Liana Kuswandi, Bikin Prodia Makin Solid

Nyali Liana Kuswandi tak ciut saat bergabung ke Laboratorium Klinik Prodia dan menemui banyak masalah di tahun 2007. Sebagai Direktur Keuangan, ia sukses mengangkat kinerja perusahaan dan kini bersiap untuk melantai di bursa.

“Saya menerima tagihan utang ke supplier, penggunaan bahan kimia sampai lebih dari Rp 30 miliar plus denda hampir Rp 100 juta. Saya berusaha negosiasi agar dendanya hilang. Saya masuk pertengahan 2007, baru lewat masa kritisnya Desember 2007,” ujar dia.

Ia melakukan banyak cara seperti meminta perpanjangan waktu dan memperbaiki pembayaran. Pada saat yang bersamaan, ia juga mempelajari laporan keuangan, neraca keuangan dan melihat ada piutang yang tidak ditagih, penagihan tidak intens tapi nilainya cukup besar. Bahkan, ada kerjasama yang tidak memakai perjanjian.

“Semuanya diperbaiki, paralel dengan membayar utang selama 6 bulan. Akhirnya, Receivables to Current assets bisa turun dari 46,77% di tahun 2010 menjadi 24,16 % tahun 2015,” kata dia.

Direktur Keuangan Prodia, Liana Kuswandi Direktur Keuangan Prodia, Liana Kuswandi

Kinerja Prodia pun terangkat. Pendapatan naik menjadi Rp 1,19 triliun di tahun 2015 dibanding realisasi tahun 2007 yang hanya Rp 406 miliar.

Pada periode yang sama, EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, dan Amortization) juga naik 5,5 lipat. Pendapatan sebelum pajak (EAT) tumbuh 4,7 kali lipat. “Dalam tiga tahun terakhir, revenue tumbuh 12% pertahun,” katanya.

Liana memegang teguh prinsip dasar sebagai CFO yakni menjaga likuiditas tetap kuat dan keuntungan perusahaan terus bertambah. Caranya, dengan terus menambah cabang dan produk pemeriksaan (tes). Ada tiga jenis pelanggan, yakni yang datang langsung untuk periksa, rekomendasi dari dokter, serta rekomendasi institusi dan rumah sakit yang kebanyakan bermain di Account Receivable.

“Dulu, tahun 2007-08, porsinya 50:50. Jadi, likuiditasnya agak berat. Sekarang, yang walk in lebih banyak sehingga menolong likuiditas kami karena mereka bayar cash,” kata dia.

Selain membenahi likuiditas, ia juga membenahi sistem pelaporan. Kalau sebelumnya laporan dari cabang baru bisa diterima kantor pusat memakan waktu sampai 11 hari, kini dipersingkat menjadi hanya tiga hari. Staf keuangan di cabang pun diperbaiki karena kebanyakan tidak memiliki kompetensi yang sesuai. Kemudian, sistem pelaporan bisa secara online (ERP Project).

“Apalagi, kami mau go public. Semuanya harus rapi termasuk investasi di sistem IT dan perizinan. Jadi, yang lama-lama dibersihkan dulu untuk memulai hidup yang baru,” ujar dia. (Reportase: Arie Liliyah)

Baca juga:

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)