Kiat Menangkan Talent di Era Disrupsi dari Transearch

David Wongso, Managing Director Transearch International Indonesia (dok. Davehunt International)

Dalam era disrupsi yang ditandai dengan banyak perubahan pada model bisnis, hal ini berpengaruh pada skill tenaga kerja yang semakin irelevan dengan lebih cepat. Bahkan menurut McKinsey, pada tahun 2030 diperkirakan Indonesia akan mengalami kelangkaan 9 juta tenaga ahli. Kondisi yang mana akan ada banyak suplai tenaga kerja berkat bonus demografi, tetapi skills mismatch.

Menurut David Wongso, Managing Director Transearch International Indonesia, kondisi mismatch of skills dalam pekerjaan-pekerjaan baru ini harus masuk dalam agenda leadership development dan talent acquisition yang dikelola langsung oleh C-level atau jajaran direksi. “Direksi harus memastikan leadership development dan talent acquisition berjalan dengan baik. Jangan sampai dua agenda tersebut dipercayakan ke level di bawahnya tetapi tidak dikawal,” ujar David kepada Majalah SWA.

Kemampuan perusahaan untuk bertumbuh harus bisa memperkuat talent acquisition capability. Kapabilitas ini tidak hanya bersaing dengan industri sejenis, tetapi lintas sektor yang berlomba-lomba masuk pada bisnis digital. “Semua industri pasti butuh digital talent sehingga kompetisinya sangat ketat lintas sektor. Ini masalah survival of the fastest, seberapa cepat mengakuisisi talent. Karena tentu investor tidak bisa menunggu lebih lama sampai talent internal benar-benar siap,” lanjut David yang juga merupakan CEO Davehunt International.

Ia melanjutkan bahwa, masalah berikutnya yang dihadapi adalah budaya perusahaan. Ketika perusahaan sudah berhasil memperoleh digital talent dari luar, ia akan menghadapi masalah budaya perusahaan yang belum berubah. Karena apa yang bertahan, apa yang menyediakan platform untuk pertumbuhan, apa yang membentuk kinerja masa depan, yang memungkinkan berbagai skenario strategis adalah budaya.

Perusahaan juga harus fokus pada perbaikan good corporate governance dan kebijakan yang mendukung work-life balance. Hal tersebut merupakan langkah penting untuk menciptakan employer branding yang cukup menonjol untuk bersaing di antara perusahaan lain. Sebab employer branding sangat berperan penting dalam leadership development di mana talent milenial saat ini bisa dengan mudah melakukan riset untuk mencari tahu tentang suatu perusahaan.

Dalam strategi jangka pendek, Transearch merekomendasikan untuk melakukan program 2 in 1, yaitu program succession di mana seorang leader harus menyiapkan 2 suksesi untuk mempercepat regenerasi. Cara lain adalah dengan melakukan joint venture antara korporasi dengan startup digital sehingga dapat mempercepat transfer of knowledge.

Transearch menawarkan pendekatan hybrid solution yang terbagi antara kombinasi jangka pendek dan jangka panjang. Yaitu dalam jangka pendek dengan mengambil langkah ‘buy’ untuk mengakuisisi talent, sebab waktu yang tidak cukup dan suplai talent yang tidak cukup. Sementara untuk jangka panjang adalah ‘develop’ talent, tentunya dengan roadmap dan blueprint yang visioner. “If time is on your side, develop from within. If you don’t have enough time, buy. Ini tergantung dari industrinya,” tambahnya.

Untuk diketahui, Transearch adalah perusahaan global executive search and leadership consulting dengan menawarkan solusi antara lain executive search, leadership consulting, board services, dan interim search. Berdiri pada tahun 1982 di London, Inggris, kini kehadiran Transearch sudah mencakup di 40 negara mencakup semua sektor industri utama.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)