IG Live - SWA Business Leader Talk : Strategi Bisnis dan Pengalaman Bangkit dari Terpapar Covid-19 Seorang Tung Desem Waringin

Motivator Tung Desem Waringin (bawah)

Siapa tak kenal Tung Desem Waringin? Dia disebut motivator nomor satu Indonesia. Aksi-aksinya pernah begitu nyeleneh dan edan. Menyebar uang Rp 100 juta dari udara. Naik kuda membagikan buku, dan aksi lainnya. Buat orang lain, itu nyentrik. Show off. Tapi begitulah Tung. Dia selalu punya strategi bisnis sendiri yang terlihat out of the box.

Akhir Maret 2020 lalu Tung Desem dinyatakan positif Covid-19 dan dirawat. Selama fase kritis, Tung bercerita bagaimana Ia melewati fase kritisnya yang berlangsung sekitar 11 hari dan bisa pulih dengan cepat karena empat hal. Pertama, pertolongan Tuhan. Kedua, peran dokter dan tenaga medis. Ketiga, disiplin mengonsumsi air putih hangat, vitamin C dan VCO (virgin coconut oil). Keempat, hati yang gembira, karena katanya hati yang gembira adalah obat.

Setelah bangkit dari serangan virus tersebut, Tung kembali sibuk dengan bisnisnya. Ternyata bisnisnya pun beberapa lesu karena terdampak wabah virus Covid-19 itu. Lantas apa yang dilakukannya? Bagaimana ia membawa bisnisnya tetap bertahan di tengah badai ini?

Berikut adalah kutipan wawancara SWA dengan pemilik TDW Group itu dalam acara “SWA Business Leader Talk” yang disiarkan Live melalui Instagram @swamediainc pada Kamis, 18 Juni 2020 lalu.

Sekarang kami ingin tahu berbisnis apa saja pak ?

Selain properti, hotel, saya juga bermitra dengan Avian, Wilmar. Jadi bisnis saya ada 36 unit bisnis ada TDW Property, Laruno, Conversion—Social media marketing, klien yang kami handle ada banyak, seperti BCA, Huawei, Samsung, Mercedes Benz Indonesia, BMW, Jogja City Mall, Daily Wash—sebelum pandemi itu ada 85 cabang, tetapi bulan ini sudah jadi 89 cabang. Hotel dari 8 sekarang tinggal 6, karena yang 2 sudah kami jual.

Di antara semua itu mana yang menjadi ‘backbone’ bisnis TDW Group?

Iya, jadi berbisnis sekarang itu berbeda sekali dibanding dulu, dulu properti adalah backbone kami, sekarapun masih menghasilkan, tapi hanya sekitar berapa puluh miliar. Tapi sudah bukan backbone lagi karena bukan penghasil utama. Nah di kondisi saat ini yang menjadi backbone adalah The Dailywash—bisnis binatu. Ini konsep bisnis yang tidak kena Pembatasan Sosial Berskala Besar dan tetap ada kebutuhannya sehingga tahan krisis.

Selain itu, Laruno dan Conversion juga mulai menghasilkan. Laruno adalah platform untuk pendidikan. Sementara Conversion adalah sosial media marketing, ini juga naik signifikan. Kemudian satu lagi adalah Wakuliner, ini bisnis kuliner saya berbasis online, ini juga naik signifikan sehingga mulai banyak dilirik investor. Jadi ini adalah catering tanpa kitchen, bukan cloud kitchen.

Wakuliner itu naik berapa persen selama pandemi ini ?

Lumayan naik 30% cukup signifikan. Investor besar seperti Telkom dan Sequoia sedang dalam proses mempelajari kinerja kami, mereka berminat. Kenapa karena sudah mulai kelihatan ‘make money’. Nah ini yang sebetulnya penting dalam berbisnis adalah bagaimana dan kapan bisnis kita bisa ‘make money’.

Mengelola 36 entitas bisnis yang masing-masing juga sudah memiliki banyak cabang, bagaimana caranya sehingga semuanya bisa jalan dan berkelanjutan?

