Strategi Digital, Tak Cuma Soal IT

Era digital telah dimulai. Perusahaan-perusahaan mulai berbenah, menyiapkan strategi digital agar pelanggan setianya tak digerogoti pesaing. Ribut-ribut taksi berbasis aplikasi dengan taksi konvensional adalah pelajaran berharga. Pelanggan makin cerdas. Loyalitas mereka pun kian tipis.

Akses informasi kini jauh lebih cepat dan borderless. Pelanggan memiliki banyak pilihan produk kesukaan lewat selancar di internet pada waktu yang bersamaan. Selanjutnya, pembeli biasanya langsung membagi pengalamannya menggunakan barang atau jasa di media sosial.

"Bagaimana perusahaan menyiapkan diri untuk menyikapi customer behaviour tersebut. Dengan membangun digital customer. Selanjutnya, perusahaan harus membangun customer experience mulai dari membuat web, mobile apps, atau media sosial," kata Managing Director Communication Media & Tech, Accenture Indonesia, Tjin Tak Wong.

tak cuma IT

Menurut dia, strategi digital yang dibangun terkait erat dengan arah perkembangan perusahaan di masa depan. Misalnya, mendekatkan diri ke konsumen bisa melalui media sosial. Setelah masuk, perusahaan juga harus sanggup merespon sharing pengalaman pelanggannya. Inilah pentingnya digital enterprise untuk mendukung digital consumer.

Jika strategi digital sudah berjalan, tantangan berikutnya sudah terpampang di hadapan, yakni perbaikan terus menerus. Pola pikir ini harus tertanam kuat di benak seluruh karyawan. Contohnya, perusahaan di sektor telekomunikasi harus memiliki alat untuk menganalisis banyak data yang dimiliki. Dengan begitu, mereka bisa menawarkan jasa sesuai kebutuhan pelanggan.

Meski begitu, Tjin Tak mengingatkan bahwa strategi digital tak melulu tentang kecanggihan teknologi. Perusahaan juga membutuhkan sumber daya manusia berkualitas. Selama ini, banyak perusahaan yang melewatkan faktor ini dan hanya memikirkan sisi teknologinya.

"Apalagi, sekarang orang mudah sekali memberi komentar negatif di media sosial. Kalau tidak disikapi dengan baik, itu bisa menjadi bumerang. Risikonya besar jika tidak di-managed dengan baik. Jadi, strategi digital ini lebih dari sekadar misalnya membuka website," katanya.

Fenomena disrupsi digital dalam bisnis sebenarnya sudah lama terjadi. Yang paling kentara adalah fenomena yang menimpa industri telekomunikasi. Perusahaan telko tak bisa lagi mengandalkan pendapatan dari voice dan SMS seiring munculnya OTT seperti Whatsapp, Line, dan lainnya yang mampu menggantikan fungsi voice dan SMS. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)