Pertamina, Cetak Pemimpin Lewat Model Piramida

Koeshartanto, Direktur SDM Pertamina.
Koeshartanto, Direktur SDM Pertamina.

Creating leader from within di lingkungan PT Pertamina (Persero) bukanlah hal baru. Tahun 1998, karena kondisi ekonomi yang tidak sehat, terjadi talent supply yang limited. Dari sana mulai dicetak talenta dari dalam, yang sekarang sudah menjadi direksi di anak-anak usaha perusahaan ini.

Tahun 2014, program itu kian disempurnakan. Tahun itu, kata Koeshartanto, Direktur SDM Pertamina, BUMN ini menghadapi tiga tantangan besar dari sisi man power, yaitu generation gap, capability gap, dan capacity gap. Apa maksudnya?

Isu generation gap-nya ialah 19% karyawan akan pensiun dalam waktu lima tahun. Mayoritas karyawan senior mendekati usia pensiun, karyawan baru belum cukup pengalaman. Kemudian, isu di capability gap yakni kebutuhan regenerasi kepemimpinan, regenerasi keahlian, dan transfer tacit knowledge. Adapun isu di capacity gap ialah kebutuhan tenaga SDM baru yang akan mengisi kekosongan yang ada. “Yang paling merisaukan, semua posisi pejabat adalah senior yang siap pensiun, nih,” ujar Koeshartanto.

Sebenarnya, dia melanjutkan, Pertamina bisa menempuh strategi buy and borrow untuk memecahkan apa yang mereka sebut sebagai tantangan triple-gap manpower tersebut. Namun, karena memandang pentingnya keberlanjutan succesor supply dan adanya culture feed, creating leader from within menjadi pilihan.

Dalam urusan yang satu ini, Koeshartanto menjelaskan, Pertamina membuat model pengembangan kepemimpinan sendiri, yang berbentuk piramida. Pada landasan terbawah, dibuat program TDA/Trailblazer. Lalu, di lapisan tengahnya ada program Catalyzer. Dan, di pucuknya digelar program Prime.

Program TDA/Trailblazer adalah program pengembangan akselerasi untuk para Asisten Manajer untuk menjadi Ready Now Talent. Para peserta dipilih dari talent pool. Mereka kemudian kemudian diberi project asignment untuk mempraktikkan leadership dan keilmuan yang diberikan saat pembekalan di kelas, ataupun dari coaching dan metoring dengan atasannya.

“Ini adalah area untuk mempraktikkan atau mengasah kompetensi agar saat menjadi manajer, mereka bisa menjadi manajer yang efektif,” Koeshartanto menjelaskan. Hingga kini tercatat ada 906 partisipan dari 35 batch yang dihasilkan program ini.

Naik ke program Catalyzer. Ini adalah pengembangan dari suksesor level Vice President (VP) dan Senior VP (SVP). Mereka yang terpilih harus lulus program TDA/Trailblazer telebih dahulu dan diusulkan oleh manajemen puncak serta departemen human capital. Selama dua tahun, peserta digembleng agar memiliki kapabilitas yang sifatnya generik dan spesifik. Yang generik ini maksudnya adalah harus dimiliki semua peserta, yakni global business leader, strategic thinker, innovator/intrapreneur, serta change & transformational leader.

Kemudian, “Para peserta diceburkan ke dalam jurusan-jurusan yang kami sebut akselerator untuk mendapatkan kapabilitas spesifik, seperti pengelolaan enterprise, pengembangan bisnis global, pengembangan bisnis energi, serta inovasi dan teknologi,” papar Koeshartanto.

Kekhasan progam Catalyzer ini, dia melanjutkan, adalah partisipan dibekali dengan aspirasi karier berikut life-tools-nya. Kemudian, mereka akan dibuatkan personal enterprise plan. Dari sana mereka akan dipantau dengan indikator-indikator yang menjadi alat evaluatornya. Setelah itu, mereka diminta melakukan kegiatan action learning project, ditugaskan dalam bentuk grup-grup untuk mengeksekusi project strategis perusahaan. Ini penting dilakukan karena mereka akan menjadi kandidat VP ataupun SVP di masa depan.

Di tahun kedua, tidak lagi ada bentuk classroom ataupun training, tetapi mentoring BEP (business enterprise program) tetap berjalan. Para peserta diminta menjalankan program social contribution agar bisa menjadi pemimpin yang mampu memimpin dengan hati. Misalnya, diminta mengajar anak jalanan dan melakukan coaching kepada pelaku UMKM. Program ini telah berjalan dua batch dan ada 240-an potential senior leader yang telah terekspos program ini. Untuk memudahkan partisipan, Pertamina menyediakan 60 senior leader yang dilibatkan sebagai mentor.

Terakhir, di pucuk adalah program PRIME (Directorship). Program ini memberikan kapabilitas dan skill yang spesifik untuk direktur dan para suksesor. Di program ini, paling bawah adalah PRIME Level III (Compulsory Directorship Program), lalu naik ke PRIME Level II (Advanced Directorship Program), dan PRIME Level I (Masterclass Directorship Program). Dalam lima tahun terakhir ada 237 partisipan program ini.

Sejauh ini, Koeshartanto menyebutkan, hasil program creating leader from within dengan model piramida ini berjalan positif. Promotion rate peserta TDA/Trailblazer mencapai 91%. Perbandingan average performance score (APS) mereka yang ikut program dan tidak, juga terlihat. Asisten manajer yang ikut program, misalnya, APS-nya mencapai 5,79, sedangkan yang tidak ikut di posisi 5,53.

Sementara itu, 80,5% peserta Catalyzer telah dipromosikan. Sebanyak 25 orang menjadi VP/GM, dan lima orang di level SVP. Lalu, 11 partisipan bahkan telah menjadi direktur di anak usaha atau perusahaan afiliasi. “Ini juga merepresentasikan bagaimana komitmen dari segenap direksi pertamina untuk memberikan trust kepada para pemimpin yang telah mengikuti program yang berjenjang dari tahun ke tahun itu. Baik yang muda maupun yang senior, mereka diberi kepercayaan mengelola bisnis jutaan dolar, di dalam negeri maupun di luar negeri,” tutur Koeshartanto bangga.

Yang membuatnya tambah bangga, seperti harapan yang dimiliki, Pertamina mampu berkontribusi di dunia eksekutif nasional dengan menempatkan sejumlah alumninya untuk menduduki kursi penting di beberapa perusahaan. Di antaranya, Ihsanuddin Usman, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum PT Pelabuhan Indonesia II (Persero); Insan Purwarisya L. Tobing, CEO PT PELNI; serta Nina Sulistyowati, Direktur Pemasaran dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia. (*)

Teguh S. Pambudi & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)