Mayoritas CFO Indonesia Paham Peran Barunya di Era Digital

Prihadiyanto, Managing Director Accenture Indonesia

Era digital mendisrupsi banyak hal, tak terkecuali peran jabatan strategis di perusahaan. Salah satu yang terkena dampaknya adalah Chief Financial Officer (CFO). Awalnya berperan sebagai pengelola keuangan, kini mereka dituntut untuk bisa mendorong transformasi digital perusahaan.

Lantas, apakah CFO di Indonesia sudah mengerti perubahan perannya sendiri? Menurut survei Accenture, jawabannya ya.

Prihadiyanto, Managing Director Accenture Indonesia, mengatakan, berdasarkan survei The CFO Re-imagined, sekitar 90 persen CFO Indonesia sebenarnya sudah mengetahui adanya peran baru untuk mereka di zaman digital.

Kesimpulan dari survei itu adalah CFO juga perlu bertindak sebagai digital steward; yang bertanggung jawab memimpin, melakukan evaluasi atas investasi teknologi digital, dari awal sudah memimpin, jadi tidak bergabung di tengah-tengah.

"Mereka menggawangi implementasi digital bersama dengan rekan-rekan Direktur yang lain (IT atau bisnis). Intinya, sebanyak 90 persen CFO sudah tahu mereka tidak hanya berperan sebagai finance leader atau business partner, tapi mereka juga sebagai digital stewards," kata Prihadiyanto kepada SWA Online.

Akan tetapi, level adopsi teknologi (proses finance yang didukung teknologi), mereka masih ada di angka 30 persen dari proses finance. Alasannya karena mereka memerlukan waktu untuk bersiap-siap. "Mereka perlu menghitung dulu proses-proses mana yang bisa diotomasi dan investasinya berapa dan mendapat support dari partner mereka,"tambahnya.

Walau demikian, pada 2-3 tahun ke depan, angka tersebut diproyeksikan akan mencapai 60 persen.

Menurut Prihadiyanto, para CFO ini berperan aktif pada saat awal investasi, misalnya mereka melakukan business case/visibility study dari sebuah investasi. Dari business case tersebut juga mereka perlu mengevaluasi/memprioritaskan investasinya, lalu menyiapkan agenda/timeline untuk implementasi tersebut. Pada saat jalan, implementasinya, mereka juga perlu memastikan implementasi itu bisa berjalan sesuai timeline.

Prihadiyanto menyampaikan, "Untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam rangka era digital, dari beberapa diskusi kami dengan CFO, terdapat skillset baru yang dibutuhkan oleh next leader. Skillset baru itu terutama di bidang data analisis dan skenario modeling, utamanya yang menggunakan teknologi."

Sebelum masuk era digital, SDM keuangan lebih fokus pada basic proses accounting. Kini mereka harus bisa mengoperasikan robotic process otomation di process finance.

"Contoh kedua adalah mengubah dari tradisional budgeting jadi scenario modellers; jadi bisa mensimulasikan beberapa skenario untuk suatu scene. Contoh ketiga, dari sekarang peran financial analyst menjadi data scientist," ujar Prihadiyanto.

Bila dibandingkan dengan hasil survei global, hasil survei di Indonesia hampir mirip. Namun, ada perbedaan pada optimisme CFO terhadap investasi digital. Menariknya, CFO di Indonesia 60 persen lebih optimis bisa mengintegrasikan teknologi ke dalam proses finance selama 3 tahun ke depan. Kalau secara global lebih rendah, 45 persen.

Di negara berkembang, mereka dapat tekanan karena marketnya dinamik, ada perubahan cepat, growthnya tinggi. Para CFO merasa untuk menunjang bisnis di market dinamik ini, tekanan mereka untuk membuat sesuatu yang berbeda dari sisi efisiensi, transparansi, ketepatan informasi, mereka perlu menggunakan teknologi untuk meningkatkan proses mereka.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)