Shirley Santoso, A.T. Kearney Indonesia: Kepedulian Pemimpin Harus Dilandasi Ketulusan

Shirley Santoso, Presdir A.T. Kearney Indonesia.
Shirley Dhewayani Santoso, Presdir A.T. Kearney Indonesia.

Pemimpin yang peduli atau caring leader adalah seorang pemimpin yang memiliki niat tulus terhadap orang lain. Dia memiliki keinginan untuk lebih mengenal orang-orang yang bekerja dengannya, bukan karena tuntutan pekerjaan, melainkan karena ingin mendorong mereka agar menjadi yang terbaik. Kepedulian seorang pemimpin janganlah sebatas kata-kata, melainkan aksi nyata yang dilandasi ketulusan atau genuine care.

Itulah pandangan Shirley Dhewayani Santoso, Presdir A.T. Kearney Indonesia, mengenai caring leader. Prinsip bekerja dengan penuh ketulusan hati yang otentik seperti itu, menurut Shirley, juga dianutnya.

Wanita yang berpengalaman lebih dari 20 tahun menjadi konsultan yang membantu berbagai organisasi bertransformasi itu menganggap bahwa ketulusan kepada karyawan akan memberikan rasa aman dalam bekerja. Hal seperti ini mendorong karyawan sepenuhnya menjadi diri mereka sendiri dan memaksimalkan potensinya.

Menerapkan caring leadership, menurut perempuan 47 tahun ini, juga harus didasari asas keterbukaan dan personal approach. “Saya berusaha untuk mengerti aspirasi, kekuatan, dan masalah yang dihadapi setiap karyawan, sehingga kami bisa me-leverage dengan sebaik mungkin kesempatan mereka untuk berkembang,” kata peraih gelar MBA dari Cornell University, AS ini.

Menurutnya, sense of purpose juga hal yang penting. Di perusahaan konsultasi manajemen global seperti A.T. Kearney ini, karyawan harus mengerti implikasi dari apa yang dikerjakannya terhadap klien. “Sebab, hal inilah yang akan memberikan sense of purpose dalam bekerja,” ujarnya.

Ia mencontohkan, ketika mengerjakan suatu project transformasi, karyawan A.T. Kearney juga harus memahami dampaknya, baik kepada organisasi secara internal maupun kontribusinya terhadap masyarakat umum secara eksternal. “Pemahaman ini dapat menjadi motivasi bagi karyawan untuk mengerjakan dengan sepenuh hati,” kata Shirley kepada SWA melalui video-conference.

Shirley tergolong kawakan (veteran) di A.T. Kearney. Ia meniti karier dari bawah sejak 1999 ketika bergabung dengan A.T. Kearney Singapura, hingga akhirnya pindah ke Jakarta Office untuk memperkuat operasinya di Indonesia. Empat tahun terakhir ia dipercaya sebagai presdir sekaligus partner di Jakarta Office.

Sebagai profesional wanita, prestasi Shirley menjadi partner sekaligus pemimpin kantor perwakilan di A.T. Kearney merupakan hal istimewa. Sebab, dalam lingkup global, ia merupakan satu dari sedikit eksekutif perempuan yang mengomandani kantor perwakilan A.T. Kearney.

Menurut Shirley, figur pemimpin perempuan pada umumnya memiliki dua karakteristik unggulan, yaitu empati dan sensitivitas, yang cenderung lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Melalui empati, seorang pemimpin dapat menempatkan diri pada posisi orang lain atau dikenal dengan istilah “put yourself in someone else's shoes”. Sementara dengan sensitivitas, seorang pemimpin perempuan akan lebih mengerti tentang suatu masalah yang dihadapi karyawan dan berusaha menggali lebih dalam alasan permasalahan tersebut. “Kuncinya, seorang leader harus bisa menjadi pendengar yang baik,” ujarnya tandas.

Dalam memimpin, Shirley menerapkan open door policy. Dengan demikian, staf bisa berinteraksi dengannya secara langsung agar komunikasi lebih terbuka. “Siapa pun, baik dari non-consulting staff maupun junior consultant yang mempunyai masalah, ide, atau aspirasi apa pun, bisa menyampaikan langsung kepada saya. Hal ini saya terapkan agar tercipta diskusi yang baik,” katanya.

Shirley juga berusaha menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan baru dalam perusahaan yang dipimpinnya. Misalnya, ada seorang staf yang ingin menjalankan social impact work sesuai dengan aspirasinya. “Inisiatif seperti ini akan selalu saya encourage dengan memberi mereka kesempatan sebagai leader dalam suatu program,” katanya. Di mata ibu seorang anak ini, kesuksesan seorang pemimpin juga dilihat dari keberhasilannya menciptakan pemimpin-pemimpin baru.

