Mu'min Ali Gunawan: Konsolidasi dari Waktu ke Waktu

Sejak 50 tahun yang lalu Mu'min Ali Gunawan telah berkecimpung di dunia perbankan. Ia pernah menjabat sebagai Komisaris PT Bank Kemakmuran (1968), Komisaris Bank Industri & Daya Indonesia (1969), serta Direktur Bank Industri Dagang Indonesia (1971). Ia mendirikan PT Bank Panin Tbk. pada 1971. Hingga saat ini, Bank Panin terus tumbuh menjadi salah satu bank swasta nasional papan atas.

Mu'min Ali Gunawan, Pendiri Bank Panin

//Sudah berapa kali Bapak berhadapan dengan kondisi perekonomian yang sulit?//

Perekonomian secara umum, baik nasional maupun global, selalu bergerak dinamis. Indonesia sebagai negara yang terbuka untuk investasi dan usaha, ada kalanya terkena dampak perekonomian dan pasar internasional. Selama empat dekade ini, sudah empat kali devaluasi rupiah yang berdampak terhadap industri perbankan. Bank Panin berdiri sejak 1971 dan alhamdulillah kami masih dapat mengantisipasi serta melewatinya dengan selamat. Perkembangan Bank Panin, meskipun ada pasang-surutnya, secara umum sudah berkesinambungan dan menjadi salah satu bank nasional papan atas.

//Bagaimana kiat Bapak untuk membawa perusahaan keluar dari krisis ekonomi pada saat itu?//

Bank Panin go public sejak 1982. Visi kami adalah menjadikan Bank Panin sebagai bank nasional yang terbaik dan memberikan solusi keuangan yang tepat bagi nasabahnya. Misi kami adalah selalu memperkuat struktur permodalan bank. Beroperasi di pasar yang masih berkembang (emerging market) dan pasar modal yang belum mapan, bank ini akan sulit memperoleh tambahan modal dari pasar. Bank Panin sadar dan selalu mengedepankan kecukupan modal dan pengelolaan likuiditas yang efisien, sehingga kami dapat mengatasi krisis yang tentunya akan selalu menjadi tantangan di tengah pertumbuhan perekonomian Indonesia yang dinamis.

//Apa pelajaran yang bisa dipetik dalam menghadapi kondisi perekonomian yang sulit?//

Sebagaimana kami kemukakan, kondisi ekonomi yang dinamis tentu ada naik-turunnya. Kesulitan ekonomi dapat juga diartikan adanya kesempatan berbisnis bagi pengusaha yang jeli melihat peluang. Kami masih optimistis bahwa Indonesia dengan populasinya yang lebih dari 250 juta orang menjadikan pasar domestiknya tetap tumbuh. Produksi dalam negeri untuk kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan akan terus berkembang.

Untuk menangkap peluang, dibutuhkan inovasi, seperti pertanian yang inovatif dan bernilai tambah: kopi, buah-buahan, bumbu, obat-obatan, kebutuhan rumah tangga, dll. Yang biasanya diimpor, kini dapat diproduksi di dalam negeri. Kami yakin inovasi generasi milenial merupakan disrupsi yang positif bagi perekonomian Indonesia yang sebelumnya sangat tradisional.

//Bagaimana menyikapi kondisi perekonomian yang belum membaik?//

Selama 50 tahun saya berkecimpung di dunia perbankan, terbukti bahwa segmen ritel dan nasabah kami yang bergerak di bidang UMKM dan konsumen mayoritas masih tetap tumbuh dan basisnya bertambah luas karena segmen ini memang terbukti cukup tangguh. Segmen ini rata-rata memiliki modal yang cukup dan pemilik usaha terlibat untuk mengelola usahanya sehingga efisien dan fokus.

//Apa nasihat Bapak kepada pelaku bisnis saat ini dalam menghadapi kondisi perekonomian yang belum ada titik terang?//

Sebagaimana saya utarakan, para pebisnis perlu melakukan konsolidasi dari waktu ke waktu agar tidak ekspansi berlebihan. Menjaga permodalan dan utang (bila ada) secara sehat, sehingga perusahaan dapat bertahan di setiap keadaan. Berkembang dengan cepat tanpa perhitungan bukanlah strategi bisnis yang tepat. Yang penting, disiplin dalam mengembangkan usaha agar bisnis yang dibangun dapat terus berkesinambungan. Optimistis tetapi tetap berpedoman pada kehati-hatian.

//Bagaimana wisdom Bapak jika menghadapi perekonomian yang sedang sulit?//

Kondisi bisnis selalu ada pasang-surutnya. Jika perekonomian sedang bagus, jangan berkembang melebihi kemampuan. Demikian pula jika keadaan sedang sulit, pengusaha perlu jeli dalam menyiasati keadaan. Melakukan efisiensi di segala bidang dan melihat peluang yang ada. Di dalam kesulitan, pasti ada kesempatan bagi mereka yang waspada.

//Apakah wisdom Bapak ini sudah ditularkan ke generasi selanjutnya?//

Saya selalu menyediakan waktu berbincang dan berdiskusi dengan para penerus perusahaan, baik dengan profesional maupun anak-anak saya. Kami selalu membicarakan kasus-kasus yang terjadi di pasar dan tantangan yang dihadapi bank/industri keuangan. Di sanalah kami dapat bertukar pikiran. Saya dapat memberikan masukan dan bimbingan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang saya alami dan ketahui. Bahkan, bagi saya tidak ada kata pensiun, tetapi belajar dan belajar setiap hari, setiap kesempatan. Asalkan ada passion dan kemauan untuk belajar, tidak ada kata terlambat.(*)

Editor: Sujatmaka

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)