PLN, Terapkan Human Experience Management Systems

Dedi Budi Utomo, Executive Vice President Human Talent Development PLN.
Dedi Budi Utomo, Executive Vice President Human Talent Development PLN.

PLN saat ini melayani sekitar 79 juta pelanggan dan memiliki 54 ribu pegawai. Sebagai perusahaan milik negara bidang kelistrikan, PLN telah mencapai rasio elektrifikasi 98,89%, dan hingga saat ini mempunyai total aset senilai US$ 100 miliar. Dedi Budi Utomo, Executive Vice President Human Talent Development PLN, mengatakan bahwa dengan posisi ini, PLN masih berpotensi mengembangkan lagi value yang signifikan.

Sebagai upaya memaksimalkan potensi itu, dan demi mencapai visi menjadi pilihan pelanggan nomor satu dalam solusi energi, PLN pada tahun 2020 mencanangkan transformasi organisasi yang memberikan perhatian penuh pada proses pengelolaan pelanggan (customer focus).

“PLN bertransformasi dari supply-driven organization ke demand-driven organization,” ujar Dedi dalam ajang Creating Leaders from Within 2022. Transformasi ini, katanya, menyentuh juga area human capital (HC). Pengelolaan HC berubah menjadi konsep Human Experience Management Systems (HEMS).

Intinya, pengelolaan berfokus pada pengalaman yang bermakna dari tiap pegawai secara personal, dengan cara perusahaan menyediakan teknologi untuk mengoptimalkan pegawai sehingga bisa berkontribusi maksimal kepada perusahaan. “Jadi, di sisi pelanggan, kami ingin memberikan customer experience, sedangkan dari sisi pegawai pun kami memberikan HEMS,” Dedi menjelaskan.

Hal itu, lanjutnya, dituangkan dalam blueprint pengelolaan HC, yang terdiri dari 4R, yaitu Right Size, tentang menciptakan infrastruktur fondasi; Right Skill, terkait penyiapan sistem, kompetensi, dan kapabilitas; Right Spend, tentang sistem pendukung yang efektif dalam proses operasi HC dan services; serta Right System, sebagai hubungan dari integrasi sistem dan layanan HC. Cetak biru ini, kata Dedi, menjadi pedoman dalam menumbuhkan pemimpin dari dalam melalui berbagai program pengembangan talenta.

Pada Leadership Development Program, PLN mengawalinya dengan talent acquisition, kemudian diproses lewat talent classificationandmonitoring secara berjenjang, mulai dari level paling rendah (BOD-4) sampai BOD-1. “Kami assess kinerja dan portofolionya, kemudian dimasukkan ke talenta-talenta yang ada di tiap-tiap jenjang tersebut, dan kami juga membuat Talent Committee Meeting,” Dedi menerangkan.

Kemudian, pada program pengembangan talenta, mereka menggunakan konsep 10:20:70 dengan membuatkan sejumlah program, baik formal maupun informal, yang selanjutnya diselaraskan dengan talent mobility, yang terdiri dari promosi, rotasi, dan cross directorate. Program ini disambungkan juga dengan program talent retain.

Dedi mengatakan, semua proses tersebut dimonitor dalam sistem informasi berbasis SAP yang diintegrasikan dengan aplikasi bernama Human Asset Value Information System (HAVIS). “Ini yang sedang terus kami sempurnakan menuju SAP success factor yang nantinya akan berbasis Cloud,” ujarnya.

Kemudian, pada Leadership Program, menurut Dedi, ada tiga hal yang dilakukan. Pertama, program on-boarding yang ditujukan kepada para pemimpin yang baru saja dipromosikan. Dalam hal ini, digali hal-hal yang menyasar pada kompetensi sekunder.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)