Adaptasi Bisnis Hotel dan Tempat Rekreasi di Masa Pandemi

Bisa dikatakan perhotelan adalah sektor industri yang paling awal terdampak oleh pandemi COVID-19 dan paling lambat recovery. Okupansi hotel mengalami penurunan drastis dan terpaksa membuat pengelola harus menutup sementara operasional hotelnya.

Namun, The Sunan Hotel mengambil langkah berbeda. Hotel bintang 4 berkapasitas kurang lebih 200 kamar tersebut tetap beroperasi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, pengecekan suhu tubuh, pengisian data diri, dan melengkapi fasilitas kesehatan lainnya. Adapun fasilitas hotel seperti kolam renang dan gym rutin dilakukan desinfektasi setiap hari.

Berkat keseriusan mengadaptasi protokol kesehatan baru, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memberikan sertifikasi pada The Sunan Hotel sebagai hotel yang menerapkan protokol kesehatan.

“Sertifikasi ini sebagi bukti bahwa kami melakukan memberi rasa aman dan nyaman bahwa hotel kita menerapkan standar kesehatan yg baik,” jelas Direktur The Sunan Hotel, Sona Maesana dalam talkshow "Protokol Kesehatan di Hotel dan Tempat Wisata”, Selasa (20/10/2020).

Selama masa pandemi, The Sunan Hotel menggenjot aktivitas digital seperti event dan workshop dengan tujuan untuk menjaga eksistensi hotel. Kemudian meski mengalami penurunan di okupansi rate dan penggunaan fasilitas untuk acara-acara lainnya, permintaan untuk pesta pernikahan masih ada. Sehingga untuk menyiasatinya, The Sunan Hotel menyediakan terobosan baru yaitu virtual wedding.

Sementara itu di acara yang sama, Owner PT Arthaguna Ciptasarana, Safitri Siswono menjelaskan pandemi ini memicu perusahaannya untuk berbenah secara internal maupun eksternal. Perusahaan sektor rekreasi yang mengelola 8 tempat wisata dan 4 hotel ini terus mencari cara untuk menyesuaikan langkah perusahaan dalam kondisi sekarang.

“Tempat rekreasi kami semuanya outdoor. Sebagian besar ada fasilitas outbound, restoran, kafe, dan lain-lain. Kami melakukan desinfektan seluruh fasilitas. Di dalam tempat rekreasi juga kami usahakan membatasi jumlah pengunjung,” jelas Safitri.

Rucita Permatasari, CEO Amithya Hotel and Resort turut mengaku hotel yang dikelolanya mengalami penurunan revenue. Ia sudah merasakan adanya pembatalan wisatawan yang datang ke salah satu hotelnya di Bali. Lalu disusul dengan penurunan revenue yang mulai dirasakan sejak April.

Kendati demikian, Rucita segera memutar otak untuk meningkatkan kembali revenue. Salah satu caranya adalah menggunakan teknologi.

“Kami tidak memungkiri kedekatan kami dengan customer hanya melalui teknologi. Kami menggunakan media sosial secara kreatif untuk meningkatkan minat pariwisata. Ini adalah kesempatan kita memberikan manajemen perhotelan Indonesia yang lebih baik daripada yang lain,” jelasnya. Rucita mengklaim, perusahaannya juga sedang dalam proses menjalin kolaborasi pariwisata dengan beberapa negara diantaranya Jepang, UK, dan Nepal.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)