Telkom Indonesia: Raja Telko di ASEAN

 
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berhasil masuk dalam jajaran merek-merek dengan brand value tertinggi di kawasan ASEAN. Prestasi ini tercatat dalam laporan Brand Finance pada Maret 2016 -- Brand Finance adalah konsultan strategi dan independent branded business valuation terkemuka di dunia yang hadir di 20 negara dan bermarkas di London.

Muhammad Awaluddin, Direktur Enterprise dan Business Services Telkom Muhammad Awaluddin, Direktur Enterprise dan Business Services Telkom

Dalam laporan Brand Finance Telecoms 500 Indexs,  posisi Telkom ada di rangking 48, naik dua peringkat dari tahun sebelumnya. Ini juga mengukuhkan merek Telkom diatas merek Singtel dari Singapura yang berada di posisi 51, PLDT dari Filipina di posisi 64 dan TM Malaysia di posisi 85. Nilai merek Telkom disebut Brand Finance saat ini mencapai USD 2,62 miliar, dengan brand strengthmeningkat dari sebelumnya AA+ menjadi AAA- yang menunjukan Telkom berhasil mempertahankan pangsa pasarnya meski mengalami banyak tekanan.
 
Muhammad Awaluddin, Direktur Enterprise & Business Services Telkom mengatakan, diluar konteks  ranking Brand Value, Telkom memang menjaga nilai brand-nya. Kuncinya adalah dengan menjaga kinerja perusahaan dan reputasi perusahaan. “Bagaimana kita bisa menjaga nilai brand yang bagus, kalau company performance-nya jelek.  Dan kalau berbicara company performance, itu bisa divaluasi angka-angkanya semua karena terkait kinerja finansial dan kinerja operasional," ujar Awaluddin. "Dan sejauh ini di industrinya, Telkom memang paling bagus.”
 
Tahun ini bahkan Telkom berani mencanangkan double digit growth.  Tahun lalu diakui Awal, pertumbuhannya belum doubel digit, tapi masih menjadi pilihan favorit investor karena  Telkom terus memenuhi harapan pemegang saham. “Kami menjaga kinerja, maka impact ke brand value-nya pun bagus,” imbuhnya.
 
Ihwal company reputation, disampaikan Awal, ini ditunjang dengan penyelenggaraan program yang banyak mengangkat citra dan reputasi perusahaan seperti CSR, serta berbagai aspek yang bisa mengawal brand Telkom tetap bagus.  “Nilai tinggi brand Telkom seperti perhitungan Brand Finance yang mencapai USD 2,62 miliar dolar itu harus dijaga. Dan yang juga penting, bagaimana reputasi dan citra bisa terus bagus, kalau logo dan identitas korporat saja tidak kita jaga,” tuturnya.
 
Tantangan menjaga nilai merek itu tetap tinggi menurut Awal cukup berat. Ini terutama karena industri telko sangat dinamis serta pasar dan pelanggannya bergerak cepat. Karena itu, memang banyak hal yang harus disiapkan. Salah satu yang menjadi hot topic di Telkom adalah melakukan digital transformation. Ini bukan saja dilakukan Telkom saja ternyata, tapi juga oleh banyak perusahaan global lain terkait dengan digital bisnis. “Microsoft pun melakukan digital transformation. Digital transformation itu melingkupi tiga hal yaitu digital leadership, digital strategy dan digital culture. Ketiganya harus dilakukan secara komprehensif,” jelasnya.
 
