Dayu Dara Lepas Tawaran Gaji Menggiurkan Demi Go-Jek

Gaji saat ini memang bukan hal yang utama untuk para pencari kerja. Tapi, siapa pun ogah menerima gaji di bawah pasar. Dayu Dara Permata memilih untuk menolak tawaran gaji selangit demi membangun Go-Jek bersama Nadiem Makarim dan tim.

“Sejak saya belum bergabung dan sudah bergabung dengan Go-Jek, banyak sekali perusahaan yang menawarkan kompensasi benefit hingga 2-3 kali lipat ketika saya di McKinsey,” kata wanita cantik kelahiran jebolan Teknik Industri ITB ini.

Selulus S1, Dara memilih Axiata sebagai pelabuhan pertamanya tepatnya di Divisi Corporate Strategy. Di sini, dia belajar tentang hubungan antara teknik industri dengan sektor jasa yang sangat terkait erat.

Setahun di operator tersebut, wanita kelahiran 3 September ini hijrah ke McKinsey untuk mengejar cita-citanya sebagai konsultan. Passion tersebut diperoleh semasa magang saat kuliah di beberapa perusahaan konsultan manajemen, diantaranya Accenture dan McKinsey.

Dayu Dara Permata, Vice President PT Aplikasi Karya Anak Bangsa

Dayu Dara Permata, Vice President PT Aplikasi Karya Anak Bangsa

“Karena aplikasi McKinsey cukup lama prosesnya, saya kebetulan mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Axiata. Ini kesempatan langka karena pada saat itu, saya termasuk yang paling muda bergabung,” katanya.

Awal tahun 2015, sesama alumni McKinsey, yakni Nadiem Makarim yang saat itu tengah membangun Go-Jek, datang dan memberi penawaran menarik, yakni bersama-sama membangun startup teknologi ini demi kepentingan jutaan rakyat Indonesia.

Dayu belum sempat terpikir untuk bergabung di perusahaan teknologi karya anak bangsa ini karena tengah fokus melanjutkan pendidikan. Hanya ucapan Nadiem ini yang terus terngiang di benaknya: “Orang seperti kita ini seharusnya memberikan pekerjaan kepada orang lain bukan mencari pekerjaan.”

Saat itu, driver Go-Jek belum sebanyak sekarang, hanya sekitar 40-an orang dan kebanyakan adalah tim di call center. Ia bahkan tak pernah berpikir Go-Jek bisa sebesar sekarang dan masih mencari tahu kemana arah bisnis ini akan berkembang. Nadiem menawarkan dirinya untuk menjadi Co-Founder di lini nontransportasi yang kini menjadi Go-Life.

“Selepas percakapan itu, saya pulang naik Go-Jek untuk kali pertama. Saya merasa tersentuh dengan kata-kata driver Go-Jek tersebut. Kehadiran ojek online ini punya dampak sosial yang besar. Saya mau menjadi bagian dari itu,” ujar dia.

Kini, ia menjabat sebagai Vice President PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang menaungi Go-Jek. Secara fungsional, ia adalah Co-Founder di lini layanan jasa rumah tangga yakni Go-Life yang meliputi Go-Massage, Go-Clean, Go-Glam, dan Go-Tix.

“Sebagai VP, saya juga bertanggung jawab terhadap pertumbuhan seluruh produk Go-Jek di kota-kota baru. Sekarang, Go-Jek ada di sekitar 16 kota,” katanya. (Reportase: Nerissa Arviana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Solusi Cicilan Pembelian Online Tanpa Kartu Kredit

Bhinneka.com dan Kredivo bekerja sama  merilis pembiayaan cicilan untuk pelanggan Bhinneka.com, yang akan mendaftar dan membeli barang secara online dengan opsi...

Close