Jadi yang pegang itu hanya dua, pertama sistem dan kedua adalah orang. Tapi kalau disuruh milih satu saja, maka pegang orangnya. Jadi untuk orang, saya cari yang PIS, punya Passion, Integritas dan Skill. Tapi ternyata menemukan orang dengan PIS ini lebih mudah dibandingkan membina orang untuk menjaga PIS ini.

Saya percaya kata-katanya Jack Well, the greatest CEO in the world dalam 100 tahun terakhir, GE dipegang dia jadi melejit. Pada suatu wawancara, di a pernah ditanya “apa tugas anda sebagai CEO?”, jawabnya “tugas saya hanya satu, keliling dunia mencari orang yang lebih pintar dari saya untuk saya pekerjakan”. Dari situ saya setuju bahwa berbisnis itu ujung-ujungnya adalah orang.

Nah, kalau tadi dibilang saya sekarang banyak bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan konglomerat, sebenarnya bukan dengan perusahaan, tetapi saya berpartner dengan orang-orang muda di dalamnya. Kenapa orang muda? Karena mereka punya waktu, ide-ide out of the box dan keberanian. Sementara saya yang orang tua ini tidak punya itu, tetapi saya punya uang, wisdom dan pengalaman dan network. Itu yang kami kolaborasikan. Jadi partner-an seperti ini sangat penting dan sistem. Sistemnya adalah MKS, marketing-kontrol-SDM, ini kunci. Jadi orang yang saya pegang adalah yang bisa dipercaya, kedua inisiatif dan ketiga asertif. Punya orang seperti ini, maka bisnis bisa kita percayakan dijalankan ditangan mereka.

Di tengah pandemi ini, apakah semua bisnis itu jalan semua ?

Tidak juga, yang tekor juga banyak hehe.. Jadi setelah saya keluar dari rumah sakit, selama dua bulan saya fokus istirahat, sama sekali tidak ‘nengok’ bisnis satu pun. Setelah dua bulan, saya kembali kerja, saya minta rekap kinerja bisnis, ternyata ada beberapa yang merugi, bahkan ada yang dalam dua bulan meruggi sampai Rp 700 juta, bayangkan. Jadi dari 36 entitas bisnis saya itu, yang tutup di tengah pandemi ini sudha 19 unit. Tetapi kalau sudah begitu, saya selalu memulai lagi dengan rencana baru.

Rencana baru itu apa sih? Saya punya list-nya, pertama produk baru apa? wilayah baru, target market baru, afiliasi baru sistem komisi baru, sistem koar-koar baru, sistem penawaran baru. Harus ada salah satu dieksekusi, karena kalau bisnis Anda dari hari ke hari tidak ada yang baru, maka hasilnya akan sama. Samsung itu awalnya bisnisnya apa? mi instan hehe.. Jadi memang harus selalu da lompatan yang bisa membuat kita menemukan nyawa baru. Jadi kalau di posisi yang sekarang tidak bisa jalan, ya ganti posisi, seperti Wakuliner kami itu awalnya berkonsep seperti Grabfood dan ada reviewnya ternyata tidak jalan. Kedua kami coba masuk ke rest area ini pun ternyata berat, maka kami ganti lagi masuk ke catering ternyata melejit, jadi jangan stuck, cari jalan keluar, selalu punya rencana baru.

Contoh kedua, bisnis laundry saya, pada waktu PSBB ini turun karena di tempat saya adalah self service laundry. Kami kemudian mengubahnya menjadi pick up-laundry. Selain itu saya juga mengadopsi rumusnya Mas Ippo Right, namanya rumus ECHO, pertama Efisiensi, di masa pandemi ini karyawan bekerja dari rumah, tetapi gaji terpaksa kami sesuaikan. Tetapi kami buka kesempatan lain buat dia dapat tambahan, yaitu kami beri kesempatan semua menjadi sales, lewat sosial medianya dia bisa jualan. Jadi konsepnya based on result, menghasilkan baru dibayar.