Digital transformation yang dilakukan Telkom secara komprehensif itu, terutama secara grup, menurut Awal upayanya sangat besar. Dan ini terutama dalam hal digital culture. Mengingat perusahaan telko ini sebelumnya dinilai sebagai perusahaan telko tradisional, yang fokusnya pada konektifitas dan infrastruktur. “Orang-orang Telkom masih dinilai sebagai orang-orang infrastruktur. Dan itu tidak salah, karena kami memang masih ‘bermain’ di area itu. Sedangkan sekarang eranya sudah berubah, infrastrukturnya digital, ini menghadapi konsekuensi pengelolaan yang berbeda,” ujar Awal.  Selain itu, bisnisnya juga digital, inovasi-inovasi pun sudah berada diarea digital. Digital transformation kalau diurut persoalan pertama bukan di teknologi tapi di people.  “People berubah berarti konsekuensinya kultur juga berubah ke arah digital,” tambahnya.
 
Bicara soal people, tantangan Telkom adalah bagaimana membuat peningkatan produktifitas people kecompany performance agar terjadi rejuvinasi people itu sendiri. “Telkom saat ini sedang melakukan rekrutmen besar-besaran Gen Y, karena mereka ini dekat dengan dunia digital. Mengutip apa yang disampaikan Pak Alex J. Sinaga, Dirut Telkom, yang kami persiapkan saat ini adalah bisnis Telkom di masa depan. Anak-anak ini disiapkan untuk digital transformation itu,” jelasnya. Karena bisnis digital itu memang berbeda: life cycle sangat cepat, banyak main di aplikasi dan konten, tipikal bisnisnya berbeda, tidak seperti sekarang yang dilakukan Telkom yang lebih banyak di konektifitas, pipa dan jaringan.
 
MuhammadAwaluddin - 2“Kami mendorong culture activation ini, yang bisa membantu kami bersiap ke digital bisnis itu,” tuturnya. Target dari segala upaya itu sudah dituangkan dalam strategic scenario Telkom, pada 2020 akan masuk dalam Top 10 Telco Asia Pasific. Di Asean sendiri Telkom sudah nomor dua setelah SingTel. “Terakhir ketika kami membuat Stragetic Plan Telkom 2020 pada tahun lalu, kalau tak salah posisi Telkom masih 12 atau 13 besar. Dan sebenarnya, dengan market cap saat ini Telkom mungkin sudah masuk posisi 8 atau 7, jadi sudah 10 besar. Arahan Pemerintah melalui Kementerian BUMN kami dapat mandat untuk bisa masuk Fortune 500 Companies,” tuturnya.  Sebagai BUMN, Telkom punya misi yang terus diperbaharui bukan saja sekadar membawa kepentingan untuk menjadi agent of development dan flag carrier bangsa.
 
Di sisi pelanggan, Awal juga memahami pelanggan mereka sangat dinamis. "Karena itu, Telkom harus bisa menyediakan produk yang sophisticated tapi juga affordable,” ujarnya. Sebagai BUMN denganmultistakeholders, tentu ini bukan hal mudah, tapi bukan berarti tidak bisa tercapai.
 
Berbicara portofolio produk, saat ini fokusnya memang masih tetap di broadband. Telkom akan berada pada berbagai hal yang berkaitan dengan broadband product dan services portofolio. Dan sebagai konglomerasi dengan bidang-bidang bisnis yang digeluti saling menunjang,  fokus layanan Telkom tetap pada TIMES (Telecommunication, Information, Media, Edutainment dan Service). Dan untuk mencapai itu, kuncinya di inovasi, business model, dan pertumbuhannya juga harus dijaga. “Telkom punya Telkomsel dengan 154 juta pelanggan, apa yang bisa dikapitalisasi dengan subscriber sebanyak itu. Kemudian juga ada Indi Home yang jumlah pelanggannya 1,5 juta,” tegasnya. Di enterprise, menurut Awal, pihaknya bahkan harus memikirkan bagaimana dapat memberikan jasa customize pada tiap pelanggan yang lebih ke B2B. 
 
Jika semua semua tantangan dan rencana Telkom di atasdapat dijawab dan diwujudkan dengan gemilang, pada 2020 Telkom Indonesia tentu betul akan masuk dideretan papan atas Top 10 Telco Asia Pacific.
 
 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)