitkan dengan profil masing-masing anak buahnya,” kata Ida.

Sementara Marina Amalia, Kepala Bagian Legal & Sekretaris Korporat, menyebut Dewi sebagai “versi perempuan” dari pendiri Prodia, Andi Wijaya. “Ibu mewarisi apa yang ditanamkan Bapak dalam memimpin Prodia. Ibu merupakan seseorang yang visioner, kritis, dan relatif perfeksionis. Ibu hampir memahami seluruh proses A to Z bisnis Prodia,” ungkap Marina.

Sisi perempuan Dewi ditunjukkan dengan membangun komunikasi yang intens dengan anak buah. Hal ini penting karena karyawan Prodia sangat beragam, mulai dari generasi milenial hingga generasi X dan Y yang sudah berpengalaman. Untuk kalangan milenial, mereka adalah anak-anak muda yang penuh ide inovasi yang perlu diarahkan dan difasilitasi. Adapun karyawan dengan masa kerja yang panjang mempunyai pengalaman yang dapat memperkaya pembuatan keputusan yang harus terus didorong cepat dalam pengambilan keputusan.

“Keberagaman ini seperti keluarga, membutuhkan harmonisasi. Di sinilah peran caring leader dibutuhkan,” kata Dewi. Ia memilih menerapkan komunikasi terbuka, baik media maupun konten komunikasi, serta waktu berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan visi-misi Prodia yang memperlakukan seluruh karyawan sebagai bagian dari keluarga besar. Di Prodia, setiap karyawan memiliki Kartu Keluarga Prodia yang berisi nama anggota keluarga, yang terdiri dari orang tua, suami/istri, anak, mertua, dan adik/kakak. Bagi yang namanya tertera di kartu keluarga tersebut, ada diskon pemeriksaan kesehatan sehingga benefit pemeriksaan kesehatan prodia dapat dirasakan oleh karyawan Prodia dan keluarganya.

Menurut ibu dua putra ini, kunci kepemimpinan adalah konsisten dan tulus dalam memberikan penilaian ataupun teguran. Jika hal ini dapat dilakukan, siapa pun pemimpinnya akan mendapat kepercayaan dan apresisasi dari karyawan. “Mereka tidak putus harapan ketika ditegur dan tidak sombong ketika diberi apresiasi,” ujarnya. Apresiasi, ia menambahkan, tidak melulu secara finansial, tetapi dapat pula berupa pemberian “panggung” bagi karyawan untuk tampil dalam acara tertentu.

Dengan gaya kepemimpinannya itu, Dewi berhasil mengantarkan Prodia mencapai salah satu visinya, yaitu menjadi laboratorium terbaik dan terbesar di Indonesia. Selain itu, Prodia juga berhasil menelurkan berbagai inovasi baru. Di antaranya, melahirkan klinik khusus, seperti Prodia Children Health Centre, Prodia Women Health Centre, dan Prodia Senior Health Centre; mengembangkan Lab Patologi Anatomik yang merupakan lab klinik khusus yang melayani pemeriksaan sampel jaringan manusia (histopatologi), sampel cairan tubuh (sitopatologi), dan ekspresi protein pada jaringan ataupun sel manusia (imunohistokimia).

Tahun 2019, Prodia telah menerapkan Sistem Automasi Laboratorium (Total Laboratory Automation) pada Laboratorium Prodia Rujukan Nasional. Lalu, meluncurkan e-Prodia untuk mempermudah pelanggan melakukan e-registration dan pengambilan hasil pemeriksaan melalui HPSL online, Kontak Prodia 1500-830, personal assistant virtual berbasis online, dan Tanya Prodia (TANIA).

Prodia juga telah memiliki Research Laboratory, Evaluation Laboratory, Molecular Diagnostic Laboratory, Advanced Immunology Laboratory, Anatomical Pathology Laboratory, serta Mass Spectrometry & Separation Science Laboratory. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)