Dian Andyasuri, Shell Indonesia: Membangun Budaya Caring dengan Memberikan Contoh

Dian Andyasuri, Presdir dan Country Chair PT Shell Indonesia
Dian Andyasuri, Presdir dan Country Chair PT Shell Indonesia.

Setelah didapuk menjadi President Director and Country Chair PT Shell Indonesia pada 1 Januari 2020, kesibukan Dian Andyasuri meningkat tajam. Selain harus memimpin empat direksi dan tim leadership (Country Cordinator Team), Dian juga harus memimpin 300 lebih karyawan di perusahaannya.

Tak mengherankan, budaya caring dalam kepemimpinannya sudah melekat erat dalam keseharian. Sebagai pemimpin, Dian dituntut membangun budaya caring dalam memberdayakan karyawan, agar potensi seluruh karyawan baik yang langsung di bawah kepemimpinannya maupun yang tidak langsung, dapat berkembang maksimal.

Berbicara tentang budaya caring, saya percaya bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki rasa peduli atau caring terhadap sesama,” kata Dian. Demikian juga kalau dilihat dari sisi kepemimpinan, lulusan S-1 Akuntansi Universitas Trisakti ini percaya bahwa leader perlu menjadi role model. “Dan ini merupakan gaya saya, di mana saya selalu berusaha memberikan contoh  leadership kepada tim sehingga mereka juga dapat menunjukkan cara atau contoh yang sama kepada seluruh tim mereka,” katanya.

Demikian halnya dalam bisnis, ia sangat menekankan kepedulian. Sehingga dapat terlihat, dalam melakukan pekerjaan, seluruh tim Shell berpegang atau berdasarkan pada caring, respect, dan integrity. Salah satu contoh caring dalam pekerjaan yang bisa ia bagikan, pada saat acara market visit ke daerah, setelah melakukan aktivitas bisnis, biasanya Dian akan mengajak timnya mengunjungi panti asuhan.

“Hal yang kami lakukan adalah mengajarkan budaya keselamatan berjalan dan berkendara, yang kemudian pada akhir acara akan memberikan paket bantuan kepada panti asuhan,” katanya. Hal seperti ini dilakukan Shell terus- menerus, sehingga sekalipun Dian tidak ikut dan tidak sedang melakukan market visit, kegiatan ini akan tetap dilakukan oleh timnya. “Ini akan membuat budaya caring terbentuk, bahkan akan terus menginspirasi lebih banyak orang lagi,” kata mantan Direktur Pengelola Shell Lubricant Indonesia (Januari 2016-2019) ini.

Seperti pada masa pandemi Covid-19 ini, perusahaannya juga langsung melihat, memastikan, dan merefleksikan apa yang dapat dilakukan untuk pegawai Shell, komunitas sekeliling, dan semua orang yang ada di ekosistemnya, mulai dari pegawai, frontliners di SPBU Shell, hingga pegawai di pabrik. Karena bagi Shell, mereka semuanya pahlawan.

Dalam kaitannya dengan caring leadership, Dian merasa tidak ada yang namanya less care. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengartikulasikan caring dengan baik, apakah itu terhadap pelanggan ataupun stakeholders. “Bagi saya, ini sesuatu yang harus menjadi bagian dari kepemimpinan yang harus dimiliki semua lini operasi kami dan harus dapat diartikulasikan dengan baik,” ucap mantan GM Budgeting and Commercial Analysis, Hutchison 3G (Juni 2006-Januari 2008) ini.

Caring, Respect, dan Integrity itu adalah core values yang harus dimiliki dan dilakukan Shell. Hal lain yang ia selalu tekankan adalah leader eat last: semakin senior tingkat kepemimpinan, harus menjadi yang paling terakhir untuk mendapatkan apa pun. Dan, terlebih dahulu memastikan bahwa seluruh anggota tim dalam keadaan berkecukupan sehingga dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Pesan yang selalu ia sampaikan dalam setiap kesempatan: pihaknya adalah part of one big family. Artinya, sebagai satu keluarga besar, mereka akan berjuang bersama dalam senang ataupun dalam situasi yang penuh tantangan (challenges). Ketika menghadapi situasi apa pun, mereka selalu berusaha melindungi satu sama lain dan memberikan bantuan kepada orang lain melebihi scope mereka.

Tentunya, pihaknya tidak dapat memaksa semua pegawainya akan merasakan seperti itu. Namun, dari hasil observasi Dian terhadap teman-temannya di Shell Indonesia, rasanya sudah banyak sekali yang melakukan hal-hal tersebut. “Bahkan, sebelum saya menjabat posisi saya sekarang, saya sudah melihat bahwa rasa one big family di Shell telah lama ada,” ungkapnya.

Dian juga terus memastikan bahwa seorang pemimpin itu harus walk the talk. Karena itu, sebagai satu keluarga besar, pihaknya harus memastikan dapat memberikan yang terbaik kepada setiap anggota keluarga, dan mengingatkan setiap anggota keluarga bahwa dalam situasi yang sulit pihaknya juga harus berjuang bersama-sama demi keluarga, yaitu dengan memastikan bahwa core values perusahaan diresapi dan dilakukan dengan baik.

“Saya selalu berusaha membangun budaya caring dengan cara memberikan contoh. Oleh karena itu, saya berusaha melakukan berbagai macam aktivitas bersama pimpinan yang lain sehingga saya mempunyai kesempatan untuk sharing, memberikan penjelasan kepada mereka apa yang menjadi alasan saya melakukan hal ini. Saya rasa dengan cara ini, saya membantu memberikan insiprasi kepada mereka,” tutur lulusan S-2 Finance dari Brunel University, London ini.

Dian pun memastikan kepada timnya, bahwa yang menjadi leader adalah profesional yang mumpuni dan caring, atau setidaknya memiliki keinginan caring. Karena terkadang, tantangan tersulit adalah seseorang bisa memiliki rasa caring, tetapi sulit mengartikulasikannya dengan baik.

Maka, pada saat merekrut mereka, Dian melihat kandidat dari tingkat profesionalime dan kepribadiannya. Sehingga, ia bisa memastikan bahwa leaders yang ada di timnya adalah pemimpin yang caring.

“Saya juga memastikan bisa melihat hasil dari para team leaders saya terhadap tim mereka, dan apabila belum ada hasil, saya akan melakukan dialog. Ini merupakan salah satu cara saya untuk memastikan budaya caring terasa dalam organisasi,” ungkapnya.

Dalam pandangan Andreas Pradhana, Vice President Lubricants Marketing PT Shell Indonesia, Dian adalah pemimpin yang sangat detail dan percaya bahwa pemimpin itu tidak boleh high level saja, tetapi harus tahu benar kegiatan operasional di lapangan.

Menurut Andreas, Dian juga pemimpin yang walk the talk. Walaupun menjadi orang nomor satu, ia orang yang bekerja paling keras dan selalu turun ke lapangan. “Bu Dian juga sangat down to earth ke semua lini. Dia biasa keliling kantor untuk mengucapkan selamat pagi maupun berbincang-bincang dengan tim,” katanya. (*)

Dede Suryadi dan Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)