Muhamad Fajrin Rasyid, Belanja Efektif dan Efisien

Bukalapak, baru saja merayakan sukses memiliki lebih dari satu juta pelapak di HUT RI ke-71. Perkembangan online marketplace yang didirikan oleh tiga orang alumni Institut Teknologi Bandung ini patut diacungi jempol.

“Awalnya kami mulai ada angel investor, tapi kami memulainya dengan dana seadanya. Saya dan dua teman di kampus mendirikan Bukalapak tahun 2011. Kami baru mendapatkan funding setahun berikutnya,” kata Muhamad Fajrin Rasyid, Co-Founder dan CFO Bukalapak.

Mereka bertiga mesti berjibaku, mati-matian mendapatkan pangsa pasar karena banyak pemain lama maupun baru bermunculan di tahun 2013 dan 2014. Mereka rata-rata juga datang dengan modal besar. Ini tantangan terbesar untuk Bukalapak dengan keterbatasan dana yang ada.

“Solusinya adalah smart money. Kami membutuhkan funding, tetapi menginginkan investor yang juga memberikan nilai tambah untuk Bukalapak. Dari setiap investor yang datang, akhirnya kami memilih Grup Emtek,” katanya.

Muhamad Fajrin Rasyid, CFO Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid, CFO Bukalapak

Kenapa Grup Emtek? Fajrin menjelaskan, kelompok bisnis tersebut memiliki keahlian terutama yang terkait dengan media. Bukalapak perlu mendapat dukungan dari investor dengan know-how ini mengingat mereka masih harus meningkatkan brand awareness di masyarakat secara umum.

“Kemudian, network dan reputasi yang dimiliki Emtek cukup baik. Sehingga, kami punya bargaining yang kuat jika berdiskusi dengan pihak-pihak terkait. Ketiga, faktanya, mereka tidak ingin mengontrol. Jadi, kami bertiga yang masih mengurus Bukalapak,” ujar dia.

Selanjutnya, Bukalapak juga mesti cerdas dalam belanja. Meskipun belanjanya lebih sedikit, mereka bisa bersaing dengan kompetitor yang punya dana belanja lebih besar. Pilihannya, mereka mesti menang di konten dan strategi karena sudah kalah di anggaran.

Mengingat 80% biaya adalah untuk pemasaran, perseroan harus menjaga kampanyenya efektif. Dengan kata lain, setiap rupiah yang dikeluarkan menghasilkan penjualan atau transaksi lebih banyak. Kampanye yang bagus dan efektif harus dilanjutkan, sebaliknya yang jelek dihentikan.

“Iklan kami beda dengan yang lain karena kami bisa memberikan awareness. Kami juga membuat iklan di angkot, busway, dan TV dan semuanya bisa ditelusuri efektivitasnya. Di Alexa, ranking kami ada di posisi 9. Di tahun 2015, kami growing 7 kali lipat dibanding 2014 yang tumbuh 5 kali lipat,” katanya.

Yang paling utama, lanjut dia, setiap belanja untuk kegiatan pemasaran harus memiliki paramater pengukuran yang jelas. Semuanya mengacu kepada data sehingga bisa diketahui seberapa besar efektivitasnya. Parameter yang paling mudah dan jelas tentu saja pendapatan Bukalapak.

“Untuk tumbuh 7 kali lipat lagi lebih susah. Tapi, kami masih punya target tiga digit. Jadi, pertumbuhannya masih ratusan persen di tahun ini,” ujar dia. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)