Internalisasi Nilai dan Transformasi Sistem, Kunci BRI Jawab Tantangan Human Capital

bd Wahid Wijaya, AVP Culture Transformation Bank Rakyat Indonesia

Menginternalisasi nilai-nilai perusahaan (corporate values) sembari bertransformasi untuk tetap relevan dan adaptif pada tubuh perusahaan yang besar bukan perkara mudah, namun tidak sulit dilakukan. Termasuk di salah satu bank terbesar di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang tahun ini memasuki usia 126 tahun.

Internalisasi nilai perusahaan tidak lepas dari manajemen kultur perusahaan yang baik dan terarah. Salah satu tangan dingin yang merancang kultur perusahaan adalah Abd Wahid Wijaya, AVP Culture Transformation BRI.

Berbekal pengalaman 11 tahun di BRI yang mencakup jabatan brand manager, senior manager, hingga masuk ke dalam sendi Human Capital, Abd Wahid sukses lakukan sejumlah transformasi.  Dalam penuturannya pada Webinar & Awarding HR Excellence 2021, pondasi transformasi yang dilakukannya adalah connecting the dots.

BRI adalah organisasi yang besar. Sebanyak 83% karyawan BRI adalah milenial dan gen Z. Generasi muda semakin banyak, inilah yang menjadikan alasan mengapa kami harus bertransformasi dari sisi kultur dan organisasi,” ujar Abd Wahid.

Dalam paparannya, Abd Wahid merumuskan sejumlah HC Trends and Challenges yang terjadi saat ini. Pertama adalah talent war atau perebutan talenta-talenta terbaik. Hal ini diperkuat dengan semakin terbukanya akses para pencari kerja dan penyedia kerja untuk saling mengetahui informasi satu sama lain melalui platform seperti LinkedIn maupun platform lainnya.

Kedua adalah people analytics, di mana analisa karyawan menjadi sangat penting untuk mengarahkan performa dan pengembangan diri. Ketiga adalah diversity. Abd Wahid mengatakan, ketika perusahaan memiliki diversity yang semakin luas, maka hal tersebut akan menjadikan perusahaan makin memiliki perspektif yang luas pula.

Keempat adalah employee experience, yaitu bentuk naik kelas employee engagement di mana perusahaan memberikan pengalaman terbaik bagi karyawan mulai dari perekrutan hingga masa kerja selesai. Terakhir adalah gig economy & workers.

Transformasi yang menjadi ide besar Abd Wahid sejatinya turut diakselerasi oleh pandemi Covid-19. Pandemi yang sudah berlangsung 1,5 tahun di Indonesia telah mengubah cara bekerja atau new way of working. Adapun elemen-elemennya adalah digitalisasi dan work from everywhere.

“BRI telah  mengimplementasikan  flexible working, productive from everywhere, dan go-digital. Sebagai kontribusi sosial, kami juga telah melakukan social movement seperti donasi dan lain-lain,” tambah Abd Wahid.

Menurut Abd Wahid, untuk menjawab tantangan HC dalam sebuah framework agar selaras dengan visi perusahaan, ada tiga kendaraan penting transformasi perusahaan yaitu people, culture, dan organization. Namun di atas itu semua, justru yang paling fundamental adalah menanamkan transformasi HC sebagai pendekatan formal. Sebab, internalisasi nilai-nilai transformasi tidak bisa hanya melalui pendekatan informal.

“Dalam hal ini, ada empat hal yang bisa dilakukan, yaitu prinsip I Understand, I See, I Am Capable, dan I Have System,” ungkap Abd Wahid memulai penjelasannya soal empat framework ini.

I Understand berkaitan dengan pemahaman values perusahaan secara mendalam, bukan hanya sekadar yel-yel atau symbol saja. I See artinya mewujudkan values dalam sesuatu yang bisa dilihat, yaitu dengan cara role modeling. Termasuk best employee di BRI yang dapat diangkat menjadi contoh.

Setelah itu, prinsip I am Capable ditunjukkan dengan perwujudan competency and skill development. Artinya, kematangan transformasi harus dimasukkan ke dalam seluruh komponen Human Capital. Salah satunya, Abd Wahid menyebutkan, adalah adanya culture fit test dan social media analytics untuk karyawan baru.

Terakhir adalah I Have System, di mana BRI memiliki sistem untuk mendukung performa karyawan, contohnya adalah BRIlian Apps. “Aplikasi ini adalah aplikasi worklife balance para karyawan BRI yang memungkinkan untuk bergabung ke dalam kegiatan komunitas, mengetahui informasi event dan RSVP, dan lain-lain,” terang Abd Wahid.

Ada pula collaboration tools yang sifatnya gamifikasi bagi karyawan dalam hal pembelajaran. Selain itu, BRI memiliki innovation booster, yaitu website untuk menampung ide dari para karyawan. Seluruh karyawan dapat melakukan input inovasi melalui website tersebut dan menjadikannya directory idea agar mudah dieksekusi. Kesemuanya didukung oleh Embrio BRI Innovation Management dan Career Experience System BRI untuk memaksimalkan kontribusi karyawan dalam inovasi sekaligus tracking performance para insan BRI.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)