Kemudian C, ini adalah creative, cara dan detail baru. Contohnya di Dailywash, itu kami ubah dari Rp 10 ribu per 7 Kg, diubah menjadi Rp1.450 per Kg, ini sebetulnya sama tetapi justru mampu menaikkan omset. Lalu kami juga share video bagaimana laundry kami sengat patuh dengan protokol kesehatan guna mencegah penularan Covid-19 ini. Hal-hal semacam itu meningkatkan trust pelanggan. Lalu, H itu help, di tengah situasi seperti sekarang yang harus kita kedepankan adalah membantu orang, mereka tidak bisa keluar rumah maka kita yang datang memberi layanan. Dan yang terakhir O, ini adalah Online, hari gini semua sudah harus online.

Dalam portofolio TDW Grup kan ada hotel juga ya, Pak. Nah bagaimana ini hotel-hotelnya bertahan di tengah pandemi ini?

Iya jadi memang, hotel-hotel kami diubah menjadi tempat isolasi mandiri. Kami menjual paket isolasi mandiri, harganya tentu jauh lebih murah dibanding paket yang komersil yang biasa kami jual. Jadi operasional kami tetap jalan tetapi tetap memenuhi kaidah protokol kesehatan, semua orang service kami pakai APD. Kemudian kami juga kerjasama dengan dokter dan rumah sakit sehingga orang yang sedang isolasi di hotel kami tetap bisa dikontrol dokter secara online.

Beberapa unit bisnis itu juga kan menggandeng pengusaha-pengusaha besar ? Bagaimana strateginya untuk bisa bekerja sama dengan pengusaha besar ?

Nah dalam buku saya, Life Revolution itu sudah saya share, bagaimana caranya bisa berteman dan bekerja sama dengan orang-orang hebat. Pertama, ilmu nyontek dan kerja sama, sayangnya kedua ilmu ini semasa kita sekolah ini kan dilarang ya hehe... nah, caranya kalau mau nyontek, kita terlebih dulu harus MBBKM, apa itu? pertama, Menemukan. Caranya? Kalau berpergian dengan pesawat terbang, sesekali coba beli tiketnya yang business class, temukan kenalan di situ, pasti ada peluangnya. Ikut organisasi-organisasi yang isinya orang-orang kaya yang hebat. Kedua, Bergaul. Bagaimana agar orang-irang kaya itu mau bergaul dengan kita? Jangan datang ke mereka untuk “meminta”, tetapi datang ke mereka dengan “menawarkan” bantuan untuk kepentingan mereka. Dan pada waktu bergaul tunjukkan bahwa Anda bisa dipercaya, berperilaku menyenangkan, membantu kepentingannya. Ketiga, Belajar. Pelan-pelan pelajari bagaimana cara mereka berkomunikasi dan membangun relasi. Hal-hal seperti bagaimana cara mereka bicara dengan bawahan, cara mereka bicara untuk mengajak kerja sama dengan calon partner, cara mereka menjamu tamu dan hal detail lainnya. Pelajari itu.Keempat, kerja sama. Kalau mau kerja sama dengan orang-orang kaya itu Anda harus beri dia ‘win’ baru kemudian Anda juga bisa ‘win’. Kelima, Memperkerjakan. Pasti Anda jadi bertanya, memangnya bisa? Bisa, ini rumusnya pengusaha sukses Mochtar Riady (pendiri dan pemilik Lippo Grup), jadi kalau kita mau sukses, ya pekerjakan orang yang lebih sukses di bidang yang kita mau suksesnya itu. bagaimana caranya? Tadi itu, mau bagi hasil, mau mengalah, beri dia benefit yang lebih.

Apa pelajaran yang dapat diambil dari wabah ini bagi para pebisnis?

Berbisnis itu tidak ada yang naik terus, maka meski dalam kondisi stabil pun sebagai pebisnis harus selalu menyiapkan rencana-rencana antisipasi. Saya waktu awal tahun, sudah siap-siap antisipasi jika akan ada resesi, jadi yang saya prediksi adalah akan terjadi resesi, tetapi saya tidak menyangka sama sekali datangnya resesi gara-gara virus ini. Jadi pelajarannya, bisnis apapun tidak ada yang bebas risiko 100%. Jadi prinsipnya jangan menyimpan telur dalam satu keranjang dan selalu siapkan rencana ‘back-up’ karena ancaman bisa datang kapan saja dan dari arah yang tidak kita sangka.


Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)