Saat ini jumlah karyawan A.T. Kearney Jakarta Office ada 60-70 orang. Untuk mengenal lebih dalam karyawannya, top executive memiliki jadwal regular review bagi staf konsultan agar dapat melihat mereka secara holistik. Tidak hanya dari ukuran kinerja, tetapi juga potensi mereka. “Ini menjadi landasan dalam talent strategy yang baik agar mereka bisa terus berkembang,” ujarnya.

Di samping itu, A.T Kearney juga memiliki program mentoring bagi setiap staf konsultan. Para mentor biasanya cukup mengerti kebutuhan masing-masing mentee.

Ada pula cara tersendiri untuk menjaga engagement dan membangun intensitas hubungan dengan karyawan. Kebiasaan di perusahaan konsultan, staf bekerja di kantor klien. Namun, A.T Kearney Indonesia secara rutin dalam sebulan menyelenggarakan Home Friday, yakni waktu di mana semua konsultan kembali ke kantor dan melakukan aktivitas bersama-sama, seperti social activity, training, ataupun mengunjungi suatu tempat/komunitas tertentu.

Shirley mengaku tidak terlalu memperhatikan level atau jabatan seseorang, apakah dia karyawan junior ataupun direksi. “Saya cukup senang bila bisa membantu langsung staf junior kami karena saya sebelumnya juga mengalami perjalanan karier dari bawah,” katanya. “Saya memahami pengalaman seperti itu sehingga bagi seorang leader sangat penting untuk bisa menjadi role model,” tambahnya.

Prinsip keterbukaan dan objektivitas diterapkan dalam hal menegur bila ada kesalahan dan memberikan apresiasi. Cara seorang pemimpin memberikan pengertian juga sangat penting melalui diskusi terbuka. Dari situ karyawan diharapkan akan memperbaikinya. “Tidak menjadi masalah jika seseorang melakukan kesalahan, asalkan ia harus bisa belajar dari kesalahan itu dan menjadi lebih baik,” katanya tegas.

Adapun dalam hal apresiasi, menurutnya, pihaknya perlu merayakan keberhasilan yang sudah diraih, baik secara individu ataupun tim. Sebab, ini juga menjadi bentuk motivasi yang akan mendorong perkembangan kinerja.

Di bawah kepemimpinan Shirley, A.T. Kearney Indonesia telah membantu banyak perusahaan, dari kalangan perusahaan swasta, perusahaan keluarga, perusahaan multinasional, BUMN, serta lembaga pemerintah. Namun, ia mengaku tidak pernah menilai keberhasilan dari jumlah kliennya, melainkan dampak yang dihasilkan. “Ketika kami bisa membantu meningkatkan kapabilitas suatu organisasi atau bahkan menjadikan seorang karyawan fulfilled dengan pekerjaannya, itulah yang menjadi tolok ukur keberhasilan,” katanya menandaskan.

Kini, di tengah krisis akibat pandemi Covid-19, Shirley menegaskan bahwa caring leadership adalah suatu model kepemimpinan yang paling relevan untuk diterapkan. “Pemimpin harus dapat memberikan rasa aman pada mental-being karyawannya,” katanya.

Salah seorang staf A.T. Kearney Indonesia, Lea Dwiartanti, Manajer Pemasaran & Specialis Proposal, mengonfirmasi gaya kepemimpinan peduli Shirley. Ia menilai bahwa atasannya itu benar-benar walk the talk dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin. “Banyak anggota tim A.T Kearney memandang Bu Shirley sebagai inspirasi yang secara nyata menjalankan prinsipnya,” kata Lea yang bekerja langsung di bawah Shirley selama dua tahun terakhir.

Lea mencontohkan, betapapun lelahnya, Shirley tetap rela meluangkan waktu jika seseorang membutuhkan bantuannya. Misalnya, ada saatnya konsultan junior menemui kendala, seperti kesulitan menjelaskan idenya kepada klien di level direksi atau hendak berkoneksi dengan pihak lain. “Bu Shirley akan melakukan segala hal yang ia bisa agar tidak ada sesuatu yang menghambat pekerjaan tim kami,” kata Lea.

Sebagai pemimpin perempuan di perusahaan global dengan tingkat pekerjaan yang demanding, Shirley dinilai Lea juga sangat baik dalam mengelola waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ada suatu momen yang cukup menginspirasi. Di tengah kesibukannya, Shirley masih sempat hadir untuk menonton anaknya --yang duduk di bangku SMP-- bertanding sepakbola.

“Semua bisa ia kelola sedemikian rupa sehingga tidak mengingkari janji ke klien, tapi juga tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu,” kata Lea memuji. (*)

Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)