Antonio, Dari Auditor Melangkah ke Bidang HR

Antonio, Manajer Pengembangan Organisasi & Learning Academy Propan

Awal karier Antonio sebenarnya bukan di bidang human resources (HR), melainkan audit internal. Namun ketika bergabung dengan PT Propan Raya ICC, produsen cat dengan merek Propan, di tahun 2012, ia dibelokkan ke bidang HR.

Saya melihat tawaran tersebut menantang, maka saya ambil,” ungkapnya. Ternyata, pilihannya tepat. Dan, kini dia dipercaya sebagai Manajer Pengembangan Organisasi & Learning Academy Propan.

Ia mengungkapkan, tantangan yang dihadapi Propan di bidang SDM adalah persaingan memperebutkan talenta-talenta terbaik. Dilihat dari sejarahnya, Antonio mengemukakan, talenta-talenta yang direkrut dari universitas terbaik di Jakarta biasanya tidak bertahan lama. Maka, sejak empat tahun lalu perusahaannya meminimalisasi rekrutmen di Jakarta, dan lebih memilih berburu talenta terbaik dari daerah, misalnya Jawa Tengah.

Tak cukup hanya itu, perusahaan ini melakukan employee branding. Hasilnya, dalam tiga tahun terakhir, Propan mendapatkan talenta yang secara akademis berada di peringkat 1 dan 2.

Tantangan lainnya. tingkat attrition (turnover) karyawan di Propan relatif tinggi. Solusinya, mereka menyiapkan platform yang dapat menampung big data di media sosial, seperti di Linkedin, untuk melihat rekam jejak kandidat calon pegawai dengan mempertimbangkan prestasi non-akademik dan akademik.

Solusi lainnya: mengembangkan bisnis perusahaan melalui pembukaan cabang dan depo baru, termasuk membuka distributor di negara Asia, serta menciptakan produk baru dan program branding Propan agar semakin moncer. Sehingga, akan muncul sikap loyal pegawai terhadap perusahaan yang akhirnya dapat menekan tingkat turnover karyawan.

Menurut Antonio, mencetak SDM yang berkomitmen dan berkinerja terbaik harus dimulai saat proses rekrutmen. Demikian vitalnya urusan rekrutmen ini, Propan menyebutnya dengan istilah “right from the start”. “Saya menyiapkan human resources (HR) yang siap untuk mengikuti dinamika perubahan dalam perubahan sesuai dengan tuntutan bisnis. Sebagai blueprint, konsep ini saya beri nama 3E, yakni Enabler, Execution, dan Equity. Ada future orientation tentang bagaimana menciptakan habits supaya orang-orang itu bisa terbiasa berfikirke depan, lalu strong culture,” Antonio menerangkan.

Perusahaan yang memiliki kapasitas berubah dengan cepat harus didukung SDM yang mengemban misi mencetak komitmen karyawan pada pekerjaan dan perusahaan untuk mencapai kinerja terbaik. Terlebih di era tekonologi industri 4.0, kapabilitas SDM sangat strategis agar perusahaan mampu mengikuti perubahan di lingkungan eksternal.

Utuk meningkatkan kapabilitas SDM, perusahaan menjalankan program I’m Talent Framework, yang mengajak para general manager menjadi committee dan bertugas menilai serta membimbing talenta menjadi tenaga andal dan mumpuni di masa depan. Program ini menjadi Key Performance Indicators (KPI) pegawai. “Kami menjalankan program I’m Talent Framework di setiap tahun. Jadi, setiap performance pegawai dinilai. Kami meminta setiap pemimpin di setiap struktural itu harus me-report perkembangan anak buahnya sudah sampai sejauh mana, itu jadi salah satu KPI mereka,” ia menerangkan.

Talenta yang memiliki laporan kinerja baik dari atasannya itu berpeluang besar dipromosikan ke level jabatan yang lebih tinggi. “Promosi jabatan mereka diperbolehkan kalau orang di bawahnya ini sudah siap. Kalau kandidat belum siap, mereka tidak boleh dipromosikan walau kami sangat membutuhkan,” Antonio menegaskan.

Arie Liliyah & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)