Melisa Hendrawati, Terus Mengasah Kompetensi di Sektor Keuangan dan Perbankan

Melisa Hendrawati, Vice President Senior Manajemen Risiko Kredit Bank DBS Indonesia

Sejak Juni 2015, Melisa Hendrawati menjabat sebagai Vice President Senior Manajemen Risiko Kredit Bank DBS Indonesia. Ia merasa posisi tersebut sangat cocok dengan karakternya. “Kalau di dalam kredit itu, istilahnya, pemutus kredit harus melakukan analisis dan lain-lain. Dan, ini sesuai sekali dengan aspirasi saya terhadap sebuah pekerjaan yang harus menantang secara intelektual, harus connect dengan orang untuk mendapatkan informasi, analytical skill-nya juga harus ada. Ini suatu kombinasi yang sesuai sekali dengan karakter saya,” tutur kelahiran Jakarta, 2 Agustus 1986 ini.

Melisa menceritakan, di departemennya, para pemutus kredit, orang-orangnya cukup senior. “Makanya, tidak perlu dorongan untuk melakukan business as usual karena day to day-nya sudah ter-cover. Yang lebih penting adalah how to motivate everyone untuk mencapai the same goal,” katanya. Itu sebabnya, risk culture sangat penting karena ada anggapan bahwa orang risk management itu memblok bisnis, padahal tidak. “Conventional of risk semestinya diganti dengan balance risk, di mana sebagai mitra bisnis harus memiliki semangat kolaborasi,” ujar lulusan S-1 Ilmu Aktuaria Nanyang Technological University, Singapura ini.

Selain itu, transparansi dalam berkomunikasi, berbagi informasi dan pengetahuan, juga penting sekali karena di bagian risk management hal tersebut merupakan knowledge-based area. Dalam melakukan tugas, mereka juga harus mempunyai analisis sektor, harus mengetahui yang terjadi pada level makroekonominya, industrinya, dan perusahaannya. “Jadi sebenarnya, menjadi pemutus kredit itu bisa sharing untuk membantu orang lain dalam melakukan proses pengambilan keputusan,” kata mantan Analis Securities Finance Citibank Singapura ini.

Apa tantangan yang dihadapinya? “Tantangannya harus menjaga kualitas portofolio bank, di mana situasi makroekonomi saat ini sedang terjadi ketegangan perdagangan AS-Cina, depresiasi rupiah, fluktuasi harga minyak, dan kenaikan suku bunga, untuk mengidentifikasi portofolio yang terkena dampak dan menghasilkan mitigasi risiko,” Melisa memaparkan.

Hal-hal tersebut harus diperhatikan sehingga pihaknya siap dalam menghadapi berbagai tantangan. Caranya? Harus me-review portofolio; harus mengerti kalau memang industri A sedang tidak baik, pihaknya mengambil top layer-nya saja atau industri B sedang baik, maka pihaknya bisa masuk ke industri B sehingga terjadi suatu kolaborasi.

Untuk menghadapi berbagai tantangan, ia berupaya terus meningkatkan kompetensi.”Saya melakukan peningkatan keterampilan dan pengetahuan berkelanjutan dengan memperoleh kualifikasi profesional untuk mengikuti perkembangan kompetitif di sektor keuangan dan perbankan,” katanya.

Selain itu, ia juga mencari pengetahuan baru dengan melakukan sertifikasi publik dan pendidikan yang relevan. “Saya lanjut sekolah ambil MBA in Finance and Strategy. Lalu, Professional Certification Chartered Financial Analyst (CFA) Charterholder dan Financial Risk Manager (FRM) Charterholder,” kata peraih gelar MBA Finance and Strategy dari Nanyang Technological University, Singapura ini.

Bicara tentang gaya kepemimpinan, bagi Melisa, ada perbedaan antara zaman dulu dan sekarang. Mengenai leadership, pada zaman dulu orangnya harus punya karisma, pada zaman sekarang tidak. Alasannya, generasi milenial saat ini lebih suka pemimpin yang bisa diajak ngobrol, yang transparan, dan mau sharing.

Jadi, seorang leader itu harus bisa memotivasi. Karena, tidak cuma kerjanya harus a, b, c, tetapi juga harus bisa memotivasi orang yang kita mentori sehingga orang itu bisa lebih sukses daripada kita,” kata wanita yang pernah bekerja di JP Morgan Singapura ini.

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)